Sudah hampir usai.
“Sahur..sahur..”
Empat pagi, terkantuk namun sekedar tiga kurma harus tetap di lahap masuk.
Atau satu piring nasi dengan kecap, tak lupa telur mata sapi hangat dibuatkan ibu.
Pula, hanya air putih karena terkantuk, terjaga semalam suntuk.
Siang hari akan terus berkawan dengan lemas-lesu.
Tidurnya orang berpuasa diganjar pahala, guru mengaji ku mengatakannya begitu.
Ngabuburit tradisi mengejar maghrib.
Kolak pisang, pun Tjampolai menggoda melambai.
Dua puluh rakaat tarawih dan tiga witir, disambung melafal “nawaitu shouma..” untuk esok hari.
Atau malu terlanjur sujud saat imam hendak qunut, di separuh akhir bulan baik ini.

//

Sudah hampir usai.
Ketika terjaga lebih sedikit dari pulas tertidur.
Saat tengadah tangan lupa karena terlanjur menggemgam gawai, obat kantuk paling manjur.
Ketika malam paling baik dari 1000 bulan, lupa dikejar akibat mengejar kesementaraan.
Akhirnya perpisahan menjadi pengingat paling baik dalam kelalaian.
Kebaikan belum direngkuh sepenuhnya.
Ramadan datang dan pergi terlalu cepat begitu saja.

//

Untuk Ramadan,
Sampai aku menemui-mu lagi di tahun depan.
Semoga Tuhan masih memberi kesempatan.

Cirebon, Mei 2020

Oleh: Nadiya Qothrunnada

Gambar oleh Bruno /Germany dari Pixabay

Leave a Comment