Puncak harlah dengan para pengasuh
Puncak harlah dengan para pengasuh

Mengenang Perjuangan, Menumbuhkan Harapan: Puncak Harlah ke-37 Komplek Q dan Seminar Growth Mindset

Diposting pada 34 views

Suasana sendu menyelimuti Puncak Harlah ke-37 Komplek Q Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ahad (20/9/2026). Berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya, Harlah kali ini berlangsung sederhana dengan mengenang sosok Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson yang belum lama berpulang. Bertempat di gedung baru dan halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q, pagi itu itu turut hadir segenap keluarga pengasuh, para asatidz, kepala madrasah, dan santri-santri Komplek Q yang mengikuti rangkaian acara dengan khidmah. Muzlifatun Najwa yang menjadi pembawa acara membuka acara dengan bacaan basmalah. Dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Zuyina Alfi Khoiriyah, dan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Bapak Dr. Mohammad Thoifur M.Si.

Puncak Harlah-37

Berikutnya acara diisi dengan sambutan pengasuh yang diwakili oleh KH. Dr. M. Kholid Arif Rozaq, S.Hut., M.M. Ucapan salam dalam suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya membuka sambutan kala itu. Gus Kholid, begitu para santri mengenalnya, menyampaikan rasa syukur karena seluruh keluarga besar Komplek Q dapat berkumpul meskipun tanpa ada Mbah Ibu (panggilan para santri kepada Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson). Namun pada hakikatnya Mbah Ibu tetaplah hadir secara spiritual dalam kebersamaan meskipun secara fisik telah berpulang. Hal tersebut disampaikan Gus Kholid dengan mengutip QS. Ali Imran ayat 169 yang berbunyi

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Peringatan harlah ke-37 ini memang berbeda dari biasanya. Perayaan dan suasana gembira yang biasanya terjadi tergantikan oleh kesederhanaan yang dibalut kerinduan, mengingat Mbah Ibu yang belum lama wafat. Pada hakikatnya semua makhluk pasti mati dan estafet kepemimpinan pasti terjadi. Beliau memanjatkan doa tulus semoga Abah Nanang (KH. Ahmad Fairuz Warson) sebagai pengasuh Komplek Q saat ini mampu meneruskan perjuangan Bapak Warson dan Mbah Ibu. Tak lupa beliau juga mendoakan para santri agar kelak menjadi ”sirajan munira”, yaitu penerang bagi sekitarnya. Ucapan terimakasih kepada para masayyikh yang senantiasa mendampingi santri menjadi penutup sambutan beliau.

Memasuki acara inti yaitu pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Umi Ati Lutfia Baity dan Umi Qorry Aina. Momen ini menjadi simbol rasa syukur atas berdirinya Komplek Q yang telah menginjak usia 37 tahun. Sebuah video dokumentasi persembahan Harlah turut ditayangkan. Video tersebut menceritakan perjuangan panjang Bapak Warson dan Mbah Ibu dalam merintis serta mengembangkan Komplek Q. Perjalanan itu bermula dari sebuah pondok khusus putri hingga berkembang dengan hadirnya MTPA, MTPR, dan MATQ.

Seminar Growth Mindset
Seminar growth mindset

Memasuki sesi berikutnya adalah Seminar Growth Mindset yang mengusung tema ”The Art Becoming: Bloom in Caracter, Write with Purpose, Inspire with Grace”. Seminar ini menghadirkan dua orang alumni yang kini berkecimpung dalam dunia literasi. Mereka adalah Khalimatu Nisa, M.A. dan Ulya Nuril Fajri. Seminar kemudian dibuka oleh Siti Shofia Latifah Azahra selaku moderator. Setelah memperkenalkan profil kedua narasumber, moderator mengawali diskusi dengan mengajak keduanya mengenang kembali masa-masa ketika masih menjadi santri Komplek Q.

Memasuki inti pembahasan, kedua narasumber menceritakan bagaimana growth mindset bisa tumbuh di tengah kehidupan mahasiswa yang tinggal dalam irisan dua dunia (pesantren dan universitas). Kondisi ini tidak menjadi penghambat bagi kedua sosok ini untuk menumbuhkan growth mindset dalam diri mereka. Mbak Nisa berkata bahwa kondisi ini malah menguntungkan karena dirinya bisa mendapatkan kekayaan ilmu yang lebih luas dari pesantren dan universitas yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda. Di samping itu Mbak Ulya berpendapat bahwa di pesantren yang memiiki banyak kegiatan melatihnya untuk bisa bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan serta melatih manajemen waktu.

Kemudian moderator membawa topik kepada buku karya Mbak Nisa yang sangat familiar bagi santri Komplek Q saat ini, yaitu buku “Jejak Sang Pionir Kamus Al-Munawwir”. Ide awal penulisan ini muncul tak lama setelah Bapak Warson wafat. Berawal dari kekaguman terhadap beliau yang menumbuhkan rasa ingin mengenal lebih dalam. Tak disangka ide ini mendapat dukungan penuh dari Mbah Ibu. Kontribusi besar Mbah Ibulah yang mendorong semangat Mbak Nisa yang sempat naik-turun untuk terus melanjutkan menulis. Proses penulisan buku ini menghabiskan waktu yang cukup panjang. Dan dalam dua tahun akhirnya buku yang mengabadikan sosok hebat pendiri Komplek Q ini selesai dituliskan.

Mbak Ulya menambahkan dengan menceritakan bagaimana sosok Mbah Ibu di matanya yang dikenal dari interaksinya yang terjadi ketika menjadi pembimbing MTPA dulu. Betapa Mbah Ibu menghargai setiap proses yang dijalani, tidak masalah jalan yang dilalui terjal sekalipun karena dari setiap kesulitan yang kita hadapi, diri kita akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Mbah Ibu juga sosok yang visioner. Beliau mengajarkan bahwa perempuan tidak perlu membatasi dirinya untuk memiliki mimpi yang tinggi karena ia pasti bisa diwujudkan dengan usaha keras yang dilakukan.

Seperti itulah sosok Mbah Ibu yang nasihat-nasihatnya selalu membersamai para santri di manapun mereka berada. Keteladanannya menjadi penguat langkah untuk menapaki mimpi. Harlah ke-37 Komplek Q akhirnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui, tetapi juga menjadi ruang untuk meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Dari perjuangan Bapak Warson dan Mbah Ibu, para santri diajak untuk terus bertumbuh, berproses, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi lingkungan di sekitarnya.

 

Pewarta: Rizka Fahma Aisyah

Sumber Gambar: Media Komplek Q