Refleksi Idul Adha

Idul Adha: Refleksi Diri dengan Kerelaan dan Pengorbanan

Diposting pada 67 views

— Idul Adha tahun ini kalian kurban apa? Kambing, sapi, domba, atau kurban perasaan? Eh…

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati Idul Adha sebagai peristiwa sejarah penyembelihan hewan kurban. Diawali dengan dua hari penting yaitu hari Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah dan hari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Dan pada tanggal 10 Dzulhijjah sebagai hari raya Idul Adha.

Alhamdulillah, Tarwiyah dan Arafah 1446 H telah dilalui dengan baik, iya tidak? Tarwiyah adalah hari merenungi dan Arafah adalah hari mengakui. Sudahkah kalian merenungi dan mengakui sesuatu yang ada di benak pikiran kalian masing-masing? Sebenarnya, diri ini juga merenungi hendak menulis tulisan tentang apa ya? Feel kek gloomy dengan perasaannya hehe…

Oke balik… Tarwiyah menjadi hari perenungan bagi Nabi Ibrahim AS yang mana beliau bermimpi mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail a.s. Akan tetapi Nabi Ibrahim masih ragu, apakah perintah yang ada dalam mimpinya tersebut merupakan perintah Allah ataukah malah perintah setan. Makanya bertepatan pada tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim masih berfikir dan merenungi mimpi tersebut karena ragu dan belum bisa memastikan tindakan yang hendak dilakukan.

Namun dengan ketaatan, kesabaran, ketabahan dan keyakinan bahwa dibalik perintah Allah, pasti ada hikmah yang paling luar biasa. Nabi Ibrahim AS dengan ikhlas dan ridha mengorbankan anaknya Ismail untuk disembelih tepat dua hari setelah hari perenungan. Dan ya, apa hikmah luar biasanya? Sejak saat itu hingga detik ini, 10 Dzulhijjah menjadi hari paling bersejarah dan berkah bagi umat Muslim. Idul Adha atau yang biasa kita sebut sebagai hari raya kurban.

Maka pada 10 Dzulhijjah adalah hari berkorban perasaan untuk segala hal yang telah direnungi dan diakui. Kobisa? Idul Adha merupakan hari untuk merayakan atau menghormati pengorbanan perasaan Nabi Ibrahim AS terhadap perintah yang beliau terima langsung dari Allah SWT untuk menyembelih sang putra, Nabi Ismail AS. Bayangkan, mana ada seorang ayah yang tega membunuh sang anak?

Refleksi Idul Adha

Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum sakral untuk melakukan refleksi diri secara mendalam. Kita diajak untuk menengok ke dalam hati, sudah sejauh manakah kita mampu meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalani ujian hidup?

Kerelaan Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, yakni putranya sendiri, menjadi simbol puncak ketundukan manusia kepada kehendak Tuhan. Sementara itu, Nabi Ismail AS di usianya yang masih muda, menunjukkan ketaatan luar biasa. Dari kisah mereka, kita belajar bahwa pengorbanan bukan hanya soal kehilangan, tapi tentang keyakinan dan keikhlasan dalam merelakan sesuatu demi hikmah yang luar biasa.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita pun memiliki “Ismail” masing-masing — hal-hal yang sangat kita cintai, yang kadang harus kita relakan demi kebaikan yang lebih luas. Mungkin itu adalah ego, kenyamanan, waktu pribadi, atau bahkan kepentingan duniawi. Dengan begitu, sudahkah kita rela “menyembelih” semua itu ketika Allah dan kemanusiaan menuntut kita untuk berbuat yang tidak sesuai dengan keinginan?

Idul Adha adalah ajakan untuk menata ulang niat dan tujuan hidup. Mengingatkan kita bahwa hidup bukan semata-mata untuk diri sendiri. Dalam momen ini, kita diajak untuk menyelami arti ikhlas, melatih diri melepaskan hal-hal yang menjerat hati, dan memperkuat kepedulian sosial dengan berbagi kepada sesama.

Refleksi diri saat Idul Adha adalah ruang spiritual bagi kita untuk bertanya apakah selama ini kita hidup hanya untuk mengejar kepentingan pribadi? Sudahkah kita memberi cukup waktu, perhatian, dan cinta kepada orang-orang di sekitar kita? Idul Adha menuntut kita untuk jujur pada diri sendiri, lalu mengambil langkah untuk menjadi pribadi yang lebih tunduk, sabar, dan peduli.

Lebaran Haji

Tak hanya berkurban, namun 10 Dzulhijjah juga disebut lebaran haji. Menjadi puncak dari ibadah haji yang sedang dilaksanakan oleh umat Muslim yang sedang berhaji. Ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang menggambarkan kerendahan hati dan kerelaan meninggalkan segala kemewahan dunia. Dari thawaf mengelilingi Ka’bah, wukuf di Arafah, hingga melempar jumrah, setiap ritual dalam haji memiliki makna simbolik yang dalam. Melatih kita untuk disiplin, sabar, dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Haji juga merupakan bentuk pengorbanan yang nyata yakni meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan untuk menuju panggilan Ilahi. Sama seperti kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, ibadah haji mengajarkan bahwa pengabdian sejati menuntut pengorbanan, dan bahwa jalan menuju ridha Allah seringkali tidak mudah, tetapi penuh makna.

Bagi yang belum berhaji, Idul Adha tetap menjadi kesempatan untuk merasakan semangat dan nilai dari ibadah tersebut. Merenungi bagaimana setiap langkah ibadah haji adalah latihan hidup yang sesungguhnya, berjalan dalam ketaatan, mengendalikan diri, dan selalu kembali kepada Allah.

Dengan demikian, Dzulhijjah dengan 2 moment sangat istimewa ini memberikan pelajaran hidup bagi seluruh umat Muslim di dunia. Walaupun tidak yang sedang menjalankan ibadah haji ataupun berkurban tetapi feel perayaan menjadi bagian dari umat Muslim seluruh dunia karena pancaran berkahnya Allah atas ibadah haji dan kurbannya sebagian dari umat Muslim lainnya.

Yuk, sudahi gloomy nya, boleh merenung untuk refleksi diri sendiri tapi jangan lupa selalu bersyukur. Semoga kita menjadi hamba yang selalu dalam keberkahan Allah SWT. Amiin…

 

Penulis: Zia Zahra Hudaya

Pictured by Shyamjith Pattiam on iStock