Siapa yang tidak mengenal dengan tradisi Dhandhangan? Orang Kudus atau yang pernah singgah di Kudus pasti mengenalnya. Namun, istilah ini mungkin terasa asing bagi orang di luar Kudus. Tradisi Dhandhangan sudah ada sejak zaman Syekh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) dan diteruskan oleh penerusnya hingga sekarang. 

Kata Dhandhangan berasal dari suara tabuh bedug “Dhang… dhang.. dhang…”  yang biasanya ditabuh oleh Sunan Kudus setelah sholat asar dengan tujuan mengumpulkan masyarakat Kudus, khususnya di sekitaran Menara Kudus kemudian mengumumkan jatuhnya tanggal 1 bulan Ramadhan.

Tradisi Dhandhangan adalah suatu tradisi akulturasi keagamaan sekaligus budaya yang selalu ditunggu-tunggu. Dhandhangan digelar setahun sekali oleh masyarakat Kudus dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini hampir mirip pasar malam, tapi digelar sekitar sebulan sebelum bulan Ramadhan dan puncak keramaiannya seminggu sebelum Ramadhan. Masyarakat Kudus, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, bahkan masyarakat luar Kudus datang berbondong-bondong untuk sekadar melihat atau membeli hal-hal yang menurutnya unik. 

Dalam tradisi Dhandhangan, terdapat berbagai permainan seperti bianglala, mandi bola, komedi putar, rumah hantu, dan sebagainya. Selain itu, banyak pedagang-pedagang yang menjual beraneka ragam camilan dan makanan kekinian; hewan-hewan peliharaan, seperti kelinci, marmut, kura-kura, dan ikan; bahkan menjual kerajinan tangan, baik dari kain, tanah liat, perca, dan sebagainya.

Anak-anak kecil biasanya suka membeli kreweng–mainan masak-masakan tradisional yang terbuat dari tanah liat dan dibentuk seperti wajan, piring, teko, kendi, dan sebagainya kemudian dicat. Bahkan, ada yang menjual celengan dari tanah liat dengan bentuk unik-unik dalam berbagai ukuran.

Namun, sangat disayangkan, dua tahun terakhir tradisi Dhandhangan tidak dapat diselenggarakan, karena kondisi pandemi yang tidak memungkinkan adanya kerumunan banyak orang.

Oleh: Fina Izzatul Muna

Photo by kompasiana.com

Leave a Comment