Kepengin hidup selalu bahagia syalala tralala? Konsepnya sederhana saja kok.
Easy. Gampil. Beneran lho. Saestu. Tenan.
Begini.
Saat berdoa pada Allah dan terkabul, kita bersyukur. Saat belum juga terkabul, kita double syukur. Lho kok? Iya dong, berarti kan kita sedang menjalani kehendak-Nya. Bukankah kehendak-Nya pasti lebih baik dari kehendak kita. Lha iyo, mosok dikau meh sok sokan merasa kalau kehendakmu lebih jozz gandozz ketimbang kehendak-Nya? Ora ilok, Lik!
Jika hidup terasa sulit, ingat saja kalimat indah dalam surat cinta-Nya. Inna ma’al ‘usri yusro. Nah, kalimat indah itu 2 kali, sehingga ada yang menafsiri bahwa dalam satu kesulitan selalu terkandung 2 kemudahan.
Naah, jadi … setiap merasakan satu kesulitan, tugas kita adalah menemukan 2 kemudahan yang menyertainya. Setelah ketemu, disyukuri sepenuh hati dong kemudahan-kemudahan tersebut. Naah, janji Allah pada orang yang bersyukur adalah ditambah nikmat.
Kita bersyukur banget atas 2 kemudahan yang Allah sertakan dalam 1 kesulitan kita. Lalu kita bersyukur lagi atas hidayah dan karunia kekuatan iman dari Allah yang membuat kita mampu bersyukur.
Uhuy, jadi berlipat ganda kan tambahan nikmat dari-Nya. Pasti begitu?
Lhoo, itu kan janji Allah. Allah Maha menepati janji. (Ssst, rak usah takon surat opo ayat piro. Ngandelo wae, nang Al Qur’an ono statement begitu. Ning nek pinisirin, boleh japri.)
#modesokiyess
Aku sih yakin begitu. Yakin kalau Allah selalu menepati janji-Nya. Eh, kamu yakin nggak? Aku berdasarkan persangkaan hamba-Ku.
Naaaah … Milih yakin opo ragu-ragu?
So, mulai sekarang marhepi hepi aja. Kalau jumpa kesulitan, mari ingat rumusan di atas yak.
Ketemu satu kesulitan, cari 2 kemudahan yang menyertai. Agar hidup kita fokus mensyukuri nikmat-nikmat yang dilimpahkan Gusti Allah.
- Fokus pada 2 kemudahan = bahagia
- Fokus pada satu kesulitan = nelongso
Meh milih sing endi, terserah Anda, Bossque 🥳🥳🥳
Sesungguhnya hidup ini, bahagia atau tidaknya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bukan tergantung pada peristiwa yang kita alami, apalagi komentar netijen belaka. Eh, gimana?
Oleh: Siti Jazimah (Halqimuna)
Photo by Marija Zaric on Unsplash


