Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dipenuhi dengan sukacita dan penyambutan yang meriah oleh para santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q. Acara yang dilaksanakan pada hari Kamis malam Jum’at, 2 Sya’ban 1447/22 Januari 2026 ini dimulai dengan pembacaan maulid diba’iyah oleh grup hadroh Tsamrotul Muna, dilanjutkan mauidhoh hasanah sebagai acara inti, dan doa sebagai penutup acara yang dipimpin oleh Bapak M. Ikhsanuddin, M.Si.
Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 1447 Hijriyah ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pak Ikhsan selaku pembicara memberikan perspektif baru dalam memaknai momentum bersejarah bagi umat Islam. Santri tidak hanya fokus mendengarkan isi kajian yang disampaikan, namun juga diajak menyelami dahsyatnya mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi.
Dakwah Secara Konsisten
Pak Ikhsan menyampaikan beberapa poin penting sebelum Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj dan diberi mukjizat aqliyah dan maknawiyah. Salah satu perjuangan yang beliau lakukan adalah berdakwah secara konsisten. Dahulu ketika Nabi Muhammad SAW masih belum memiliki pengikut, beliau rajin dan konsisten dalam melaksanakan misi dakwahnya. Bahkan ada sebuah riwayat yang menyatakan, saat di Madinah sedang terjadi peperangan, semua sahabat ingin ikut berperang, namun kemudian turun wahyu yang menyatakan harus ada yang menetap untuk menimba ilmu bersama Nabi Muhammad SAW. Menunjukkan bahwa tugas utama seorang Rasul adalah Risalatul Wahyu (menyampaikan wahyu dan ilmu).
Hal ini juga dapat menjadi teladan sekaligus cerminan diri bagi seorang santri. Ketika esok telah tamat dan mengabdi ke masyarakat, seorang santri harus konsisten dan bersemangat dalam menjalankan misi dakwahnya, yaitu menyampaikan ilmu. Pak Ikhsan juga berpesan:
“Bahkan ketika tidak ada seorangpun yang mau dan turut mengaji bersama kita, maka janganlah engkau berputus asa. Santri harus menjadi penggerak masyarakatnya agar menjadi Mujtama Al Mutamaddin, yakni masyarakat yang berperadaban dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW”.
Lika-Liku Masa Dakwah Nabi
Lebih lanjut, Pak Ikhsan menjelaskan masa awal ketika Nabi Muhammad SAW berdakwah. Masa-masa tersebut menjadi waktu tersulit bagi Nabi, beliau berdakwah kepada keluarganya namun malah ditolak dan dimarahi oleh pamannya yang bernama Abu Lahab. Hingga akhirnya turun surah Al Lahab sebagai ancaman bagi Abu Lahab beserta istrinya yang suka mengganggu dan menghalangi dakwah yang dilakukan oleh nabi. Tidak hanya keluarga saja yang menentang dakwah beliau, suku-suku Arab yang berjumlah 360 pun turut marah kepada beliau. Mereka meminta kepada Abu Thalib (paman Nabi) untuk menghentikan dakwah keponakannya itu. Beberapa dari mereka menawarkan harta serta para wanita agar Nabi segera menghentikan aktivitas dakwahnya. Nabi tidak bergemih sedikitpun, beliau tetap teguh dengan pendiriannya dan tidak mau menyerah atas dakwahnya. Paman beliau, Abu Thalib juga menjadi garda terdepan yang melindungi Nabi dari orang-orang yang menggagalkan dakwah keponakannya tersebut.
Karena keteguhan pendapatnya tersebut, akhirnya Bani Hasyim diembargo (dikucilkan) selama 10 tahun. Setiap dari suku di Arab tidak boleh ada yang bertransaksi, menikah, dan berbicara dengan Bani Hasyim. Tidak hanya itu, tahun tersebut menjadi tahun duka cita mendalam bagi Nabi. Beliau kehilangan permata hatinya, istri tercintanya, yakni Sayyidatina Khadijah. Seorang istri sekaligus perempuan yang mahir dalam berbisnis dan merupakan ahli kitab yang selalu mencatat tanda-tanda kenabian dari Nabi akhir zaman. Tidak hanya itu, bahkan beliau telah menyadari bahwa ada hal yang berbeda dari Nabi Muhammad SAW sejak awal pertemuan mereka. Beliau menyadari bahwa tanda-tanda kenabian yang ada dalam diri Nabi sudah cukup memperkuat bahwa beliau adalah Nabi terakhir yang diutus Allah SWT dan telah termaktub dalam kitab terdahulu yakni Taurat hingga Injil.
Baca juga: Isra’ Mi’raj: Perjalanan Spiritual Menuju Sidratul Muntaha
Pak Ikhsan juga menambahkan bahwa saat pertemuan Siti Khadijah dengan Nabi Muhammad SAW terdapat satu tanda yang belum terlaksana pada saat itu. Nabi belum pernah pergi dan melewati Bukit Tursina. Tanpa berpikir panjang, Siti Khadijah berupaya membawa Nabi Muhammad SAW ke Bukit Tursina. Siti Khadijah tidak berangkat berdua dengan Nabi, beliau mengutus salah satu ajudannya bernama Maysaroh untuk pergi melaksanakan misi berdagang atau bisnis sekaligus mencatat segala macam perilaku dan apa saja yang dilakukan oleh Nabi termasuk saat mereka melewati Bukit Tursina.
Sungguh hal yang tak disangka, setelah Nabi selesai menunaikan misi bisnis, Maysaroh memberikan seluruh informasi kepada Siti Khadijah. Beliau yakin bahwa Nabi memang benar-benar orang yang terpilih menjadi utusan terakhir Allah SWT. Tak berselang lama pula, Siti Khadijah kemudian melayangkan lamaran kepada Nabi lewat pamannya Nabi dan kemudian beliau berdua menikah.
Selama menikah, Siti Khadijah tidak berhenti memperhatikan Nabi dan tentunya menunggu beliau hingga mendapatkan wahyu pertama dari ilahi. Sampai pada suatu ketika, Nabi izin berkhalwat di Gua Hira. Siti khadijah yang sadar bahwa hal tersebut merupakan tanda-tanda turunnya wahyu, kemudian beliau langsung mengiyakan. Dua tahun telah berlalu, namun hilal adanya wahyu belum juga nampak ke permukaan. Akhirnya pada tahun ketiga setelah Nabi berkhalwat di Gua Hira, beliau mendapatkan amanah berupa wahyu pertama surah Al Alaq ayat 1-5.
Saat pulang dan menemui istrinya, Nabi sudah dalam kondisi menggigil kedinginan. Beliau baru saja mendapatkan wahyu lewat perantara malaikat Jibril. Tak berselang lama dari kejadian tersebut, Siti Khadijah segera menemui salah satu pendeta bernama Waraqah bin Naufal, beliau memastikan tanda-tanda kenabian yang ada pada Rasulullah, dan jawaban yang muncul sungguh mengejutkan. Ternyata, suaminya yang sudah beliau duga menjadi utusan Allah SWT merupakan Nabi akhir zaman yang nyata dalam alkitab yang beliau pelajari selama ini.
Setelah dari kejadian tersebut, Siti Khadijah bergegas menemui Rasulullah. Beliau menjadi orang yang benar-benar pertama kali memeluk Islam dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Siti Khadijah adalah wanita pertama yang masuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam), bahkan menyumbangkan seluruh hartanya untuk dakwah baginda Rasulullah SAW. Namun, setelah tanda-tanda kenabian sudah lengkap, Khadijah mulai sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal. Tak berselang lama, paman Nabi bernama Abu Thalib yang selalu menjadi garda terdepan melindungi Rasul juga wafat dan meninggalkan duka mendalam bagi Rasulullah SAW.
Akhirnya untuk menghapus rasa sedih dan duka yang teramat mendalam, pada tahun tersebut Rasulullah pergi berdakwah ke Thaif. Beliau berharap agar bisa diterima dengan baik, karena di daerah tersebut terdapat banyak saudaranya. Namun hal buruk menimpa Rasulullah. Beliau dihina, dicaci, dan dilempari kotoran di sekujur tubuhnya. Malaikat Jabal Thaif tidak terima, kemudian ia berniat melemparkan gunung kepada masyarakat Thaif. Nabi melarangnya, beliau hanya berdoa dan bersabar atas ujian yang menimpanya.
Baca Juga: TOP Secret: Rundown Wisata Healing – Isra’ Mi’raj
Setelah dari Thaif, Rasulullah kemudian melanjutkan perjalanannya dan berhenti di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah. Beliau bersandar di pagar-pagar kebun tersebut untuk beristirahat. Melihat ada orang yang kelelahan Utbah dan Syaibah tak tinggal diam. Mereka mengutus budaknya bernama Addas (seseorang keturunan Irak yang menyamar menjadi budak penjaga kebun anggur dengan tujuan dapat bertemu dengan Nabi akhir zaman). Addas kemudian memberikan setundun anggur kepada Nabi. Ketika hendak memakan anggur tersebut, Nabi membaca basmalah di hadapan Addas. Sontak Addas pun terkejut karena yang bisa membaca kalimat basmalah hanyalah Nabi akhir zaman dan kaum Nabi Nuh. Setelah melihat tanda tanda kenabian pada diri Rasulullah, Addas pun langsung bersaksi serta mengakui Rasululah sebagai Nabi akhir zaman dan masuk Islam.
Nabi kemudian kembali ke Makkah dengan diselimuti kesedihan yang belum juga usai. Pada saat setelah dilanda ujian bertubi-tubi tersebut, barulah Nabi diutus diberikan mandat oleh Allah SWT untuk menjalankan Isra’ Mi’raj bersama malaikat jibril. Sebuah perjalanan penuh makna, yang memberikan banyak hikmah dan pesan bagi seluruh umat Islam. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut terdapat kejadian pembelahan dada Rasulullah, tujuannya untuk membersihkan segala macam kotoran hati yang menempel di tubuh beliau.
Proses pembersihan hati ini yang kemudian melahirkan hikmah bagi umat muslim. Terdapat tiga proses pembersihan hati yang dikenal dengan takholli, tahalli, dan tajalli.
- Takholli adalah proses pembersihan hati dari sifat sifat tercela.
- Tahalli adalah proses pengisian hati dengan sifat sifat terpuji.
- Tajalli adalah representasi dari takholli dan tahalli yang tercermin dalam perilaku kehidupan.
Perjalanan Singkat yang Sebenarnya Panjang
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, setidaknya Nabi dibawa oleh malaikat Jibril ke berbagai tempat. Nabi mampir dan menunaikan sholat dua rakaat di beberapa tempat diantaranya, ke Madinah kemudian mampir ke Syajaratul Musa, kemudian dibawa lagi ke Bukit Tursina, ke Baitul Lahm, dan kemudian ke Masjidil Aqsa. Saat mampir ke Syajaratul Musa (Pohon Nabi Musa), Nabi Muhammad SAW kemudian dipertemukan dengan Nabi Musa dan diberitahu malaikat Jibril tentang asal-usul adanya pohon tersebut. Pohon tersebut adalah tempat Nabi Musa bersandar dan beristirahat setelah melarikan diri dari Fir’aun. Nabi Musa yang dalam keadaan lemah dan tidak ada yang dapat menolongnya kemudian berdo’a :
“رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ”
Setelah berdo’a, Nabi Musa melihat dua gadis yang sedang kesusahan mengambil air, kemudian Nabi Musa membantu kedua gadis tersebut, yang ternyata adalah putri Nabi Syu’aib. Nabi Syu’aib kemudian memberikan pekerjaan kepada Nabi Musa dan menawarkan untuk menikahi salah satu putrinya. Begitu dahsyatnya manfaat dari do’a Nabi Musa tersebut yang juga sudah diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al Qasas ayat 24, masyaAllah…
Perjalanan Isra Mi’raj Nabi adalah untuk menghibur Nabi di masa sulit, masa dimana Nabi mengalami berbagai hinaan, cacian, siksaan dari kaumnya serta kehilangan istri dan paman tercintanya dan untuk menunjukkan tanda kebesaran Allah SWT. Ada banyak ibrah yang dapat kita ambil, diantaranya adalah di setiap kesulitan yang kita alami, Allah tidak pernah meninggalkan kita, Allah selalu bersama kita, dan Allah pasti sedang menyiapkan hadiah yang indah untuk kita. Jadi, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Acara peringatan Isra’ Mi’raj Komplek Q tahun ini berjalan dengan lancar dan tentunya penuh dengan kekhidmahan di setiap rangkaian acara. Terakhir, acara ini ditutup dengan pembacaan doa oleh bapak Ikhsanuddin, dengan harapan semoga para santri juga turut merasakan keberkahan dari peringatan peristiwa bersejarah baginda Nabi Muhammad SAW.
Penulis: Nilnarohmah & Wulan Aprilia
Editor: Zia Zahra Hudaya
Foto: Arsip Media Komplek Q



