Tak terasa di tahun 1447 H ini kita telah melewati bulan Rajab (bulannya Allah), sampai saat ini kita berada di bulan sya’ban bulannya Rasulullah SAW. Apakah yang dimaksud dengan bulannya Rasulullah SAW itu? Mari kita simak penjelasan berikut. Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam karena peristiwa peristiwa

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang memiliki banyak keutamaan. Bulan ini sering sekali disebut sebagai “Bulan Nabi” karena perhatian nabi yang cukup intens terhadap bulan tersebut. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus berupa ibadah yang lebih sering pada bulan Sya’ban (Yasyfa, 2025).  Rasulullah SAW bersabda: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ

Bulan Sya’ban yang dalam bahasa jawa dikenal sebagai bulan Ruwah yang berasal dari kata ‘arwah’ yang mengacu pada roh atau jiwa yang telah meninggal. Menurut budayawan, Raden Tumenggung Tondonagoro, ‘ruwah’ berasal dari ungkapan ‘meruhi arwah’ yang berarti berziarah atau mengunjungi makam leluhur yang telah berpulang bertujuan untuk mengirim doa. Menurut

“Sesungguhnya Allah SWT memperhatikan pada malam nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majjah) Tidak terasa satu tahun telah terlewati sejak malam nisfu Sya’ban 1444 H lalu. Malam nisfu Sya’ban sendiri merupakan malam istimewa penuh berkah dan kemuliaan