Apa yang terlintas di benak masyarakat awam ketika mendengar kata “santri”? Beberapa orang mungkin memaknainya sebagai sosok yang udik dan ketinggalan zaman. Beberapa yang lain mungkin memiliki pandangan bahwa santri adalah manusia yang alim, sisanya bahkan menganggap bahwa keberagamaannya terkesan eksklusif. Persepsi tersebut terbang liar begitu saja hingga para santri mau bergerak untuk mengubah paradigma lama mengenai sosoknya menuju paradigma baru bahwa santri adalah agen intelektual sekaligus spiritual peradaban.

Beberapa waktu yang lalu, ada tawaran oleh salah seorang teman untuk mengajar tahfiz bagi anak-anak Madrasah Ibtidaiyah. Awalnya, saya merasa belum pantas mengajar sekaligus merasa bahwa ilmu yang saya miliki belumlah banyak. Perasaan itu seolah-olah dibenarkan oleh berbagai jenis pelanggaran (takzir) ketika saya nyantri di pondok pesantren akibat ngaji saya yang tidak memenuhi target. Singkatnya, saya abaikan ajakan teman saya hingga saya melihat kanal YouTube milik Najwa Shihab yang menampilkan video dialog antara Prof. K.H. Quraish Shihab dengan K.H. Bahauddin Nur Salim atau akrab disapa dengan Gus Baha. Video tersebut disajikan dalam tiga episode, dan setiap episodenya memiliki tema yang berbeda.

Di dalam video yang dikemas secara interaktif, Gus Baha selalu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dan Prof. Quraish Shihab tampak melengkapi setiap jawaban dari Gus Baha. Mereka sesekali bercanda, dan terlihat bagaimana dua orang berilmu ini saling berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana namun bernas. Tujuannya tentu jelas, agar orang-orang awam macam saya ini bisa memahami substansi dialog mereka dengan mudah. Di video tersebut, ada yang menarik perhatian sekaligus mengusik pikiran saya. Salah seorang penonton memberikan pertanyaan mengenai mana yang lebih penting, melaksanakan kurban atau akikah (bagi yang belum melaksanakan akikah)?”.

Gus Bahakemudian memberikan tanggapan dengan beberapa perspektif, salah satunya dikemukakan dengan kalimat beliau: “Dalam konteks rivalitas, ada pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh orang batil, pelaku maksiat ini mayoran terus. Yang lain ini orang-orang saleh, komunitasnya tempe terus, tahu terus. Akhirnya, masyarakat berutang jasa kepada orang fasik, kepada orang yang tidak benar ini. Menurut saya, orang saleh di daerah ini kalau mempunyai kemampuan, maka wajib berkurban supaya timbul efek, Al Insan Abdul Ihsan, supaya orang-orang ini (masyarakat) utang jasanya kepada orang saleh.

Sementara itu, perihal ajakan untuk mengajar tahfiz menjadi semakin panjang. Saya memikirkannya dalam-dalam selama hampir 4 jam. Lagi-lagi, pikiran saya terusik oleh kalimat dari Gus Baha: “Keinginan saya menerangkan hukum Allah itu bukan karena saya ingin dikenal, tetapi supaya hukum Allah itu dikenali, dipahami. Al Insan Abdul Ihsan, manusia itu budaknya kebaikan. Ihsan kepada siapa pun, agar orang-orang itu utang jasanya kepada orang ihsan, bukan (orang) yang maksiat”. Akhirnya, kita patut merenungi bahwa sejak memutuskan menjadi santri, sejatinya kita telah memikul tanggung jawab untuk mengajarkan ilmu yang telah kita dapatkan.

Jika kita menilik realitas zaman sekarang, kita dapat menemukan banyak fenomena keberagamaan baru di kalangan anak muda yang merebak di media sosial. Sebagai contoh, “hijrah” yang diglorifikasi oleh kelompok tertentu sebagai tren beragama muslim milenial. Tak jarang, beberapa dari mereka disemati gelar sebagai pendakwah atau ustaz, khususnya bagi mereka yang memiliki privilese. Sedangkan, kita (sebagai santri) mengetahui bahwa proses beberapa dari mereka dalam belajar ilmu agama bisa terbilang baru. Beberapa dari mereka bahkan memberanikan diri berbicara di depan publik awam dengan spirit ballighu ‘annii walau aayah. Di sisi lain, banyak santri yang sudah mondok untuk belajar agama selama belasan bahkan puluhan tahun, merasa malu, merasa tidak pantas, merasa belum cukup ilmu, dan berbagai dalih lainnya. Sepertinya, paradigma mengenai bentuk tawaduk santri harus digeser dari “tidak berani tampil” menuju “berani tampil” mengingat dinamika zaman serta realitas sosial yang dihadapi.

Seiring berkembangnya teknologi digital, banyak anak muda yang akhirnya mendapatkan materi agama dari internet, atau bahkan menjadikannya sebagai tempat untuk belajar agama. Internet memang gudangnya ilmu pengetahuan, namun sekaligus menjadi pemicu tersebarnya berbagai disinformasi akibat minimnya kapabilitas pengguna. Internet memang membuat kita cerdas, tetapi internet mungkin saja membuat kita menjadi bodoh, atau bahkan kejam. Mengapa? Kita dibiarkan sendirian berada di balik layar untuk menentukan arah baik maupun buruk. Sependek amatan saya, banyak sekali orang yang berdebat, bukan berdiskusi, banyak orang menghina, bukan mendengar.

Internet mampu menghadirkan kebebasan peran bagi siapa pun, memiliki atau tidak memiliki privilese tertentu. Banyak anak muda yang mengambil perannya untuk menyebarkan ajaran agama, banyak juga anak muda yangfokus pada tren “hijrah”. Dalam konteks beragama, lantang berpidato di muka umum namun minim ilmu tentu sangat berbahaya. Lebih buruknya, orang-orang yang ada di lini ini cenderung tidak mengembangkan kebiasaan berpikir kritis yang bisa menstimulus pikiran untuk terus belajar, mengevaluasi, serta menatap berbagai perubahan sosial dalam masyarakat. Alih-alih kritis, orang-orang ini malah terjebak pada doktrin-doktrin kaku dan jumud.

Fenomena lain, banyak dari masyarakat perkotaan kita khususnya di daerah metropolitan, baik mahasiswa maupun orang tua, dalam menyelami keilmuan agama, cenderung lebih mudah percaya kepada personal yang memiliki kedudukan sebagai public figure seperti selebriti atau influencer ketimbang kiai dan ulama. Tidak hanya dalam hal agama, matinya kepakaran pun terjadi di dalam berbagai hal. Tom Nichols dalam bukunya “The Death of Expertise” menyebut bahwa dalam kehidupan pribadi, kita cenderung sedikit lebih pemaaf karena kita adalah makhluk sosial yang menginginkan penerimaan dan kasih sayang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Di lingkungan sosial terdekat, kebanyakan dari kita merasa kompeten dan dapat dipercaya, dan kita menginginkan orang lain menganggap kita seperti itu juga. Kita semua ingin dianggap serius dan dihormati. Pada praktiknya, agar tidak dianggap bodoh, kita berpura-pura lebih pintar dari yang sebenarnya. Lama kelamaan, kita bahkan mulai percaya bahwa kita sepintar itu.

Melihat serta merenungi berbagai fenomena yang ada, secara sadar, kita (sebagai santri) harus bergerak, memberanikan diri, dan mengambil peran kita sebagai agen intelektual dan spiritual di mana pun berada. Seperti yang telah diungkapkan oleh Gus Baha, mengambil pelajaran dari Al Insan Abdul Ihsan, manusia itu budaknya kebaikan, jangan sampai orang-orang berutang jasa kepada orang-orang yang bermaksiat. Artinya, santri memiliki dasar keilmuan yang kokoh, dan dalam Madrasah Salafiyah III, kita belajar untuk mengolah masalah melalui agama, mengajar, dan menerapkan keilmuan yang kita dapatkan di pesantren ke dalam kehidupan sehari-hari. Dari cerita saya, akhirnya saya mengiyakan ajakan teman saya untuk mengajar tahfiz sekaligus meniatkan diri mengambil peran seraya berharap agar ilmu yang telah saya dapatkan menjadi barokah.

Oleh: Luai Ihsani Fahmi

Photo by Pinterest

Leave a Comment