Muhadlarah ‘Ammah: Diplomasi Sejatinya Adalah Sunnah Rasulullah

Diposting pada 49 views

Dalam rangkaian acara Haul ke-34 Mbah Ali Maksum, terdapat banyak kegiatan salah satunya adalah Muhadlarah ‘Ammah atau Kuliah Umum yang digelar oleh Mahasantri Ma’had Aly Krapyak Yogyakarta. Muhadlarah ‘Ammah ini bertema “Kontekstualisasi Fiqih-Ushul Fiqih dalam Tatanan Dunia Baru: Pengalaman Diplomasi ala Santri” dengan narasumber Drs. KH. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag.

Beliau adalah Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi 2016-2021. Selain itu beliau juga orang Indonesia yang pertama kali tergabung di Organization of Islamic Cooperation (OIC). Organisasi ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika. Jadi yang dilakukan Pak Agus adalah hubungan multilateral, selain berdiplomasi dengan Arab Saudi, beliau juga melakukan diplomasi dengan negara-negara anggota OIC.

Pak Agus menceritakan bagaimana mengkontekstualisasikan fiqih-ushul fiqih di era sekarang. Beliau banyak bercerita pengalaman diplomasinya selama menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. “Saya di Arab Saudi itu bukan sebagai pejabat, bukan sebagai petinggi, tapi saya sebagai pelayan yang melayani Warga Negara Indonesia (WNI) yang di Arab Saudi. Karena سيد القوم خادمهم. Sayyid al-Qoumi Khodimuhum. Pejabat suatu kaum adalah pelayan kaumnya. Saya kembali ke sini, ke Krapyak pun bukan semata karena pembahasan Ushul-Fiqh ini, tapi Fiqh Ushul yang berarti mengetahui asal-usul. Asal saya adalah santrinya Mbah Ali Maksum, santri Krapyak, maka hari ini saya kembali dengan niat utama bersilaturahim dan kembali ke asal saya sebagai santri Krapyak.” tutur Pak Agus.

Baca Juga:  Dari Santri sampai ke Negeri Unta

Selama menjadi Dubes, pengabdian dan kontribusi beliau sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia seperti halnya Raja Salman berkunjung ke Indonesia, membebaskan korban hukum pancung para TKI, Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam Festival Janadriyah (merupakan festival budaya terbesar abad 21), penambahan kuota jamaah haji, Presiden Jokowi mendapat kehormatan untuk masuk ke Ka’bah dan Makam Rasulullah yang memang bukan sembarang orang diperbolehkan masuk, dsb.

Budaya diplomasi, delegasi, utusan, perwakilan sejatinya adalah sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Langkah pertama yang saya lakukan ketika menjadi duta besar bersumber dari nadhom Imrithy وَالنَّحْوُ اَوْلَى اَوّلاً اَنْ يُـعْلَمَا . Saya menafsirkan lafadz “nahwu” disini sebagai “arah”. Arah diplomasi harus jelas. Tujuan diplomasi harus jelas,” terang Pak Agus.

“Saya tidak bangga dengan jabatan Duta Besar, tapi saya sangat bangga mempunyai label santri, karena label santri ini tak terhingga, sampai mati. Kalau kumpul dengan raja, menteri, pangeran itu sudah biasa. Paling nikmat itu kumpul dengan santri. Duta Besar atau jabatan lain hanyalah pangkat duniawi yang bersifat temporer. Silaturahim kesantrian tidak boleh luntur hanya karena jabatan yang bersifat temporer.” tambah Pak Agus.

Pak Agus bukan dubes yg feodal, karena beliau ditugaskan untuk melayani WNI di Arab Saudi, siapapun boleh menghubungi, boleh menelepon, karena beliau bertugas bukan hanya untuk pamer jas, tetapi untuk mengayomi dan melayani rakyat Indonesia di Arab Saudi. Terutama mereka yang lemah, semisal TKI. Pak Agus berpegang dengan hadits Nabi

  …فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

Maka sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian…

Meskipun sudah banyak kerja-kerja diplomasi yang Pak Agus lakukan, beliau menekankan untuk tidak berbangga dengan kebaikan-kebaikan yang sudah berlalu. Beliau mengutip salah satu maqolah di kitab “Nashaihul ‘Ibad”.

 و من علامة السعادة ذكر الذنوب الماضية و نسيان الحسنات الماضية 

Dan dari tanda-tandanya orang yang bahagia adalah mengingat dosa (keburukan, kesalahan) yang telah lalu dan melupakan kebaikan yang pernah dilakukan.

Sehingga kita sebagai manusia tidak stuck memikirkan kebaikan yang sudah lewat, namun lupa memperbaiki kesalahan di masa lalu. 

Baca Juga:  Di Balik Santri yang Sukses Ada Mimpi yang Berjamaah
Kaidah dalam Diplomasi

Pak Agus kemudian mengibaratkan diplomasi ke dalam tiga kaidah, antara lain:

  1. Ketika kamu paham dirimu, tahu kemampuanmu, kemudian paham negaranya, budayanya, adat-istiadatnya, antropologinya, sosiologinya, dll. Anda boleh melakukan diplomasi apapun. 1000 kali diplomasi pun kemungkinan besar akan berhasil.
  2. Ketika kamu paham dirimu, tahu kemampuanmu, namun tidak paham negara tempatmu berdiplomasi. Kemungkinan kamu tidak berhasil, meskipun tahu diplomasi. 
  3. Ketika kamu tidak tahu dirimu, tidak punya kemampuan diplomasi, tidak tahu kondisi dan latar belakang tempat diplomasi. Koe iku ibarat mayit sing dadi dubes.

Sedangkan kita dituntut untuk menjadi seperti di kaidah pertama.

Saat melakukan diplomasi pun diperlukan strategi-strategi. Pak Agus Maftuh seringkali menyitir syiir-syiir pujangga Arab untuk dimaknai sesuai dengan tujuan diplomasi. Diplomasi juga terkadang lewat hiburan semisal lagu, ini yang kemudian disebut oleh Pak Agus sebagai Diplotainment, Diplomacy – Entertaiment. Satu hal yang digarisbawahi dalam berdiplomasi adalah jangan pernah ikut campur perihal ideologi, teologi, atau kepercayaan di negara tersebut, karena itu hal yang sangat sensitif.

Sebagai penutup Pak Agus menuturkan sebuah kutipan:

الدفلوماسية للمصالح الرعية

“Ad-diplomasiyah lil-mashalihi ar-ra’yat”. Diplomasi adalah untuk kemashlahatan rakyat.

 

Oleh: Hanin Nur Laili

Sumber: Youtube.com

Photo by Dokumentasi Media Yayasan Ali Maksum Krapyak