Al Munawwir Komplek Q

Menjelang maulid Nabi Muhammad saw.—beberapa hari yang lalu—sebagian besar umat muslim di dunia dibuat geram oleh pernyataan presiden Prancis yang dinilai menghina Islam dan memperpecah kesatuan umat beragama. Selain itu, muncul laporan bahwa presiden Prancis memproyeksikan karikatur Nabi Muhammad saw. yang dipajang di gedung pemerintahan Montpellier dan Toulouse dengan potret

Hidup adalah sebuah perjalanan Lika-liku akan selalu menyertai sebagai  ujian Kegagalan, berperan  untuk bukti keseriusan Sukses,jaminan untuk yang berjuang Bangkit awal mula sebuah  keberhasilan Menyerah,kesempurnaan awal membentuk penyesalan Kesalahan  adalah hal wajar yang dilakukan manusia sebagai insan Kemudahan  hadir sebagiai pertolongan Tuhan Orang tua motivator terbaik dalam sebuah perjuangan Harapan

Selasa (04/02) Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q mewisuda 28 santri yang sebelumnya telah menyelesaikan Tugas Akhir. Acara yang bertempat di halaman musala barat ini dimulai pukul 08.00 WIB. Penampilan Hadrah Tsamrotul Muna membuka acara wisuda sekaligus mengiringi wisudawati memasuki panggung acara. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Syarifah Qurrota

Akhir-akhir ini media sedang diramaikan dengan suatu tagar “Indonesia Terserah”. Guru Besar Psikologi  Sosial UGM, Prof. Faturochman menilai munculnya “Indonesia Terserah” merupakan bentuk protes para tenaga medis terhadap pemerintah dan masyarakat. Menurut beliau,  para tenaga medis mengharapkan adanya kebijakan yang tegas dari pemerintah. Selain itu, tagar ini juga dianggap sebagai

Sosok ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatian dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya maupun ruang lingkup nasional. Beliau lahir pada tanggal 17 Desember 1937 di desa Kajen, Margoyoso, Pati. Beliau merupakan putra ketiga dari 6

Malam itu aku ingin sekali buang hajat, waktu itu pukul dua malam di mana para santri sudah tertidur dan suasana pesantren sangat sepi. Gelap gulita, gerimis tipis, serta angin yang meniup perlahan membawa hawa dingin, suasananya terasa horor. Aku yang sedari tadi menahan BAB di atas kasur, belum beranjak karena

Ingatanku jatuh pada satu jam lalu saat aku singgah sejenak di pesantren tempatku dulu pernah belajar mengaji dan menimba ilmu keagamaan. Aku tersenyum dan kutampakkan deretan gigi rapi yang sedari tadi hanya diam. Hanya ada suara hembusan napas yang keluar. Bagaimana bisa shalawat yang sedari tadi terus mengisi ruang hati