Makna Al Insyirah: Kemudahan Di Celah Kesulitan

Diposting pada 52 views

Salah satu tujuan turun surah ini, yaitu untuk menanamkan optimisme, khususnya kepada orang yang ragu-ragu. Surat ini berbicara tentang anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad dengan tujuan supaya beliau tetap optimis menghadapi masa depan. Selain itu, ditujukan juga kepada umatnya agar selalu optimis menghadapi masa depan.

Ayat 1

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Artinya: bukankah kami telah melapangkan untukmu (Nabi Muhammad Saw) dadamu (yakni hatimu?)

Lafal Syarakha mempunyai makna salah satunya adalah melapangkan dada. Cerita Nabi Musa, beliau memohon kepada Allah untuk diberikan kelapangan dada. Akan tetapi Nabi Muhammad tidak perlu meminta hal itu karena langsung diberikan oleh Allah.  Hal itu menunjukkan bahwa yang terpenting bagi kita adalah menyadari bagaimana dada itu dilapangkan oleh Tuhan. Salah satu cara melapangkan dada adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah swt. Menghilangkan hal-hal negatif dari kalbu kita. Kalbu diibaratkan dengan sumur. Kalau ingin sumurnya dalam dan lebar, maka keluarkan batu-batu dan kotoran di dalamnya.

Karena itu ada ayat yang berbicara tentang orang yang berhadapan dengan nabi dengan hormat dan suara yang lemah lembut, dikatakan mereka itulah yang dilapangkan dadanya oleh Allah supaya dapat menerima nilai-nilai ketakwaan. Melalui ibadah dan ketaatan kepadaNya, hati akan menjadi lapang.

Ayat 2

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

“dan kami telah menanggalkan darimu bebanmu”

Baca Juga:  Menggabungkan Niat Ibadah, Apakah Boleh?

Sebelum datangnya Islam, ada beban yang dipikul nabi. Beliau melihat keadaan umatnya yang dalam keadaan sesat. Perhatian nabi kepada masyarakat jauh sebelum turunnya wahyu. Beliau memikirkan jalan keluarnya. Kemudian turunlah wahyu ayat 2.

Ayat 3 & 4

ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهْرَكَ

“yang memberatkan punggungmu”

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“dan kami meninggikan bagimu sebutan (nama)-mu”

Nama beliau itu harum walaupun di kalangan orang orang yang tidak menganut ajaran Islam, selama bersifat objektif.

Ayat 5 & 6

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرً

“maka (dengan demikian menjadi jelas pula bagimu bahwa) sesungguhnya bersama (atau sesaat sesudah) kesulitan, ada kemudahan. (yang besar)”

Jadi, jangan beranggapan bahwa kalau ada kesulitan tidak ada jalan keluarnya. Bersama kesulitan, di celahnya ada kemudahan. Mata jangan hanya tertuju pada kesulitan itu, tapi carilah celahnya yang terdapat kemudahan.

Makna ayat yang diulang tersebut, menunjukkan tidak mungkin satu kesulitan dikalahkan oleh dua kemudahan. Kalau ada 1 kata yang diulangi dan kata itu berbentuk berawalan “al” (alif lam), maka kata yang pertama sama dengan kata yang kedua. Tetapi kalau tidak menggunakan dengan “al” maka yang pertama berbeda dengan yang kedua.

Ayat 7

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

“maka apabila engkau telah selesai (yakni sedang berada dalam keluangan setelah engkau sibuk) maka (bekerjalah dengan sungguh sungguh) hingga engkau letih.”

Jangan berhenti bekerja walaupun sudah letih. Sampai menciptakan sesuatu hal yang menonjol. Bekerja bentuknya bisa bermacam”.

Ayat 8

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

“dan hanya kepada Tuhan Pemeliharamu hendaknya engkau berharap (pertolongan)”

Kalu kita mengaitkan diri kita dengan tuhan dan optimis, yakin lah Allah akan memberikan jalan keluar. Itulah yang dinamakan taufiq, yaitu persesuaian kehendak kita dengan kehendak tuhan.

Maka optimis lah dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kita berharap.

 

Oleh: 6A

Sumber: Youtube

Photo by  Anne Nygard on unsplash