Rintik rintik hujan tidak terbilang. Mengembun dibalik kaca depan teras rumah. Pagi ini sudah mendung tak beraturan tak sekedar cuaca, hati terikut pula. Bersama waktu, masa depan ini mengubah perlahan usia remajaku menuju usia-usia lebih dewasa. Perkuliahan yang akan aku hadapi dua bulan nanti dan meninggalkan sejuta kenangan putih abu-abu kemarin. Meninggalkan banyak kenangan manisnya bersama sesosok manusia yang tak pernah hilang dalam pikiran tiap hari bahkan waktu. Jariku menunjuk dan menggerakkan layar demi layar, tak percaya akan keputusan yang baru saja aku dapati 5 menit yang lalu.”Alhamdulillah Ya Allah” ucapku dengan rasa syukur tak terkira dan sedikit ketidakyakinan. Aku diterima di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan jalur raport dan lolos mendapatkan beasiswa. Kesenangan yang sekedar singgah sekejap karena keinginan dan cita citaku sebenarnya tidak di tempat ini melainkan ikatan dinas.

Rumah sederhana yang berukuran minim, cukup 3×8 meter ini nampaknya tak terdengar suara sedikit pun. Sudah tak sabar menunggu kedatangan bapak dan ibu dan mengabarkan akan berita bahagiaku itu. Pagi yang mendung ini membuat bapak dan ibu harus pulang awal dari sawah. Bagi  kami, sawah sebagai penghasil alat pemuas kebutuhan dikeluarga yang sederhana ini. Baru kali ini aku mampu membuat mereka bangga, ya tentunya karena beasiswa yang kudapatkan. Sehingga bapak dan ibu tak harus memikirkan beban kuliahku nanti. Apalagi jika mampu lolos diikatan dinas yang ku impikan selama ini akan sangat bahagia dan beruntung sekali.

******

“Ada apa anakku? Apa yang akan kamu katakan? nampaknya kamu sangat menantikan kedatangan bapak ibu?” tanya Bapak sambil meletakkan caping dipaku dinding yang sudah mulai berkarat.

“Bilqish diterima jalur snmptn  di UGM Pak, Buk, dan Bilqish lolos beasiswa yang otomatis bapak ibu tak perlu memikirkan biaya kuliah Bilqish. Tetapi hati Bilqish bimbang, apakah harus memilih antara universitas atau ikatan dinas yang telah Bilqish dapatkan. Bilqish ingin dapat memasuki ikatan dinas supaya bapak ibu tak perlu membiayai biaya tempat tinggal Bilqish” jawabku sedikit bimbang.

“Ibu tak mengizinkan kamu diikatan dinas”, ujar ibuku yang tiba-tiba nimbrung percakapanku dengan Bapak.

“Kenapa tidak boleh Bu? bukankah itu lebih baik? Ibu tak perlu kerja keras hujan hujanan demi membiayai Bilqish. Kalaupun di universitas, Bilqish harus cari kos atau pesantren untuk Bilqish tinggal. Dari mana uang sebesar itu Pak, Buk?” tanyaku sedikit tidak terima.

“Dengarkan nak, Bapak akan mengirimmu ke pesantren di Jogja. Masalah uang semahal mahalnya pesantren akan Bapak usahakan. Yakinlah semua itu berasal dari Allah. Dari Allah!!!!” nada yang sedikit membuatku tersentak.

“Ta..tapiii Pak. Bilqish tak mau masuk pesantren. Bilqish tak akan bisa mendapatkan apa yang Bilqish cita-citakan. Dikekang serasa penjara itu tidak enak. Ngga bisa main ini main itu. Nggak bisa sebebas anak kos, yang ada disitu Bilqish hanya bisa ngaji ngaji dan ngaji. Main hp pun pasti dibatasi. Bilqish ngga mau jauh dari Bapak dan Ibu, Bilqish ngga mau nangis di pesantren terus gara gara kangen sama Bapak Ibu. Pokoknya Bilqish mau ngejagain Bapak Ibu saja..sungguhhhh…..huuuhhhh…”, tuturku sembari mengambil nafas dan mengeluarkan perlahan-lahan.

“Nak, jujur Bapak berat banget buat melepaskan Bilqish. Bilqish cantik, Bapak Ibu bukan mau memasukkanmu ke jalan yang sesat. Kita berdua hanya ingin Bilqish selalu berada dijalan Allah agar nantinya jika kami telah tiada masih ada yang bisa mendoakan kami. Pokoknya selalu inget tujuan kenapa kamu harus berada di sana karena masih banyak yang harus diperjuangkan. Intinya kan kamu meninggalkan kami  bukan karena benci  atau adanya masalah, melainkan karena emang saatnya kamu buat berjuang di kota lain. Konsentrasi buat pendidikan dan menggali ilmu di pesantren. Kamu harus mandiri dan jangan ketergantungan terus dengan Bapak Ibu. Karena kita hidup di dunia ini kan nggak akan selamanya, suatu saat kita bakal ngerasain yang namanya mati dan kita nggak bakal hidup bersama kan? kalau ternyata Bapak atau Ibumu meninggal duluan??”, tutur Bapak dengan wajah menebar kasih sayangnya sambil memegang pundak dan memelukku erat-erat.

“Tanamkan dalam hatimu Al-Qur’an dan jadikan dia teman dalam hidupmu, Nak. Selamat berjuang jangan pernah melupakan Bapak dan Ibu. Doa kami akan selalu menuntunmu hingga akhir hayat kami. Harus tawadu’ sama kakak senior, terpenting tawadu’ sama Bu Nyai dan Pak Kyai karena merekalah pengganti kami disana nanti”, kata Ibu dengan suara lembutnya dan menciumku sambil menangis.

“Baik, Pak Buk. Dengan nama Allah Bilqish menuruti perintah Bapak Ibu. Aku akan meneruskan ke Pondok Pesantren. Jaga kesehatan Bapak Ibu disini dan maafkan atas semua kesalahan Bilqish selama ini.” aku pun berlalu meninggalkan Bapak dan Ibu karena tak mampu menahan air mata yang semakin deras.

******

Hari pertamaku menginjakkan kaki di tempat yang sangat asing bagi aku (Seorang Bilqish Aisya Azhary). Melihat bangunan putih berderet-deret kamar rayon berkepadatan penduduk seperti layaknya tahanan sel dengan ubin-ubin kotak berwarna putih, dinding tua yang sampai sedikit bermotif unik yaitu tumbuhan jamur hijau di pojokan kamar tua, almari yang begitu banyak menempel diujung tempat ini, tumpukan kitab-kitab di rak tua kamar baruku. Dengan wajah santri baru yang masih ketakutan, memeluk erat Al-Qur’an memandang langit melalui lantai 3 gedung pesantrenku dan itu  terasa sangat dingin padaku. Pandangan yang tak dapat dikecohkan oleh siapapun jika ingin menggangguku. Membuka Al-Qur’an dan  memandangi sesosok orang yang sangat istimewa yang selalu aku jadikan motivasi hidupku di Bumi Krapyak Tercintaku ini. Semakin ku pandang wajah dan membuatku semakin sadar. “Ya Allah, mudahkanlah setiap langkah perjalananku di kota ini dalam menuntut ilmu.” Bisikku sembari meneguk air dihadapanku yang sudah tak nampak asap panasnya.

“Ternyata kau ada disini Bilqish?” tanya Risa yang membuatku sedikit kaget.

“Eh..iyaa….a adaa apa Kak? kok kakak tahu nama Bilqish?” ucapku dengan sedikit tertegun dengan orang yang mendekatiku dan tahu siapa namaku.

“Alhamdulillah, Allah menakdirkan kami buat sekamar. Nama kakak Risa dan kakak 1 tahun diatasmu. Jika kamu perlu bantuan kakak siap membantumu sebisa kakak.” perkataan yang membuatku sedikit lega.

“Kak, Bilqish merasa takut di Pesantren. Apa setiap hari pesantren kehidupannya begini ya Kak. Orang-orang semua asing dengan Bilqish dan nggak ada rasa manisnya semua yang terjadi disini.”, pernyataaan yang tiba-tiba keluar dari mulutku.

“Dengar, dek. Dulu kakak juga ketika santri baru mengalami hal serupa. Namun nanti kamu akan merasakan nikmatnya, senangnya berada di sini. Yakin pada kakak, nanti kamu bakal mengerti dengan sendirinya”. Perkataan yang membuat hati plong, sembari mencoba menarik tangan ku dan membawa ku ke tempat wudhu karena bel saat itu berbunyi untuk melaksanakan sholat berjama’ah.

******

Setelah 10 hari di Pondok Pesantren, tepat ulang tahunku 25 Juli 2017

Awal hidup di Pondok Pesantren memang tak semudah yang orang-orang bayangkan. Aktivitas yang sudah terjadwal mulai dari bangun tidur, pengaosan Qur’an dan sorogan, Madrasah Diniyah, setoran hafalan, bahkan sholat lail, semua ada yang memantau. Keakraban kehangatan yang dengan cepat kurasakan bersama kakak-kakak kamar pondokku. Aku harus kembali menghafal ditempat favoritku yaitu diteras lantai atas gedung putih pesantren ini bersama telepon genggam yang ada dikiri tempat dudukku yang ku abaikan. Aku mulai menikmati manisnya berada di tempat ini

“Aku menunggu balasan chat 10 hari yang lalu darimu. Aku hanya ingin tau kabar dan keadaanmu saat ini.aku butuh kejujuranmu mengapa kamu mengabaikan pesan yang selama ini aku sampaikan? bukankah selama ini kamu selalu ada, fast respon ketika aku mencoba memulai komunikasi denganmu?”

Aku tersenyum ketika sesosok laki-laki yang selama ini selalu ada di setiap chat whatsappku muncul 10 hari lagi setelah aku berada di pondok. Begini saja sudah membuatku bahagia. Menjadi pemuja rahasia meskipun tak pernah aku berani mengungkapkannya. Aku memanggilnya kak Isyraf. Nama lengkapnya Isyraf Rais-Al Haq, lelaki dengan wajah tak terlalu tampan namun senang melihatnya karena akhlaknya yang sangat baik menurutku. Selain bibir yang manis yang selalu memberikan senyumnya kepadaku dia adalah temanku sejak kita kami satu kelas di SMP. Aku tak berani mengatakan cinta, namun hanya sekedar kagum.

“Kehidupan tak seharusnya memaksaku untuk meninggalkanmu sendiri. Kehidupan punya cara sendiri untuk menyeleksi dan kau tak bisa memilih yang terbaik, aku bukan orang yang terbaik untukmu. Namun yang terbaik yang akan memilihmu. Aku rela, jika suatu saat kau menemukan sosok wanita yang lebih baik untukmu. Yang ku lakukan hanyalah mencintaimu secara diam. Entah untukmu yang mana aku pun tak tahu. Biarkan Sang Robbi menyimpanmu untukku. Untuk saat ini aku tak bisa memberitahumu akan rasa cinta kepada hambamu. Karna ku yakin Engkau sang Illahi tahu apa yang ada didepan-Mu. Dari kejauhan, dengan kesederhanaan, dan keikhlasan mencintaimu  dalam diam. Jika benar cinta ini karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran-Mu. Karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepada Allah. Ahh, sudahlah, relakanlah, biarkan ia mencintai orang yang lebih mencintainya. Biarkan untuk saat ini aku rela cintaku tak terbalas. Cukup mencintai dalam diam. Bukan karena membenci hadirmu, tetapi menjaga kesuciannya. Bukan karena menghindari dunia, tetapi meraih surga-Nya. Bukan karena lemah untuk menghadapinya. Tetapi menguatkan jiwa dari godaan syetan yang halus dan menyusup. Cukup cintai dari kejauhan karena hadirmu tiada akan mampu menjauhkan dari ujian. Karena ku hanya ingin berjuang disini, meraih harapanku. Berjuang di penjara suci, di bumi krapyak yang menjadi saksi perjalanan hidupku. Biarkan, lepaskan kepergianku. Biarkan aku membalas semua rasa pengorbanan besar kedua orang tuaku. Bapak-ibu yang selama ini memberi harapan akan keberadaanku. Ku tak mau merusak semuanya karenamu. Hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan. Bahkan mungkin memang hanya membawa kelalaian hati yang terjaga. Cukup mencintamu dengan kesederhanaan. Memupuknya hanya akan menambah penderitaan. Menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para syetan. Bimbang, rasa yang terus menerus dibenakku. Terkadang aku berpikir untuk sampai disini. Tapi aku menengok ke belakang dan ternyata masih ada orang yang sangat berharap besar kepadaku. Tanggungjawab pun akhirnya datang kembali. Entah kenapa itu membuatku kembali semangat untuk meninggalkanmu. Demi orang tua dan cita-citaku. Namun, ahh rindu itu sering muncul. Tidak salah karna rindu datangnya dari hati, persis seperti cinta. Kita tidak bisa mengatur kepada siapa kita jatuh cinta. Tapi kita bisa mengatur kemana arah Cinta sejati kita? Ya tentu ke Robbul Izzati arahnya”

Aku terpaku menulis kalimat yang tiba-tiba jariku menggerakkannya dilayar handphone. Secepatnya ketikan itu ada dalam chat kak Irsya dan aku sadar secepatnya ku memindahkan dalam notes dan menghapusnya. Kembali membiarkan chat kak Irsya hanya sekedar ku read saja suatu saat ku akan mengirimnya sebagai bukti bahwa aku tak menghianatinya. Aku juga akan menjadi orang yang sangat galau jika berada dikejauhan. Tapi kupikir ini terbaik karena ku tak akan fokus kesana. Fokusku untuk saat ini hanyalah Al-Qur’an ku dan kuliahku agar ku dapat mencapai masa depanku.

“Bilqishku..”

“Apa yang tiba-tiba membuatmu seperti ini padaku? apa aku sudah menyakiti hatimu?”

“Tidak, Kak. Sungguh. Hargai keputusan ku saat ini suatu saat kakak akan tau yang terbaik secepatnya. Pintaku jangan pernah tinggalkan sholat, ngaji, dan jaga mata jaga hati untuk seseorang yang ku doakan itu terbaik untukmu. Jika kita berjodoh kita akan dipertemukan lagi.”

Chat kami pun terhenti sampai di sini. Kakak Irsya pun sangat menghormati dan menghargaiku dengan ia tak juga membalas 1 kalimat yang ku berikan. Sejak saat itu aku mulai merelakan dia dan aku harus fokus dengan hafalan dan harapan orang tuaku. Dan mulai saat itu aku menutup tirai Krapyak akan semua kenangan di masa laluku.

Sebuah peristiwa yang sedikit menyayat hatiku, ini benar benar seperti bahagia yang sampai setinggi langit namun harus dijatuhkan begitu saja namun sakit nya membekaas sekali. Aku tidak membayangkan jika ternyata akhir cinta ku berakhir nestapa, tragis..aihhh…hishh…tak percaya jika Kak Irsya yang sudah 6 tahun memenuhi chat ku tiba-tiba hilang dari peredarannya. Aku sudah tak punya kekuatan untuk menghadapi kehidupan di pesantren ini dan saat itu aku merasa seperti berada di titik terendah. Bisa dikatakan se-down-down nya.

Selama beberapa bulan ini aku hampir diperbudak oleh tugas perkuliahan, laporan praktikum, bahkan response dan persiapan ujian semester. Setelah ini aku tak lagi memikirkan percintaanku, aku merasa mampu menekuni hafalan dan kuliahku.

******

“Gimana dengan hafalan dan kuliahmu dek?” tanya Kak Risa yang saat ini menekuni S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta semester 3 dan mendekatiku tiba-tiba.

“Alhamdulillah ,berkat doa Bapak Ibu dan atas ridlo Allah aku masih mampu bertahan sampai saat ini. Aku mampu menemukan jati diri ku sebagai manusia. Aku sadar bahwa aku harus memberikan mahkota untuk Bapak Ibu ku disurga. Jadi ketika aku sedang kehilangan semangat aku hanya sering inget apa kata-kata kyai dan guru-guru tentang keistimewaan penghafal Al-Qur’an bahwa orang tua si penghafal Quran akan Allah muliakan. Keduanya diberikan mahkota yang cahayanya melebihi sinarnya matahari. Juga jubbah kemuliaan. Yahhh meski masih proses perjuangan.”

“Sebenarnya Kakak sangat merindukan pesan-pesan ibu. Dan saat ini hanya aku yang mampu memotivasi ku sejak ibu kakak harus pergi ke rahmatullah. Terus berjuang dek, kakak bangga sama kamu dengan pemikiran yang sangat tak mampu kakak fikirkan. Sukses mondok, sukses kuliah ya.”sambil memeluk ku erat-erat.

“Kamu bukanlah orang yang dengan mudah mendapatkan apa yang kamu ingin nakk, tapi kamu harus percaya bahwa Allah sangat yakin kepadamu bahwa kamu harus berjuang berusaha keras mendapatkan apa yang kamu ingin..bukan masalah hasil.Allah mampu dengan mudah memberimu secara langsung. Namun Allah akan melihat seberapa usaha kamu untuk mendapatkannya. Namun kamu harus percaya dan yakin. Satu prinsip yang harus kamu pegang nak, tanamkan kalimat ini dalam hatimu…’aku bukanlah orang yang punya, namun aku adalah orang yang kaya because I have Allah in my life. Kelebihanku adalah jika orang lain belajar 2 jam aku harus belajar 4 jam. Jika orang lain 4 jam aku harus 8 jam. Jika orang lain tidur aku harus bangun.’. Urusan hasilmu sudah Allah yang mengatur. Disaat semua tidak sesuai harapan tetap semangat jangan patah semangat nakk, percaya bahwa Allah akan memberimu yang lebih baik dan lebih indah. Rencana Allah itu lebih baik dari rencanamu. Jadi tetaplah berjuang dan berdoa hingga kau kan menemukan bahwa ternyata memang Allah memberikan yang terbaik untukmu. Jadikan dalam hatimu dan kamu harus berusaha menjatuhkan hatimu untu Krapyak karena dengan Krapyak kau akan menjatuhkan cintamu pada Allah, bapak ibu, dan semua orang yang menyayangimu”

Mata ku dan Kak Risa berair bahkan sudah tak dapat dibendung. Air mata membahasahi kami setelah aku memyodorkan surat ke Kak Risa dan dibaca dengan penuh penghayatan. Surat ini adalah  yang ibuku berikan yang selama ini belum kuat aku buka .

******

Belum sampai 1 tahun ku menghabiskan dilingkaran pesantren, kebahagiaan dengan keluarga baru kakak-kakak yang selalu memotivasi dan yang membuat aku betah bertahan disini, di bumi Krapyak tercinta. Menemukan rasa cinta lebih kepada Allah, para rasul, dan cinta kepada orang tuaku. Krapyak sebagai saksi bisu perjalananku dan perjuanganku akan semua harapan serta cita-citaku. Sejak saat itu, Krapyak adalah telaga cinta bagiku. Bagiku, seorang pejuang mimpi dan pejuang cinta sejati meskipun rasa pahit yang harus kualami dalam menembus tembok harapan.

(Oleh : Zeni Rizkiyati)

Leave a Comment