Al Munawwir Komplek Q

Generasi penerus bangsa adalah kita Bukan dari mereka alat canggih yang tercipta Kebudayaan kita nampak nyata Jangan dihilangkan karena tak terbiasa                 Masa sekarang bukan untuk diam                 Atau duduk santai bermain telepon genggam                 Gunakan masamu untuk berjuang                 Bukan penjajah namun pengaruh bangsa yang minta berperang Kebudayaan kita

Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat mulia di mana semua amal dilipat gandakan, bukan hanya amal baik saja amal buruk pun dilipat gandakan. Bulan yang penuh berkah yang mana semua pintu surga dibukakan dan siap untuk menerima hamba Allah yang pantas untuk memasukinya. Bulan yang mana setiap doa akan diijabah

2020. Baru setapak berjalan. Rencana-rencana harus diam. Resolusi-resolusi yang membara itu, membeku. Menggigil panas, mengejar waktu secepat jatuhnya buah cabai yang membusuk ketika penghujan. – Barangkali, memang harusnya begitu. Jiwa-jiwa lengah itu, yang terlalu mengaribkan diri dengan wabah//musibah//anugerah. 2020 harusnya tidak hanya hitam dan kelabu. Barangkali, kita yang berlebihan dalam

Dalam peringatan Isra’ Mi’raj pada Selasa, 2 April 2019, Kiai Mustaqim menjelaskan mengenai pentingnya istighfar. Memperbanyak membaca istighfar merupakan salah satu amalan utama dalam bulan Rajab. Seperti apa pentingnya? “Istighfar memiliki asal arti tutup. Apanya yang ditutup? Yang ditutup adalah luka, luka spiritual, jadi beristighfar memohon agar lukanya ditutup. Ada

Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan Rapat Kerja (Raker) Madrasah Salafiyah III (Masaga) Tahun 2019 dilaksanakan di Ruang Seminar dan Bedah Buku Perpustakaan Daerah Grhatama Pustaka pada Ahad (24/11). Acara ini kembali dilaksanakan pada tahun 2019 setelah beberapa tahun tidak dilaksanakan. “Acara LPJ dan raker semacam ini terakhir kali dilaksanakan sekitar tahun

Puisi oleh : Limabhe Foto/Ilustrasi oleh : Alifia   Sore itu langit sangat kelabu Aku kembali dari tambang Berjalan miring mengikis kenangan Berharap baju tak basah oleh Kenangan   Sesampainya didepan rumah Kata-kata lewat tanpa permisi Mereka berbisik seperti semut-semut berdiskusi Sementara sajak ku mati Terbunuh diinjak semut yang menertawakan

Duhai Nabi.. Terkadang aku iri dengan kuda-kuda yang menemanimu berperang, Dengan pedangmu yang bisa melindungimu dari lawan-lawan, Dan juga alas kaki yang selalu menemanimu  kemanapun pergi Bersama, merasakan indahnya hidup dalam dekapanmu Wahai kekasih Allah.. Begitu kasih sayang yang teramat dalam kau berikan Ummati, ummati, ummati Hanya 3 kata, namun

Sungguh bersyukur, masih bisa menikmati rutinitas dengan suka cita. Caraku menikmati pergantian siang menuju malam hari membuat julukan sebagai “anak indie” tersemat ke dalam diriku. Iya, dewasa ini anak indie terkenal dikalangan masyarakat sebagai kaum muda yang ketika sore akan tiba lantas mereka bersiap-siap menuju tempat tongkrongan kemudian menyalakan playlist

Siang itu udara terasa sangat panas, matahari begitu terik menyengat. Kulangkahkan kaki menuju salah satu kampus ternama di Kota Jogja. Karena tak kumiliki kendaraan pribadi, akupun terbiasa memakai transportasj umum yang akrap disebut TJ alias Trans Jogja. Sekitar 15 menit menunggu akhirnya TJ dengan jalur tujuanku datang. Aku memilih duduk