Meneladani Toleransi Gus Dur

Diposting pada 41 views

Siapa yang tidak kenal dengan Sosok Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur? Beliau adalah presiden keempat RI. Beliau lahir pada 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Nama aslinya adalah Abdurrahman Addakhil. Beliau merupakan putra sulung dari KH. Wahid Hasyim dan cucu dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama. Dari pihak Ibu, Gus Dur merupakan cucu dari KH. Bisri Sansuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Bagi Gus Dur, merawat toleransi merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antar umat beragama. Toleransi itu tidak hanya untuk menciptakan, tetapi juga merawat. Gus Dur sadar betul bahwa keharmonisan harus dijaga karena akan sulit memulihkan bila sudah retak.

Oleh karena itu, setiap bangsa, termasuk Indonesia, tentu tak lepas dari keberagaman umat di Indonesia, yakni ragam akan keyakinan, kelompok, ras, dan etnis. Sebuah Negeri di mana semua tumbuh dengan tanpa rasa takut.

Negeri ini tidak didirikan atas dasar kelompok tertentu, tetapi keragaman. Di Indonesia, keharmonisan akan rapuh sendiri bila ada benturan kepentingan. Beliau  menggambarkan akan muncul sikap saling menyalahkan. Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan bahwa masalah pokok dalam hal hubungan antar umat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan.

Baca juga

Menurut beliau, bangsa akan kokoh bila keberagaman umat beragama saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekadar saling menghormati.Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain.

Baca Juga:  Pak Muslih dan Kisahnya bersama Kamus Al Munawwir

Oleh karena itu, toleransi mengajarkan kita untuk menerima perbedaan tersebut tanpa harus berselisih dan berperang. Contoh halnya toleransi beragama di sebuah desa di Karanganyar, Jawa Tengah, yaitu Desa Ngargoyoso, di kaki Gunung Lawu, mungkin bisa menjadi potret toleransi. Di desa tersebut, terdapat tiga tempat ibadah, yakni masjid, gereja, dan pura yang berdiri berdampingan. Dengan adanya komunikasi yang baik dan sikap saling menghormati, membuat seluruh warga desa tersebut hidup dalam kedamaian walaupun berbeda keyakinan.

Oleh: Nasti Sulastri 

Pictured by islamramah.co

Sumber:

nu.or.id

megapolitan.kompas.com

m.liputan6.com