Spesial Harlah Ke-36 Komplek Q: Hadir Sosok Ning Nadia Abdurrahman Dalam Acara Seminar

Spesial Harlah Ke-36 Komplek Q: Hadir Sosok Ning Nadia Abdurrahman Dalam Acara Seminar

Diposting pada 260 views

Krapyak — Malam hari yang syahdu, angin berhembus menambah nuansa sejuk di halaman Komplek Q yang penuh dengan santriwati. Jumat 19 September 2025, diadakan acara Seminar Keputrian dan Kepemimpinan dalam rangka Harlah ke-36 Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta. Acara seminar ini mengusung tema “Merebut Ruang, Menata Peradaban: Kepemimpinan Santri Putri di Era Disrupsi” memiliki makna merebut ruang berarti santri putri harus berani melampaui batas-batas kultural, struktural, dan sosial yang selama ini membatasi partisipasi mereka di ranah publik. Mereka dituntut tidak hanya hadir, tetapi juga bersuara dan memimpin. Sementara itu, menata peradaban menegaskan bahwa kehadiran santri putri di ruang publik bukan sekadar untuk diakui, melainkan untuk membawa visi transformatif. Dengan bekal tradisi keilmuan pesantren yang berpadu dengan kecakapan abad modern, santri putri berpotensi melahirkan corak peradaban yang adil, humanis, dan berakar pada Islam Rahmatan lil alamin.

Bertempat di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q, dengan narasumber Ning Nadia Abdurrahman, Lc. sosok yang sangat luar biasa ini hadir di tengah-tengah kumpulan santriwati Komplek Q yang siap untuk menyantap materi ilmu pengetahuan yang akan disampaikannya. Seperti biasanya, grup hadroh Tsamrotul Muna mengiringi pra acara seminar malam itu dengan lantunan-lanutunan sholawatnya yang merdu dan tabuhan rebana yang menggelegar. Hingga secara resmi, acara dimulai dan dipandu oleh Nala Ikfina Utami sebagai master of ceremony. Setelah acara dibuka, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang merdu dan fasih oleh Nila Fadla Salsabila. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan pengasuh yang diwakilkan oleh Gus Dr. H. Muhammad Kholid Arif Rozaq, S.Hut., MM.

Dalam sambutannya, Gus Kholid menyampaikan harapan dari diadakannya seminar ini, semoga santriwati komplek Q mendapatkan insight, pencerahan, motivasi, ilm-ilmu yang bisa dipakai untuk belajar. Beliau menyampaikan ketertarikannya pada tema yang diusung yaitu “Merebut Ruang, Menata Peradaban: Kepemimpinan Santri Putri di Era Disrupsi” yang menurut beliau sudah seperti judul disertasi. Selain itu, beliau berpendapat bahwa Ning Nadia bukan hanya sebagai seorang motivator atau bahkan seorang pengasuh pondok pesantren. Tetapi juga seorang influencer tahfidzul qur’an yang menggunakan sosial media untuk berbagi ilmunya dalam metode menghafal Al-Qur’an. Yaitu metode metode lauh yang diterapkan oleh Ning Nadia. Sehingga harapannya, santriwati komplek Q dapat meniru jejak Ning Nadia terutama dalam istiqomah menghafal Al-Qur’an.

Baca Juga: Seminar Literasi Digital Bersama Ning Khilma Anis

Siapakah Sosok Ning Nadia Itu?

Ning Nadia Abdurrahman, Lc

Bernama lengkap Nadia Nely Amalia Abdurrahman, Lc., atau yang kerap disapa Ning Nadia Abdurrahman, merupakan putri keempat dari KH. Ar. Ibnu Ubaidillah dan Nyai Hj. Fuaidiyah dari Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah istri dari Agus Muhammad Barizi, putra keenam dari KH. Abdul Hannan Ma’sum dan Nyai Hj. Miftahul Munawaroh dari Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, Jawa Timur. Ning Nadia merupakan sosok yang dikenal sebagai motivator, influencer tahfidzul qur’an dan ulama muda perempuan. Salah satu penggerak serta pelopor menghafalkan Al-Qur’an dengan metode Lauh.

Apa itu metode Lauh? Metode menghafal Al-Qur’an tradisional dari Maroko yang menggunakan  papan tulis (lauh) sebagai media untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafalSetelah menulis, kemudian membacanya berulang-ulang hingga hafal dan dapat membayangkannya, lalu menghapusnya dan menulis kembali dari ingatan tanpa melihat teks di papan. Metode ini dianggap sakral dan efektif, serta melatih kesabaran dan ketelitian dalam menghafal. Menurut Ning Nadia, meskipun metode lauh cukup merepotkan dan memakan waktu yang sangat lama, tetapi rentang waktu khatam menggunakan metode tersebut hampir sama dengan metode mushaf yang biasanya diterapkan di Indonesia.

“Motivasi hanyalah 1% dari proses, 99% sisanya adalah aksi. Jika sudah termotivasi tetapi tidak bergerak, itu sama saja hanya mengambil 1% dari proses. Segera lakukan dan istiqomahkan kegiatan baik yang bermanfaat setelah mendapatkan motivasi. 1% motivasi akan menjadi penyempurna 100% proses.” (Ning Nadia Abdurrahman, Lc.)

Baca Juga: Bersama Lora Ismael Al-Kholilie: Santri Masa Kini Masih Kurang Literasi, Jangan Ya Dek Ya!

Seminar Keputrian dan Kepemimpinan Bersama Ning Nadia Abdurrahman

Spesial Harlah Ke-36 Komplek Q: Hadir Sosok Ning Nadia Abdurrahman Dalam Acara Seminar
Ning Nadia Abdurrahman, Lc menyampaikan materi seminarnya

Acara inti yang dinanti-nantikan seluruh santriwati Komplek Q dan para hadirin, sesi seminar bersama Ning Nadia Abdurrahman, Lc. Pada sesi ini, Sayyidah Latifah Hamid menjadi moderator sekaligus memandu jalannya sesi diskusi seminar dan Ning Nadia sebagai narasumbernya. Ning Nadia menyapa peserta dan memperkenalkan diri, kemudian memulai dengan membahas pandangan Al-Qur’an dan Islam tentang relasi perempuan dan laki-laki sebagai intro dari materi yang hendak dibahas. Beliau menyinggung ayat اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ, bahwa penggalan ayat ini seringkali disalahpahami jika tidak lengkap. Ayat ini tidak hanya berarti laki-laki sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai pelindung, penanggung jawab, dan penyayang. Yang mana beliau menjelaskan lebih detail perbedaan keistimewaan laki-laki dan kemuliaan perempuan.

Memasuki pembahasan tentang era disrupsi dan tantangannya, Ning Nadia menyampaikan ada 4 kata kunci dari era disrupsi yaitu inovasi yang masif, digitalisasi, instan, dan perubahan yang cepat. Dengan tantangan era disrupsi diantaranya menyeleksi banjir informasi, popularitas sesuai kapasitas, fleksibel dan adaptif, serta menjaga transmisi keilmuan (sanad). Dengan demikian, menurut beliau objek disrupsi dan dampaknya bisa terjadi karena indrusti teknologi, gaya kepemimpinan, dan tatanan kehidupan masyarakat.

Pembahasan dalam seminar ini merujuk pada kepemimpinan santri putri di era disrupsi. Menurut Ning Nadia, kepemimpinan dalam perspektif Islam ada pada hadis كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya) menunjukkan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, adalah pemimpin. Dengan demikian, kesetaraan dalam kepemimpinan ada dalam ayat وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan mukmin saling menjadi pelindung (pemimpin). Sehingga esensi kepemimpinan adalah untuk mengajak kepada kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar. Setiap orang wajib menjadi “pendakwah” atau orang yang mengajak kepada kebaikan.

Jika dikaitkan dengan pembahasan kepemimpinan di era disrupsi, ada beberapa teori berdasarkan kontekstual yang disampaikan Ning Nadia yaitu Self Leadership, Interpersonal Leadership, Team Leadership, Organizational Leadership, Community Leadership, dan Charismatic Leadership. Terutama bagi santri putri yang diberi amanah untuk menjalankan sebuah kepemimpinan, Ning Nadia memberikan beberapa penjelasan 18 poin yang idealnya dimiliki oleh seorang pemimpin perempuan yaitu Self Awarness, Emotional Intellegence, Growth Mindset, Strong Boundaries, Empathy, Independence, Social Responsibility, Self-Compassion, Playfulness & Joy, Resilience, Assertiveness, Authenticity, Collaborative, Humility, Curiosity, Adaptalbility, Gratitude, dan Visionary Thinking.

Baca Juga: Seminar bersama Gus Rifqil dan Ning Imaz

Hujan dan Kalimat Manis Penutup Pertemuan

Sungguh luar biasa materi yang telah disampaikan oleh Ning Nadia, semoga ilmu pengetahuan yang beliau sampaikan dapat bermanfaat, berkah, dan menjadi bahan pembelajaran seluruh santriwati Komplek Q. Usai materi disampaikan, sesi selanjutnya adalah tanya jawab dan Ning Nadia dengan senang hati mejawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kemudian sesi diskusi seminar diakhiri oleh Sayyidah Latifah dengan kesimpulan. Tak lupa penyerahan sertifikat, kenang-kenangan, dan foto bersama sebagai pelengkap acara.

Malam itu, langit Krapyak turut meromantisasi moment kebersamaan Ning Nadia dengan para santriwati Komplek Q. Di akhir sesi seminar, langit turunkan air hujannya dan mengakhiri acara seminar malam itu. Selesai sudah acara seminar yang berjalan dengan lancar dan baik walau ditutup dengan hujan.

Pesan Ning Nadia kepada seluruh santri putri, “Seorang perempuan akan tumbuh sebanding dengan secantik apa puing-puing tempaan hidupnya.” Hal ini berarti jika perempuan sejak kecil terbiasa tidak memiliki tempaan hidup, pundaknya akan lemah. Namun, jika mereka melalui tempaan hidup, pundaknya akan kuat menghadapi segala benturan kehidupan. “Percayalah bahwa segala benturan keras kehidupan akan terpatri menjadi tumpukan-tumpukan kekuatan yang akan menjadi alas dalam menapaki sesulit apapun sebuah perjalanan.”

 

Pewarta: Zia Zahra Hudaya dan Fariha Fauziah

Foto: Arsip Media Komplek Q