Awal mula mushaf Pojok Menara Kudus adalah kepunyaan KH. M. Arwani Amin yang didapatkan beliau saat melaksanakan ibadah haji, kisaran tahun 1970-an. Mushaf Al-Qur’an yang dimiliki oleh KH. Arwani Amin tersebut biasa disebut sebagai Al-Qur’an Bahriyyah. Pada awalnya mushaf ini ditulis oleh orang Turki. Lalu mushafnya disebut dengan mushaf Bahriyyah karena diterbitkan oleh Percetakan Bahriyyah di Turki. Turki memang merupakan daerah yang telah maju dalam teknologi percetakan pada waktu itu. Namun Mushaf Bahriyyah milik KH. Arwani Amin tersebut diterbitkan di Damsyik (Damaskus), Syria. Sementara rasm yang digunakan dalam mushaf Bahriyyah menggunakan rasm campuran, yaitu terdapat rasm usmani dan rasm imla’i. Karena dalam mushaf tersebut terdapat lafaz-lafaz yang sesuai dengan kaidah rasm usmani. Namun begitu juga banyak dijumpai lafaz dengan kaidah imla’i, yaitu sesuai dengan pengucapan bahasa arab.

Kemudian mushaf itu diberikan kepada Zjainuri untuk dicetak dan disebarluaskan yang dapat membantu dan mempermudah para huffaz dalam menghafal Al-Qur’an karena menggunakan ayat pojok dan beliau dikenal sebagai ulama Al-Qur’an (al-hafiz). Ketika menyerahkan mushaf tersebut, KH. Arwani berpesan agar tidak merubah apapun dan apabila ada yang tidak paham, maka langsung ditanyakan kepada beliau. Namun, naskah asli yang diberikan KH. Arwani kepada pihak PT. Menara Kudus tersebut diduga ikut terbakar pada saat terjadi musibah kebakaran pada bagian reproduksi PT. Menara Kudus yang terjadi sekitar tahun 2000-an. Meski tidak ditemukan mushaf asli tersebut, KH. M. Ulil Albab masih menyimpan mushaf milik KH. M. Arwani Amin terbitan al-Maktab al-‘Arabi, Damaskus, Syria yang sama persis dengan mushaf Bahriyyah yang hilang tersebut, yaitu kesamaan pada rasm yang digunakan dan penggunaan tanda waqaf yang mengikuti mazhab al-Sijawandi.

Maka terbitlah Mushaf Pojok Menara Kudus untuk pertama kalinya pada tahun 1974 M oleh Percetakan dan Penerbit Menara Kudus dan dikoreksi oleh tiga ulama’ ahli Al-Qur’an asal Kota Kudus, yaitu KH. M. Arwani Amin, KH. Hisyam Hayat, dan KH. Sya’roni Ahmadi. Mushaf Pojok Menara Kudus merupakan hasil kopi ulang dari mushaf Bahriyyah terbitan Percetakan Usman Bik di Turki pada Jumadil Ula 1370 H (Februari/Maret 1951 M) yang ditulis oleh Mustafa Nazif, seorang kaligrafer terkenal pada masa itu yang berkebangsaan Turki. Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus adalah mushaf Al-Qur’an yang dicetak dan diterbitkan oleh Percetakan dan Penerbit Menara Kudus Jawa Tengah, dengan menggunakan system pojok, yakni mengakhiri setiap sudut lembarannya dengan akhiran sebuah ayat dan berjumlah 15 baris pada setiap lembarnya, kecuali pada beberapa lembar tertentu. Kemudian mendapat izin beredar dari Lembaga Rektur Keagamaan pada tanggal 29 Mei 1974 setelah terlebih dahulu mendapat tanda tashih dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI pada tanggal 16 Mei 1974 yang saat itu diketuai oleh Hamdani Ali dan Sujono sebagai sekretaris.

Ukuran Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus yang paling banyak digunakan adalah ukuran sedang, yaitu 3 cm x 12 cm x 15 cm. Terdiri dari 619 halaman, setiap halaman terdapat 15 baris termasuk iluminasi dan basmalah kecuali pada halaman permulaan juz 1 yang hanya berjumlah 7 baris dan akhir juz 30 yang berjumlah hanya 11 baris sampai akhir surah an-Nas, atau 14 baris jika menyertakan kalimat penutup sebagai imbuhan. Iluminasi pada permulaan surah melebar ke samping kanan dan kiri dengan motif yang bervariasi, namun motif ukir bunga lebih mendominasi. Pada bagian tengah iluminasi menjelaskan nama surah, status surah, dan jumlah ayat di dalam surah. Pada setiap halaman genap terdapat halaman, angka yang mengisyaratkan nama dan urutan surah. Bila lebih dari satu surah, maka yang disebutkan hanya surah yang terletak paling atas pada lembaran. Sedangkan pada halaman ganjil terdapat keterangan juz.

Permulaan juz berada pada lembar halaman bagian kiri atau bernomor ganjil yang ditandai dengan iluminasi pada bagian pinggir halaman dan di bagian tengah terdapat tulisan dan angka berbahasa Arab.  Tanda ayat menggunakan model sederhana yang hanya berbentuk lingkaran biasa dengan angka di dalamnya dan sedikit berbeda dengan bentuk tanda yang menunjukkan sesuatu yang khusus, yakni sebagai tanda ruku’ dan ayat sajdah. Pada pojok kiri bagian bawah halaman berangka genap selalu terdapat clue (petunjuk) untuk mengetahui awal kalimat pada halaman selanjutnya.

Mushaf ditulis lengkap dengan jumlah 114 Surah dan 30 juz, setiap juz terdiri dari 20 halaman, kecuali pada juz 1 mempunyai 21 halaman dan pada juz 30 yang terdiri dari 23 halaman. Mempunyai tanda hizb (seperempat juz) dan menggunakan 12 tanda waqaf dan wasal yang mengikuti kaidah waqaf qasal dari Imam al-Sajawandi. Pada ayat-ayat sajdah tertentu disertakan keterangan menurut imam mazhab. Penggunaan bentuk harakat yang sudah berlaku dan familiar di kalangan masyarakat Indonesia dan memiliki tanda baca. Rasm-nya ditulis menurut rasm campuran, yaitu rasm usmani dan rasm imla’i. Hal itu mengacu pada enam kaidah penulisan rasm usmani yakni kaidah hazf, kaidah ziyadah, kaidah hamz, kaidah badal, kaidah fasl, dan kaidah wasl.

Kelebihan dan kekurangannya antara lain, Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus pada tiap awal halaman merupakan awal ayat dan jumlah 20 halaman tiap juz. Hal seperti itu tentu akan mempermudah dalam mengingatnya dibandingkan dengan mushaf yang tidak demikian. Tercantum petunjuk bacaan yang perlu diperhatikan yang berlaku dalam hukum ilmu tajwid menurut bacaan ‘Ashim riwayat Hafs yang bacaannya banyak berlaku di Indonesia. Rasm usmani dapat mengindikasi beragam qira’at untuk satu kata (lafaz) sedangkan rasm imla’i tidak dapat. Setiap mad thabi’i tidak diberi tanda sukun, idgham tidak diberi tanda tasydid, iqlab tidak diberi tanda mim kecil (iqlab) dan ha’ dhamir belum menggunakan kasrah tegak dan dhammah terbalik. Hal-hal semacam ini terkadang membingungkan bagi para pembaca awam. Banyaknya tanda-tanda waqaf yang mempunyai fungsi sama.

Oleh : Fina Izzatul Muna

Sumber :

  • Ahmad Nashih, Sejarah dan Karakteristik Mushaf Pojok Menara Kudus, (Kudus: Mubarokatan Thoyyibah, 2019)
  • Ahmad Nashih, “Studi Mushaf Pojok Menara Kudus: Sejarah dan Karakteristik”, Jurnal Nun, Vol.3, No.1, Tahun 2017.
  • Annas Zaenal Muttaqin, Sejarah dan Rasm Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus, (Yogyakarta: Skripsi- Program Sarjana UIN Sunan Kalijaga, 2010)

Foto: genial.id

Leave a Comment