Apa itu ghibah?

Ghibah adalah menggunjing seseorang dan berbicara tentang keburukan orang lain. Dalam islam, dosa ghibah  lebih berat dari pada dosa 30 zina. Sebab beratnya dosa yang ditimpakan kepada seorang penggibah, maka alangkah lebih baik bila kita menghindari perbuatan ini.

Dalam Q.S Al- Hujurat ayat 12 telah diterangkang bahwasanya Allah befirman, “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakai daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah maha menerima taubat dan maha pengasih”

Perkara ghibah bukanlah sesuatu yang sederhana. Terkadang, secara tidak sadar, bisa saja kita melakukan ghibah. Bahkan, ketika kita mengatakan sebuah kejujuran sekalipun, bisa saja tergolong dalam ghibah. Bagaimana bisa? Hal ini dikarenakan kejujuran tersebut tidak pada tempatnya. Sebagai contoh, ketika kita melihat seseorang berlaku buruk dan dengan jujur kita mengatakannya kepada orang lain, maka hal tersebut adalah termasuk ghibah. Mengapa? Karena kita telah mensifati seseorang dengan sifat yang tidak disukai, meskipun itu sesuai dengan kenyataan. Belum lagi kalau ternyata apa yang kita katakan adalah suatu kebohongan, maka dosa yang didapat akan berlipat yaitu dosa ghibah dan berbohong.

Ada juga yang disebut sebagai Ghibatul murra quraai yaitu gunjingan secara tidak langsung. Sebagai contoh, seseorang mengatakan telah mendoakan seseorang yang lain agar menjadi orang baik dan mendapatkan ampunan dari Allah. Sekilas, gunjingan terebut bermakna baik. Akan tetapi, ternyata hal semacam itu termasuk dalam ghibah murra quraai. Mengapa? Hal ini dikarenakan gunjingan ini dilakukan oleh seorang ‘Murra’ (ahli membaca Al quran) yang merasa menebus kesalahannya.

Ghibah seperti itu memiliki dua keburukan. Keburukan pertama adalah yang merupakan keburukan dari ghibah itu sendiri, yaitu seakan-akan orang yang ghibah bersih dari dosa. Keburukan yang kedua adalah merendahkan orang lain dengan memandang bahwa orang lain memiliki dosa yang lebih banyak. Agar terhindar dari ghibah yang semacam iini, alangkah baiknya kalau tujuan kita berdo’a tidak usah dikatakan kepada  orang lain. Cukup kita do’akan dalam keheningan kita.

Hal lain yang harus diwaspadai adalah ketika berteman. Dalam peretemanan, sudah lazim seseorang mengetahui aib temannya. Ketika salah satu dari mereka menampakkan aib yang lain, maka itu sama saja menampakkan aib dirinya sendiri. Keadaan semcam ini juga termasuk dalam ghibah. Maka, dalam hubungan pertemanan, hendaknya kita saling menjaga jangan sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik.

Kengerian ghibah juga telah disampaikan dalam Al quran. Seseorang yang melakukan ghibah diumpamakan seperti memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Alangkah pantasnya untuk menghindari ghibah.

Bagaimana cara untuk menghindari ghibah?

Ada beberapa cara untuk menghindari ghibah yaitu kita harus mengingat aib kita sendiri. Ketika aib kita dibuka di depan orang lain, bukankah kita tidak suka? Oleh karena itu, sebisa mungkin janganlah menggunjingkan orang lain, apalagi hingga membuka aibnya.

Kedua, apabila seseorang telah melakukan maksiat, apakah diri kita sudah terhindar dari maksiat? Belum tentu jika kita ada dalam posisi yang sama, kita akan terhindar dari maksiat. Oleh karena itu, lebih baik kita memohon perlindungan kepada Allah dari pada membicarakan kemaksiatan orang lain.

Apa yang perlu digarisbawahi?

Membuka aib orang lain memanglah tergolong dalam ghibah. Akan tetapi, ada hal-hal khusus yang memang dianjurkan untuk membuka aib. Sebagai contoh, ketika dimintai sebagai saksi atas suatu perkara, maka kita harus memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Dalam keadaan ini, membuka aib orang lain diperbolehkan.

Sebagai contoh lain, ketika kita dimintai pendapat tentang calon pasangan yang akan menikah. Maka, dalam hal ini kita juga harus memberikan keterangan yang sebenarnya, meski harus membuka aib seseorang. Hal ini dilakukan demi kebaikan, yaitu sebagai pertimbangan bagi orang yang ingin menikahinya. Agar suatu hari, tidak ditemui penyesalan. Membuka aib dalam hal seperti di atas bukanlah suatu ghibah. Disebut ghibah adalah ketika membicarakan orang lain dalam kondisi yang tidak tepat.

Hal lain yang harus kita hindari dari mulut kita adalah perdebatan. Berbeda dengan musyawarah yang tujuannya mencari solusi, perdebatan di sini adalah mencari kesalahan atas pendapat orang lain dan menganggap pendapat kita adalah yang paling benar. Perdebatan semacam ini adalah salah satu hal yang tidak disukai oleh para ulama dan merupakan tanda akhir zaman.

Perdebatan semacam itu memberikan banyak mudhorot. Setiap orang akan menganggap orang lain bodoh, sedang dirinya paling pintar dan benar. Ketika kita memberikan pendapat dalam sebuah perdebatan dengan disertai niat tidak ingin melanjutkan perdebatan, maka Allah akan memberikan bangunan di surga.

Semoga kita semua mendapatkan bimbingan Allah untuk senantiasa dapat menjaga lisan dan sikap kita dari hal-hal yang tidak diridhoi. Aamiin…

Oleh: Tri Ainun

Disarikan dari Pengajian Kitab Bidayatul Hidayah oleh Ustaz Labib

Leave a Comment