Nahdlatul Ulama’ atau yang biasa dikenal dengan NU merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia. Data Kemendagri pada 2019 menyebutkan bahwa keseluruhan anggota NU berjumlah 91,2 juta orang (CNBC Indonesia, 2024). Hal ini semakin memperkuat peran dan kontribusi NU terhadap pelayanan sosial bagi masyarakat. NU hadir sebagai penguat dan penjaga ajaran Islam nusantara yang telah berkembang dan disebarkan para ulama’ zaman dahulu.
Kelahiran NU diprakarsai oleh 3 ulama’ kharismatik, yakni KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri dengan arahan dan bimbingan dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Berdiri di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1441 H, organisasi ini turut serta membawa perkembangan dalam mempertahankan eksistensi keislaman nusantara. Kelahiran Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ adalah sebuah kesepakatan dalam rangka mewadahi ajaran islam yang sudah ada di nusantara secara lebih sistematis sekaligus mengantisipasi perkembangan zaman yang berseberangan dengan nilai keislaman yang telah dikembangkan oleh ulama’ salaf.
Gagasan mendirikan organisasi ini muncul sejak pengaruh pembaharuan Muhammad bin Abdul Wahab mulai masuk ke Indonesia, pemimpin wahabi ini mulai melakukan pembersihan dalam kebiasaan praktek beragama sesuai dengan ajarannya. Oleh karena itu, NU berdiri bukan semata-mata karena ambisi pribadi, melainkan sebagai upaya mempertahankan tradisi yang tidak bertentangan dengan syari’at islam. Selain itu, kelahirannya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu motif agama, menumbuhkan nasionalisme, dan upaya mempertahankan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Baca Juga: KH. Hasyim Asy’ari, Sang Ulama Pemikir dan Teladan Umat
Secara utuh, Nahdlatul Ulama’ menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah atau yang biasa disingkat ASWAJA. Golongan ini muncul sebagai respon atas pertikaian yang disebabkan oleh kelompok-kelompok ekstrem usai Rasulullah SAW wafat. Gejolak dan pertikaian sudah mulai muncul mulai kepemimpinan Sahabat Abu Bakar, kemudian pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, Sahabat Utsman bin Affan, dan semakin memanas sejak pertikaian politik yang terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada masa tersebut umat islam terpecah menjadi 7 golongan, diantaranya Khawarij, Murji’ah, Qodariyah, Jabariyah, Syi’ah, dan Mu’tazilah, dan Ahlussunnah Wal Jama’ah atau yang biasa disebut golongan Sunni.
Dalam beragama, ASWAJA An-Nahdliyah menganut beberapa pola pemikiran, diantaranya tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleransi), dan ta’adul (adil). Sedangkan dalam berpemahaman atau beraliran, golongan ini menganut beberapa prinsip yang cukup konsisten. Misalnya dalam bidang aqidah, kaum Nahdliyin lebih condong kepada Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (Asy’ariyah) dan Abu Mansur Al-Maturidi (Maturidiyah).
Selanjutnya pada bidang fikih NU mengikuti 4 mazhab, diantaranya Mazhab Syafi’i milik Imam Syafi’i, Mazhab Hanafi milik Imam Hanafi, Mazhab Maliki dari Imam Malik, dan Mazhab Hambali dari Imam Hambal. Dalam berfikih sendiri, penganut ASWAJA An Nahdliyah dapat mengikuti salah satu dari 4 mazhab tersebut walaupun pada kenyataannya mayoritas pengikut NU menganut mazhab Syafi’iyah. Selain bidang aqidah dan fikih, ASWAJA An-Nahdliyah juga mengikuti beberapa paham tasawuf dari dua imam, yakni Imam Al Junaidi Al Baghdadi dan Imam Al Ghazali.
Prinsip-prinsip yang telah dijelaskan tersebut kemudian membentuk sebuah keseimbangan dalam beragama dan beramaliyah Islam seutuhnya. Nahdlatul Ulama’ hadir untuk mewadahi pemahaman tentang aliran atau golongan Sunni. Tujuannya agar umat tetap berpegang teguh pada prinsip ulama’ terdahulu. Selain itu, pemilihan nama organisasi Nahdlatul Ulama’ (kebangkitan ulama) sendiri juga menggambarkan paham Ahlussunnah Wal jama’ah yang mengharuskan penghormatan dan otoritas terhadap ulama’ itu sendiri.
Dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya NU ini, banyak elemen yang harus terus bekerjasama dan berkontribusi untuk meneruskan perjuangan ulama’ terdahulu dan memperkuat ukhuwah islamiyah. Karena organisasi ini juga tidak berdiri secara tiba-tiba, banyak perjuangan dan pengorbanan yang telah dilalui sebelum NU akhirnya berdiri dan ada hingga saat ini.
Penulis: Nilnarohmah & Wulan Aprilia
Pictured: Logo Nahdlatul Ulama on NU Online



