Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang memiliki banyak keutamaan. Bulan ini sering sekali disebut sebagai “Bulan Nabi” karena perhatian nabi yang cukup intens terhadap bulan tersebut. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus berupa ibadah yang lebih sering pada bulan Sya’ban (Yasyfa, 2025).
Rasulullah SAW bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i)
Seperti yang kita ketahui, bulan Sya’ban memiliki malam yang istimewa dan merupakan momentum terbaik untuk memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah SWT. Malam ini dinamakan malam Nisfu Sya’ban, malam pertengahan bulan Sya’ban dimana malaikat mulai menyetorkan amal ibadah manusia kehadapan Allah SWT. Selain itu, pada malam ini takdir untuk setahun kedepan juga akan ditetapkan.
Baca Juga: Bulan Sya’ban: Apa Peristiwa Yang Terjadi?
Mengutip dari NU Online, Al-Imam Al-Qasthalani (wafat 923 H) menjelaskan awal mula adanya peringatan malam Nisfu Sya’ban dalam kitabnya Al-Mawahib Al-Laduniyah sebagai berikut:
وقد كان التابعون من أهل الشام، كخالد بن معدان، ومكحول يجتهدون ليلة النصف من شعبان فى العبادة، وعنهم أخذ الناس تعظيمها، ويقال: إنه بلغهم فى ذلك آثار إسرائيلية، فلما اشتهر ذلك عنهم اختلف الناس، فمنهم من قبله منهم، وقد أنكر ذلك أكثر العلماء من أهل الحجاز، منهم عطاء، وابن أبى مليكة، ونقله عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن فقهاء أهل المدينة، وهو قول أصحاب مالك وغيرهم، وقالوا: ذلك كله بدعة
Artinya, “Tabi’in tanah Syam seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul, mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam Nisfu Sya’ban. Nah dari mereka inilah orang-orang kemudian ikut mengagungkan malam Nisfu Sya’ban. Dikatakan, bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat (kabar atau cerita yang bersumber dari ahli kitab, Yahudi dan Nasrani yang telah masuk Islam) tentang hal tersebut. Kemudian ketika perayaan malam Nisfu Sya’ban viral, orang-orang berbeda pandangan dalam menanggapinya. Sebagian menerima, dan sebagian lain mengingkarinya. Mereka yang mengingkari adalah mayoritas ulama Hijaz, termasuk dari mereka Atha’ dan Ibnu Abi Malikah. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari kalangan fuqaha’ Madinah menukil pendapat bahwa perayaan malam Nisfu Sya’ban seluruhnya adalah bid’ah. Ini juga merupakan pendapat Mazhab Maliki dan ulama selainnya.“
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa malam Nisfu Sya’ban mulai diperingati oleh segolongan ulama’ Tabi’in di daerah Syam. Pada dasarnya peringatan ini mengikuti perbuatan segolongan ulama’ Tabi’in negeri Syam atau kini dikenal dengan negara Suriah, yang dapat diartikan bahwa pada zaman Rasulullah SAW dan Sahabat belum pernah ada peringatan seperti ini.
Namun, dalam pengaplikasiannya sendiri ulama’ Syam juga memiliki dua pendapat yang berbeda mengenai peringatan malam Nisfu Sya’ban ini. Ada yang mengatakan peringatan ini boleh dilaksanakan secara bersama-sama atau berjamaah, ada pula yang mengatakan amaliyah yang dilakukan pada malam ini makruh untuk dilakukan secara bersamaan atau berjamaah. Walaupun demikian, melakukan ibadah di bulan Sya’ban adalah perbuatan baik yang dapat melatih kita sebelum beribadah lebih giat di bulan puasa (Ramadhan). Karena segala sesuatu yg diniatkan karena Allah SWT pasti akan mendapatkan pahala.
Wallahu a’lam bishawab…
Penulis: Nilnarohmah & Wulan Aprilia
Pictured by Anker Lefstad on Unsplash



