Bulan Muharram adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan. Ada banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram ini salah satunya adalah peristiwa taubatnya Nabi Adam as. Dikisahkan dalam hadis Nabi saw. dalam Sunan at-Tirmidzi. Rasulullah saw. bersabda:

إِنْ كُنْتَ صَـائِمًا شَهْرًا بَعْدَ رَمَضَانَ فَصُمْ الْمُحَرَّمَ، فَإنَّ فِيْهِ يَوْمًا تَابَ اللهُ فِيْهِ عَلَى قَوْمٍ، وَيَتُوْبُ فِيْهِ عَلَى آخَرِيْن

“Bila seseorang puasa sebulan setelah bulan Ramadhan, maka puasalah di bulan Muharram. Karena di bulan itu, hari-hari ketika Allah Swt. menerima taubat suatu kaum, dan menerima taubat kaum-kaum yang lain.”

Kata “kaum” dalam hadis di atas, dipahami oleh para ulama salah satunya adalah Nabi Adam as. Sebagaimana keterangan yang dijelaskan di dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab, bisa menguatkan pendapat ini. Di dalam kitab dikatakan bahwa:

صحَّ مِنْ حَدِيث أبي إسحاق عن الأسْوَد بن يَزيد أَنَّهُ قال: “سَألْتُ عُبَيد بن عُمَير عَنْ صِيَام يَوْمَ عَاشُورَاء؟ فقال: الْمُحَرَّم شَهْرُ الله الْأصَمّ فِيْهِ تيب عَلَى آدم عليه السلام فَإنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَمُرَّ بِك إلّا صُمْته فَافْعَلْ

“Ibnu Rajab telah mensahihkan sebuah hadis dari Abu  Ishaq dari al-Aswad bin Yazid bahwasanya ia berkata: Aku bertanya kepada Ubaid bin Umair perihal puasa di hari ‘Asyura, ia menjawab: Muharram adalah bulan Allah yang penting (al-ashamm).  Di dalamnya Nabi Adam diterima taubatnya. Bila kamu mampu untuk tidak melewatinya tanpa puasa, maka puasalah.”

Dari keterangan yang dijelaskan di atas dapat diketahui bahwa peristiwa taubatnya Nabi Adam terjadi di bulan Muharram. 

Karena terbujuk oleh rayuan syaitan, Nabi Adam melanggar larangan Allah untuk tidak memakan salah satu buah yang ada di surga, sehingga Allah menurunkan Nabi Adam dan istrinya, Hawa, ke bumi, seperti yang dijelaskan dalam firman Allah Q.S. Al-Baqarah ayat 36-39. Nabi Adam bertaubat seraya memanjatkan doa kepada Allah yang dapat kita temukan dalam QS. Al-A’raf: 23.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِين

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Peristiwa taubatnya Nabi Adam di bulan Muharram yang penuh kemuliaan ini, diharapkan mampu menjadi refleksi bagi diri untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan terus memperbanyak ibadah, termasuk berpuasa. Dengan berpuasa selain banyak sekali manfaat dan pahala yang diberikan oleh Allah, juga bisa menjadi sarana diri kita untuk menjaga diri dari segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada dosa. Semoga kita adalah bagian dari orang-orang yang bertakwa dan bertaubat. Amin.

Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh : Eka Novitha Utami

Sumber: Tafsiralquran.id

Foto oleh Skitterphoto dari Pexels

Leave a Comment