Suatu waktu, Syekh Miyan bercerita bahwa di negeri tempat tinggalnya—Burhaniyun—ia bertetangga dengan seseorang yang kaya.Tetangga yang kaya itu beragama Hindu penyembah api (Agni), tetapi ia sangat rindu dan cinta kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani. Setiap tahun ia mengundang para pejabat pemerintah, para ulama, dan tidak terkecuali para fakir miskin untuk makan bersama di rumahnya. Rumahnya dihiasi dengan dekorasi yang beraneka warna agar lebih meriah ditaburi bunga-bunga yang harum semerbak serta minyak yang harum mewangi. Tujuan diadakan pesta itu semata-mata terdorong rasa cintanya kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani. Terkadang ia merasa bangga bisa mengaku menjadi muridnya. Akan tetapi, rupanya ajal tak dapat ditolak dan sudah saatnya ia harus meninggalkan dunia.

Saat meninggal dunia, keluarganya merawat mayat itu sesuai dengan keyakinannya, yaitu dengan tata cara Hindu, mayat harus di bakar. Rupanya muncul keanehan, tubuh si mayat tidak hangus terbakar. Bahkan sehelai rambut pun tidak lenyap dimakan api. Akhirnya keluarga sepakat untuk menghanyutkannya di sungai. Pada malam harinya seorang syekh yang hidup di Burhaniyun mendapati mimpi dikunjungi oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani. Beliau berpesan, “Mayat orang Hindu yang terapung di sungai adalah muridku, angkatlah dan dikubur sebagaimana tata cara Islam karena ia seorang muslim. Mengapa sosok mayat itu tidak hangus terbakar api? Hal ini karena Allah telah berjanji padaku tidak akan membakar murid-muridku dari api dunia dan api neraka”.

Kisah lain datang dari Timur Tengah, antara Syekh dan muridnya. Sang murid bertanya kepada gurunya,”Ya Syekh, apa yang engkau akan lakukan jikalau engkau mendapatiku sedang berzina dengan mata kepalamu?” Kemudian Syekh tersebut menjawab, “Wahai muridku, aku tidak akan menghukummu, tapi aku akan bersedekah sebanyak-banyaknya untukmu untuk menghapus dosa-dosamu dan aku akan meminta ampunan kepada Allah untukmu karena aku adalah seorang guru yang harus mencintai siapapun muridku”

Kisah lainnya berasal dari ulama masyhur di Indonesia, Syekh Kholil Bangkalan. Dikisahkan salah satu santri Syekh Kholil yang sangat nakal. Akibat ulah nakalnya, pengurus pondok sampai kewalahan untuk mengurusi santri tersebut dan berniat mengeluarkannya dari pondok. Kemudian ketika salah satu pengurus sowan kepada Syekh Kholil dan mengutarakan jika ada santrinya yang sangat nakal, pengurus menyarankan untuk mengeluarkan santri tersebut. Tak disangka, Syekh Kholil bukan menyuruh menghukum atau mengeluarkan, beliau justru meminta nama santri tersebut dengan tujuan untuk didoakan dan beliau memintakan ampunan kepada Allah serta mendoakan muridnya agar dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa hubungan antara guru dengan murid bukanlah hubungan yang biasa-biasa saja. Tidak hanya hubungan dhohir tapi sudah pada tahap hubungan batin. Dengan demikian, sepatutnya antara guru dengan murid harus saling menghormati, saling mengasihi, dan saling mendoakan. Sebagai murid, jangan sampai ada rasa tidak suka kepada guru walaupun hanya secuil karena semua guru pasti mempunyai tujuan yang sama, yakni ingin muridnya menjadi orang yang bermanfaat dan selamat, baik di dunia maupun akhirat. Begitu pula dengan guru yang harus mengasihi semua murid tanpa memandang kekurangan.

Oleh: Nidia

Foto: mubakid.or.id

Leave a Comment