Ramadan sudah berlalu, apa kabar ibadah kita? Ehe

Tidak terasa tiga puluh hari kita sudah menjalankan kewajiban sebagai umat muslim pada bulan Ramadan, yakni berpuasa. Meski di tengah wabah Covid-19, di tengah keterbatasan untuk keluar rumah dan berkumpul bersama sanak saudara dan teman-teman, Ramadan tetap terasa spesial dengan khusyuk #dirumahaja.

Setelah berpuasa sebulan penuh, pada tanggal 1 Syawal seluruh umat muslim merayakan Idulfitri atau yang kerap kita sebut dengan Lebaran. Lebaran yang berarti lebar bermakna telah usainya kewajiban puasa.Salat idulfitri dilaksanakan. Ketupat dan opor ayam disajikan. Meski kali ini mudik dilarang, suasana lebaran selalu dirayakan dengan sukacita dengan penuh gegap gempita. Khusus pada hari ini umat Muslim diharamkan untuk berpuasa.

Meski Lebaran diartikan usai, bukan berarti ibadah kita juga usai. Di tengah berbarisnya prasmanan, lezatnya hidangan, segarnya jajanan yang menggoda iman ada ibadah puasa yang begitu sulit dilaksanakan. Yap, puasa Syawal.

Puasa Syawal adalah salah satu puasa sunnah diantara lima belas jenis puasa sunnah yang dihukumi sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Salah satu keutamaan puasa 6 hari pada bulan Syawal adalah pahalanya setara dengan puasa satu tahun. sebagaimana hadist Nabi

من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر (رواه مسلم)

Barangsiapa telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.

Sebagian orang meragukan hadist ini. Akan tetapi Syaikh Abdullah al Bassam mengungkapkan bahwa hadist tentang puasa Syawal tergolong hadist shahih dan memiliki periwayatan lain di luarMuslim yakni Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Oleh karena itu, hadist berpuasa 6 hari pada bulan syawal tergolong hadist mutawattir.

Praktik pelaksanaan puasa syawal sama sebagaimana puasa pada umumnya, hanya saja Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari, terhitung mulai tanggal 2 sd. 7 Syawal (ingat ya, bukan 1 Syawal). Meski redaksi hadist tesebut mengikutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, akan tetapi tanggal 1 Syawal menjadi penjeda. Setelah Ramadan usai, apakah stok semangat ibadah kita masih sama besarnya?

Selamat Hari Raya Idulfitri gesssss. Mohon maaf lahir dan batin. Peluk cium lewat online dulu, ya. Semoga Covid-19 segera berlalu!

Sumber :

Kitab Tahrir Tanqih al Lubab Kitab as Shaum.

Oleh : Ma’unatul Ashfia

Foto: freepik.com

Leave a Comment