Iraq, sekitar 900 tahun yang lalu. Seorang perempuan menuntun anaknya dari desa sebelum berangkat mencari ilmu ke pusat pengetahuan Islam kala itu (Baghdad). la menitipkan anaknya pada sebuah rombongan yang akan menuju kota itu. Di pertengahan jalan, rombongan itu dijarah oleh sekawanan perampok. Semua harta dirampas. Pada awalnya, anak kecil itu selamat. Karena harta yang tersimpan rapi, ibunya menjahit dan menyimpannya dibalik bajunya. Tapi, anak itu memberitahukan dimana letak harta itu. Para perampok terheran-heran dan bertanya “Nak, kenapa kau justru memberitahu pada kami dimana hartamu bila kau tahu kami akan mengambilnya?”

Dengan polosnya, ia menjawab “Sebelum aku berangkat, ibuku berpesan padaku untuk tidak berbohong pada siapa pun.” Para perampok itu menangis lalu mengembalikan semua harta jarahan kepada pemilik asalnya dan bertaubat seketika itu juga, bahkan mereka ikut serta dengan rombongan itu untuk pergi mencari ilmu.

Kelak, anak kecil itu menjadi ulama ‘kebanggaan kota Baghdad, Ia menjadi guru para sufi dan membuat ratusan ribu orang bertaubat di zamannya. Kelak ia dikenal dengan nama “Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani”.

Sebuah pelajaran penting, tentang pentingnya berpegang pada nasihat baik seorang ibu. Karena di sana ada jawaban, ada perubahan, ada jalan keluar, ada petunjuk dengan jutaan makna. Apapun nasihat baik ibu kita, amalkanlah, meski ia tampak biasa dan sederhana. Bersyukurlah atas nikmat ibu yang Allah berikan pada kita.

Oleh: Jessika Ahali Jannah

Foto: NU Online

Leave a Comment