Dalam rangka memperdalam pemahaman keislaman yang damai, santri baru OSPEP 2025 mengikuti Dialog Aswaja pada Sabtu (09/08/2025) pukul 19.00–20.00 WIB. Bersama dengan Kholisotun Niswah sebagai moderator dan narasumber acara malam ini adalah Dr. Laelatul Badriah, S.Pd.I., M.Pd., beliau membawakan tema “Santri dan Toleransi”, Beliau menegaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama kedamaian.
Pengertian Aswaja
Ibu Laelatul menjelaskan arti Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Kata “Ahlun” berarti keluarga, golongan, atau pengikut. Dalam konteks ini, Aswaja merujuk pada pengikut Sunnah Nabi dan para sahabat. “Sunnah” ialah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi. “Jamaah” berarti sekelompok yang mengikuti jalan Nabi. Jadi, Aswaja adalah umat Nabi Muhammad SAW yang mengikuti ajaran beliau dan menjadi bagian dari golongan yang selamat.
K.H. Hasyim Asy’ari menggambarkan Aswaja versi Nahdlatul Ulama. Secara teologis mengikuti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Secara fikih mengikuti salah satu dari empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hambali. Dalam tasawuf mengikuti Imam Ghazali, Imam Junaid Al-Baghdadi, atau Imam Hasan Asyadzili.
Dalam nafas An-Nahdliyah, Aswaja selaras dengan Pancasila, berpijak pada tanah air, dan berteduh di bawah rahmat Allah. Paham ini menolak sikap mudah membid’ahkan, memusyrikkan, atau mengkafirkan orang lain. Ada empat prinsip utama:
-
Tawasuth: Jalan tengah, menghindari sikap berlebih atau meremehkan.
-
Tawazun: Seimbang antara akal dan wahyu.
-
I’tidal: Menegakkan keadilan dengan lurus dan jujur.
-
Tasamuh: Menumbuhkan toleransi dan menghormati perbedaan.
Prinsip-prinsip Aswaja
Narasumber menjelaskan prinsip Aswaja berpadu indah dengan Pancasila. I’tidal dan Tawazun menjadi benteng akhlak, menjaga salat lima waktu, dan membentuk budi pekerti. Tawasuth dan Tasamuh mendorong kepentingan bersama serta toleransi.
Tawazun hadir dalam musyawarah, baik di keluarga maupun organisasi. I’tidal dan Tawazun juga tampak pada kepedulian terhadap fakir miskin dan pemberdayaan ekonomi umat. Santri adalah agen moral, belajar di pesantren, mengasah hati, dan pulang menjadi teladan.
Beliau mengingatkan pentingnya keseimbangan keterlibatan laki-laki dan perempuan minimal 40:60. Jika perempuan kurang terlibat, perlu diberikan peran, kesempatan, dan ruang yang lebih besar. Hal ini agar kebijakan mewakili seluruh suara umat.
Aswaja Sebagai Bekal Hidup Santri
Memahami Aswaja adalah bekal penting bagi santri. Mereka diajarkan teguh dalam akidah namun tetap menghargai perbedaan. Islam adalah agama damai, membawa pesan rahmatan lil ‘alamin. Mbah Hasyim Asy’ari menegaskan pentingnya persatuan, toleransi, dan ukhuwah. Dialog kali ini menegaskan bahwa santri dan toleransi bagaikan dua sisi cermin. Santri menghormati keyakinan orang lain tanpa mengakui kebenaran teologisnya. Prinsip ini hadir dalam akidah, syariah, dan tasawuf. Dakwah dilakukan secara kontekstual, bukan hanya tekstual.
Santri menghargai perbedaan adat, menjaga lisan dari kebencian, dan menolong siapa saja. Mereka bermusyawarah untuk menyatukan perbedaan lewat dialog. Amaliah Aswaja seperti tawasul, ziarah kubur, dan hadiah bacaan Al-Quran menjadi sarana mempererat persaudaraan. Toleransi bukanlah mencampuradukkan akidah, tetapi menghormati perbedaan. Santri adalah pewaris para nabi, memuliakan manusia, dan merawat kerukunan di bumi.
Memahami Aswaja menjadi bekal penting bagi santri. Diajarkan untuk teguh dalam akidah, namun tetap lapang dalam menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang beragam. Sebab Islam adalah agama damai, membawa pesan rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana dawuh Mbah Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi yang menggarisbawahi nilai luhur persatuan, toleransi, dan ukhuwah.
Redaktur: Nisfatul Laila
Editor: Fariha Fauziah
Arsip: Media Komplek Q



