Pada saat bulan Ramadhan, orang yang berpuasa ataupun yang tidak berpuasa, termasuk diri kita sendiri menjadi lebih konsumtif. Seseorang bisa membelanjakan uangnya dalam jumlah yang sama dengan 2 atau 3 kali makan saat tidak berpuasa, yang artinya pengeluarannya menjadi 2 atau 3 kali lipat daripada biasanya. Seakan ada barang-barang yang wajib dibeli dan harus ada di meja makan selama berbuka dan sahur. Seolah tanpa itu semua, puasa menjadi kurang lengkap. Perilaku orang yang berpuasa sebagai konsumen memang dipengaruhi kuat oleh suasana Ramadhan itu sendiri. 

Apalagi tiba saatnya berbuka puasa, seringkali apa saja yang dihidangkan di meja makan disantap habis layaknya balas dendam setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Bahkan ada pula yang tidak cukup dengan sajian di meja makan, beragam menu takjil dari luar pun dihadirkan demi memuaskan hasrat perutnya. Akibatnya, lambung menjadi penuh atau kekenyangan. Maka tidak sedikit yang dalam menunaikan kewajiban sholat maghrib menjadi “malas” hingga dilakukan di akhir waktu. 

Hal yang demikian merupakan perbuatan isrof (berlebih-lebihan).  Rasulullah pun menganjurkan berbuka puasa supaya tidak berlebihan: “Apabila diantara kalian berpuasa, berbukalah dengan kurma, jika tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air, sebab air itu suci”. (HR Imam Abu Daud, Al-Baihaqi dan Al-Hakim).

Dalam Al-Qur’an surat Al ‘Araf ayat 31, Allah telah berfirman:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

yang artinya: “….makan dan minumlah dan janganlah berlebih–lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. 

Baca juga

Ada konsekuensi yang harus dihadapi jika seseorang terlalu sering makan berlebihan. Ahli Gizi Rumah Sakit Beacon, Tan Lu Think mengatakan bahwa setiap seseorang berpuasa dalam kurun waktu 14 hingga 16 jam sehari, asam lambung yang diproduksi akan berkurang sepanjang hari. Akibatnya, jika orang itu cenderung makan berlebihan saat berbuka puasa, maka hal tersebut dapat memicu produksi asam lambung menjadi lebih besar sehingga menyebabkan gangguan pencernaan, gas, dan perut kembung serta sebgaian orang akan mengalami acid reflux atau biasa dikenal dengan mules.
Ditambah juga akan menyebabkan perut membesar lebih dari biasanya. Pembesaran ini akan cenderung mendorong organ-organ di sekitar perut, sehingga membuat kita merasa tidak nyaman, lelah, mengantuk, bahkan lesu. 

Selain itu, makan berlebihan juga menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak diinginkan dan dapat mengakibatkan diabetes, hipertensi, atau penyakit kardiovaskular lainnya. Ia menyebut, bagi penderita diabetes, makan berlebihan pun dapat meningkatkan peluang mereka untuk memiliki kadar glukosa darah tinggi atau yang biasa disebut hiperglikemia.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik. Agar kita terhindar dari perilaku berlebihan (isrof) ini, beberapa tips yang mugkin dapat mencegah makan berlebihan antara lain: 

  1. Siapkanlah dan konsumsilah makanan dalam jumlah diperlukan.
  2. Saat makan dianjurkan mengunyah secara perlahan.
  3. Gunakanlah piring yang jauh lebih kecil. Sebab, jumlah makanan yang sama akan terlihat lebih banyak saat menggunakan piring yang lebih kecil. Sehingga dapat menipu otak untuk berpikir porsi itu sudah cukup.
  4. Saat sahur disarankan agar makanan tersebut terdiri dari karbohidrat kompleks, seperti biji-bijian, beras merah dan gandum, serta protein, yakni telur, ayam, maupun ikan karena makanan tersebut mampu memberikan energi yang cukup untuk berpuasa sepanjang hari.

Wallohu’lambihshawab.

Oleh: Khusnul Mutohharoh

Photo by Dan Gold on Unsplash

Leave a Comment