— Krapyak, pagi hari yang cerah menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang dan penuh makna. Pada tanggal yang cantik, Ahad 25 Mei 2025 Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q menggelar acara Wisuda Madrasah Salafiyah 3 yang ke-25. Tak hanya wisuda kelulusan santri madrasah diniyah, tetapi diadakan juga khataman nadhom Alfiyah Ibnu Malik dan nadhom Imrithi. Bertempat di halaman Komplek Q serta live streaming channel Youtube Al-Munawwir Komplek Q, disaksikan dengan penuh haru dan bangga oleh para asatidz-asatidzah, wali santri, dan seluruh santri Komplek Q.
Acara wisuda Masaga kali berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Khataman Alfiyah angkatan pertama dan khataman Imrithi angkatan kedua menjadi tonggak baru sebuah momen bersejarah bagi Madrasah Salafiyah 3. Acara ini menjadi simbol keberhasilan sekaligus awal tanggung jawab besar bagi para santri. Mereka tidak hanya menuntaskan bait demi bait dari dua kitab rujukan ilmu nahwu ini, namun juga membuktikan bahwa tradisi keilmuan klasik tetap hidup dan berkembang di tengah arus zaman yang terus berubah. Tiga agenda besar dalam satu hari yang sarat makna dan keberkahan.

Acara dimulai pukul 06.30 WIB dengan sesi pra-acara yang diisi oleh grup hadroh Tsamrotul Muna, kemudian dilanjutkan kirab wisudawati yang membawa suasana khidmat dan sakral. Tepat pukul 07.15 acara dibuka oleh Noor Fadzilah dan Hana Ulayya Megarani sebagai master of ceremony, yang mengantarkan hadirin menuju serangkaian prosesi dengan suasana yang tertib dan khusyuk.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sholawat nabi oleh Hibatul Wafiroh menjadi pembuka yang menyejukkan hati, dilanjutkan dengan tahlil dan doa yang dipimpin oleh ustadz Dr. Moh. Toifur, M.Si. Dalam harmoni suara yang bergema, acara selanjutnya para wisudawati melantunkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Ya Lal Wathon dan mars Masaga sebagai simbol nasionalisme, spiritualitas, dan loyalitas mereka terhadap lembaga ilmu yang telah membina.
Pada tahun ini, Madrasah Salafiyah 3 mewisuda 29 santriwati yang telah menuntaskan pembelajaran beserta tugas akhirnya di Masaga. Dalam prosesi wisudanya, pengalungan samir dan penyerahan ijazah oleh KH. Muhammad Fairuz Warson dan Nyai Hj. Ati Lutfia Baiti serta pembaiatan wisudawati oleh KH. M. Ikhsanuddin, M.S.I.

Usai prosesi wisuda, acara dilanjutkan dengan pembacaan nadhom Alfiyah Ibnu Malik dan nadhom Imrithi oleh para wisudawati yang telah mengkhatamkan nadhom tersebut. Demo Alfiyah dan Imrithi diuji oleh bapak Agus Najib, S.Ag. selaku kepala Madrasah Salafiyah 3 serta disaksikan oleh para asatidz-asatidzah, wali santri, dan seluruh hadirin. Sistem demo nadhom ini yaitu akan dilontarkan sebuah pertanyaan mengenai ilmu nahwu dalam nadhom Alfiyah dan Imrithi oleh bapak Agus Najib, kemudian khotimat nadhom di atas panggung akan dipanggil nama secara acak atau mengangkat tangan secara acak untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan.
Bagian acara demo nadhom Alfiyah dan Imrithi ini adalah bagian dari bukti bahwa santriwati MASAGA telah mampu menekuni pembelajaran ilmu nahwu khususnya dalam nadhom Alfiyah dan Imrithi. Tidak hanya itu, mereka juga mampu menghafalkan sebanyak 264 bait nadhom Imrithi dan 1002 bait nadhom Alfiyah Ibnu Malik. Pada momen khataman tahun ini, terdapat 10 santri yang telah khatam nadhom Alfiyah dan 14 santri yang telah khatam nadhom Imrithi.
Demo Alfiyah dan Imrithi selesai, selanjutnya adalah prosesi wisuda khotimat Alfiyah dan Imrithi dengan pengalungan samir dan penyerahan ijazah oleh Dr. KH. Muhammad Kholid Arif Rozaq, S.Hut., MM. dan Nyai Hj. Qorry Aina, S.Psi.

Acara belum selesai sampai disitu saja, acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama yakni sambutan pengasuh, yang mana diwakilkan oleh Dr. KH. Muhammad Kholid Arif Rozaq, S.Hut., M.M. dalam sambutannya beliau mengucapkan banyak terima kasih dan memohon maaf kepada para azatidz-asatidzah yang telah membantu para santri dalam belajar ilmu pengetahuan agama di pondok pesantren terutama pada madrasah diniyahnya. Kepada walisantri yang telah mendorong, membiayai, dan yang paling penting adalah mendoakan putri-putri nya yang sedang menimba ilmu agama di pondok pesantren dan madrasah diniyahnya.
Karena tidak setiap santri bisa lulus seperti ini. Sekolah salafiyah memang masih informal belum muaddalah apalagi yang khataman Alfiyah dan Imrithi. Ketika lulus pendidikan, umumnya akan mendapatkan sebuah sertifikat. Namun, sertifikat ilmu agama itu yang mengakreditasi adalah akhirat, karena ilmu agama itu fardhu ain. Makadari itu, jangan berhenti belajar ilmu agama karena ilmu agama itu tiada habisnya. Bahkan bahasa yang paling kompleks dipelajari dalam ilmu itu adalah bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia ataupun Inggris.
Sambutan yang kedua oleh bapak Agus Najib, S.Ag. selaku kepala Madrasah Salafiyah 3. Pak Mamik – begitu panggilan khusus oleh santri, mengucapkan banyak terima kasih kepada asatidz-asatidzah yang sudah berjuang mengajarkan ilmu agama kepada santri di madrasah diniyahnya. Ucapan selamat disampaikan kepada para santri yang sudah menjalankan wisuda, menyelesaikan pembelajarannya di Masaga, serta menuntaskan tugas akhirnya.
“Yang namanya ngaji itu tidak pernah selesai dan jangan pernah berhenti sekalipun sudah khatam tapi teteplah mengaji dan menimba ilmu dimanapun berada. Terus dikembangkan sehingga bermanfaat dan berkah dunia akhirat nanti.” Demikian pesan pak Mamik kepada wisudawati yang cantik-cantik.
Sambutan wali wisudawati yang diwakilkan oleh bapak Moch. Muhaemin, S.Ag, M.M menjadi sambutan yang ketiga. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pengasuh dan para asatidz-asatidzah yang telah mendampingi dan mendidik putri mereka sehingga dapat diwisuda dan khataman. Sesuatu yang membanggakan ketika anak-anak dipondokkan di Komplek Q, dan sebagai orang tua hanya bisa mendoakan. Sekaligus permohonan maaf atas banyaknya hal yang kurang berkenan sebagai orang tua, sehingga selalu mengharapkan doa dan ridho dari pengasuh serta asatidz-asatidzah agar anak-anak bisa menerapkan dan mengamalkan ilmu agamanya serta terus berkiprah di masyarakat.

Sambutan-sambutan usai disampaikan, acara selanjutnya yaitu mauidhoh hasanah. Yang mana mauidhoh hasanah yang pertama disampaikan oleh KH. M. Ikhsanuddin, M.S.I. dan mauidhoh hasanah yang kedua disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. Dalam mauidhoh hasanahnya, beliau berdua sama-sama berpesan bahwa yang namanya belajar itu tidak pernah selesai. Teruslah belajar dan jangan pernah berhenti belajar. Kalau ada kesempatan, harus tetap lanjut belajar karena sesungguhnya ruang-ruang belajar itu ada dimana-mana.
“Haflah, wisuda atau khataman sesungguhnya itu bukan the end of the process (akhir sebuah proses menuntut ilmu atau belajar), tapi itu adalah proses mengakhiri dalam waktu tertentu untuk kemudian dilnjutkan dalam proses-proses berikutnya.”
– Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag.
Tak hanya itu, di akhir mauidhoh hasanahnya, Prof Mustaqim memberikan hadiah berupa 3 bait pantun kepada para wisudawati yang cantik-cantik. Berikut pantunnya:
Menanam bunga di tepi perigi
Disiram pagi dengan penuh cinta
Santri Komplek Q pandai berbudi
Ilmu diraih akhlak pun terjaga
Burung merpati terbang ke awan
Hinggap sebentar di ranting cemara
Al-Qur’an dijaga sepanjang zaman
Santri Komplek Q siap jadi cahaya nusantara
Naik delman ke pasar pagi
Beli keripik rasa durian
Santri Komplek Q ngaji tiap hari
Kadang ngantuk tapi tetap jalan
Dengan diselenggarakannya tiga acara sekaligus di tanggal cantik ini, menjadikan sebuah momen istimewa bagi Madrasah Salafiyah 3 Pondok Pesantren Al-Munawwir. Wisuda Masaga angkatan ke-25, khataman Alfiyah Ibnu Malik angkatan pertama dan khataman Imrithi angkatan kedua menjadi momen yang bukan hanya akhir dari satu fase pendidikan, tapi juga awal perjuangan baru.
Sebuah pernyataan bahwa santri siap melangkah membawa ilmu, menjaga tradisi, dan berkontribusi di tengah masyarakat. MASAGA menorehkan jejak penting dalam sejarahnya. Tonggak baru telah ditanam, semoga menjadi awal dari banyak generasi yang mencintai ilmu dan terus menghidupkan warisan para ulama. Amiin…
Pewarta: Zia Zahra Hudaya dan Laisa Fikriyatul Muskila
Picture by Media Komplek Q



