Entah angin mana yang menghantarkanmu ke tempatku ini

Kau datang saat diriku punya banyak planning kegiatan

Kau hadir ketika kami tengah terlelap dalam mimpi

Kau merangsek ketika sejuta janji sudah ku torehkan

Kau merangsek ke kehidupanku saat diriku belum siap untuk
Tak bergeming
Tak berkarsa
Tak berkarya
Tak berpenghasilan, bahkan
Tak penuhi untuk suatu janji sakral

Andai saja kau kasih aku signal bahwa kau akan hadir
Tentu sudah kusiapkan semua itu
Karena itulah kau terkesan sadis kejam tak berperikemanusiaan

Andai kau kasih tau mau datang, tentu kusediakan obat penjinak dirimu agar tak banyak saudaraku tersingkirkan dari bumi ini bagai barang tak berharga

Covid, kau sebenarnya baik
Ketika surprise-mu membuahkan hasil
Bumi ini jadi hening
Langit pun biru cerah
Udara bersih nyaris tanpa polusi
Dentuman musik diskotik pun tak mendecak decak telingaku
Tak kerap lagi dengar berita kriminal di media
Tak kerap lagi dengar
Berita debat kusir di media politik
Tak kerap lagi mendengar
Berita penculikan anak yang belum lama ini memang santer

Intinya entah apalah dirimu itu
Yang penting aku mengharapkan kebesaran hatimu untuk menghormati bulan agung, Bulan Ramadhan agar kami semua melaksanakannya tanpa rasa was-was dan cemas

Kuharap usai sudah tugasmu mengemban misi mu itu di atas bumi ini
Karena kami semua sudah merasakan efek dari kehadiranmu
Lepas kau misi dari makhluk Tuhan atau memang zat yang diciptakan Tuhan

Nyatanya kau sudah nyata menjadi garis sebuah takdir

Oleh: Syarifah Rufaida

Gambar oleh Miroslava Chrienova dari Pixabay

Leave a Comment