Akhir-akhir ini jika kita melihat berita di sosial media dan televisi banyak diberitakan tentang bencana banjir yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari banjir dengan ketinggian rendah, sedang, hingga tinggi bahkan banjir bandang. Terjadinya banjir ini pun tidak hanya di kota-kota besar yang memang notabenya kurangn penataan kota yang kurang bagus dan kurangnya lahan untuk menyerap dan menyimpan air. Akan tetapi, banjir sekarang juga sudah terjadi di kota-kota yang sebenarnya masih memiliki banyak tanah yang tidak tertutup oleh beton. Contohnya adalah banjir di daerah Batang, Janepoto, Gowa dan beberap daerah lainnya.

Baru-baru ini daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di Kota Makassr dan beberapa kabupaten di Sulawesi selatan di terjang banjir dengan ketinggian hingga dada orang dewasa. Banjir tersebut diakibatkan oleh kiriman air dari bukit dan meluapnya sungai-sungai di daerah tersebut. Banyak warga yang harus mengungsi karena rumahnya terendam air dan ada pula yang rumahnya ikut terseret derasnya air.

Banjir yang mungkin terlihat seperti bencana yang tidak terlalu besar dan mengkhawatirkan sebenarnya memiliki dampak yang besar bagi kelangsungan hidup masyarakat yang terkena banjir. Dampak yang merugikan seperti yang disebutkan di atas, seperti rumah-rumah hancur atau terseret air, air yang menjadi kotor dan tidak dapat diambil fungsinya, tanah longsor, jalanan yang rusak, bendungan yang jebol, hasil pertanian yang tidak dapat dipanen, kesehatan yang akan terganggu hingga yang paling parah adalah apabila sampai menelan korban jiwa.

Sejak akhir tahun 2018, BMKG memang sudah memberi peringatan terhadap warga akan curah hujan yang tinggi. Lalu apa sebenarnya penyebab banjir itu? Siapa yang salah? Apakah alam atau umat manusia atau pemerintah? Dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas bencana tersebut?

Apabila kita melihat alam sekitar kita, mungkin kita miris dengan kondisinya dengan banyaknya sampah yang dibuang sembarangan, pohon-pohon yang sudah mulai berkurang dan kota yang penuh dengan bangunan.

Jadi, sebenarnya adanya bencana alam seperti banjir itu tidak semata-mata karena Allah memberi peringatan kepada umat manusia. Akan tetapi, manusia juga menjadi penyebab utama adanya banjir tersebut. Baik masyarakat biasa hingga pemerintahannya. Mulai dari kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan baik di sungai, jalanan hingga saluran air, penebangan pohon yang tidak dibarengi dengan penanaman kembali, membangun bangunan-bangunan tanpa memikirkan drainase dan ruang hijau lainnya. Pemerintah dengan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang tega mengambil uang rakyat atau korupsi uang yang seharusnya digunakan untuk kemakmuran rakyat seperti memperbaiki drainase dan program-program mengatasi bencana alam lainnya.

Akan tetapi, dengan cara saling menyalahkan dan hanya saling menuntut satu sama lain, baik antar masyarakat maupun antara masyarakat dengan pemerintah sebaiknya kita mulai merubah dari diri sendiri dengan menjaga lingkungan. Dimulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak asal menggunduli hutan, menyisakan tanah untuk resapan air di daerah perkotaan, memperbaiki saluran-saluran air, dan ikut serta dalam mencegah adanya bencana alam.

Dengan cara seperti itu, diharapkan akan mengurangi bencana alam seperti banjir, tidak ada lagi korban meninggal karena banjir dan tidak ada lagi rumah-rumah yang rusak karena banjir. Adanya bencana juga dapat sebagai pengingat bagi kita bahwa alam juga memiliki kapasitasnya sendiri untuk mempertahankan kondisi alam ini, apabila sudah terjadi banyak ketimpangan di alam, maka alam akan dengan sendirinya menyeimbangkan kondisi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *