Hai kamu di sana, ketahuilah bahwa mimpimu tak ke mana-mana, Tuhan hanya memeluknya lebih lama. Bukan karena cita-citamu terlalu tinggi, mungkin kamu sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Dibiarkan tersesat dahulu sebelum bertemu jalan yang benar, diberikan rasa kerdil dahulu sebelum menjadi sosok yang besar.

Teman-teman seperjuangan mulai unjuk keberhasilan, mengukir diri dengan prestasi dan beragam cerita pencapaian.

Ciut rasanya melihat semua teman yang mulanya bersisian, sekarang mulai mengungguli di barisan depan. Sementara kamu masih di situ-situ saja, berkutat dengan persoalan yang selalu didengungkan orang pada umumnya.

Limbung pada keterpurukan memang tak terelakkan, lihatlah dirimu yang selalu bersembunyi dari keramaian. Hidup adalah pilihan yang berkelanjutan, setiap jengkal waktu yang bergulir kamu dihadapkan pada sebuah keputusan.

Sesederhana memilih antara teh atau kopi di pagi hari, atau serumit memilih ingin berkarir atau sekolah maupun kuliah lagi. Yang terpenting adalah tidak ingkar pada segala kemungkinan dan konsekuensi, baik dan buruk yang akan dilewati.

Kegagalan tak pernah mendefinisikan diri sendiri, ia hanya lecutan di antara dua pilihan apakah berhenti atau mulai lagi. Setidaknya kamu sudah mengarungi perjalanan ini berkali-kali, tentu menjadi semakin mudah bahkan untuk menjalaninya sekali lagi.

Kehidupan bak putaran roda, suatu saat nanti pasti akan di atas juga, hanya sedia bahan bakar dan setia menjaga nyalanya saat redup mendera. 

Ketika semua usaha sudah kamu kejar sampai titik paling lelah dan membuat seakan putus asa, berpasrahlah dengan rela. Karena sekarang yang bekerja adalah kekuatan tak kasat mata, yang hanya bisa dirasakan dengan hati yang tenang dan jiwa yang lega. Apapun hasilnya, terima saja dengan lapang dada, sambut dan peluk dengan suka cita. Semoga esok hari, lusa, dan selanjutnya, mimpi-mimpi semakin bersemi menjadi nyata.

–Qinain Urrofi

Pagi itu aku membaca sebuah tulisan dalam blog seseorang. Sekitar beberapa hari yang lalu kami berkenalan melalui media dalam jaringan. Namun sebetulnya ia sudah mengetahuiku lebih dulu melalui temanku. Setelah cukup akrab, aku putuskan untuk bertemu dengannya dan teman-temanku yang lain di salah satu daerah di Jawa Timur.

Aku cukup lelah akhir-akhir ini, lelah dengan tuntutan sosial dan berbagai pertanyaan yang memberondong entah perihal kelulusan, ngaji, atau bahkan soal pernikahan. Segera aku putuskan untuk mengambil jeda sejenak keluar kota. Mencari semangat baru dan mungkin, seseorang di masa depan.

Tiket segera kupesan dan bertemu teman-teman memang menjadi obat semangat, mereka yang dengan gembira menceritakan pencapaian-pencapaiannya menjadi penyemangatku untuk berlari lebih cepat mengejar impian atau mereka yang dengan mimik sedih menceritakan bertubi-tubi kegagalan menjadi tamparan bagiku bahwa betapa lemahnya aku jika mengeluh terus. Aku pun menumpahkan segala perasaan dan pikiranku saat itu pada temanku dan dia.

“Udah, ceritain aja semuanya. Anggap aja aku ngga liat kamu nangis”

Lega.

Satu kata namun sangat aku butuhkan saat itu.

Ting ting ting…

Ponselku membunyikan notifikasi. Ah, ada pesan dari dia ternyata.

Dalam setiap perjalanan menuju pencapaian, sering sekali muncul berbagai halangan. Kadang kita pun harus melewati momen jatuh bangun yang melelahkan.

Bahkan saat kegigihan sedang ditempa, tak jarang banyak orang yang memandang sebelah mata. Memperciut niat dan impian-impian besar yang ingin diwujudkan segera.

Haruskah merasa tak terima? Tidakkah malah membuat semangat semakin berlipat-lipat kuatnya?

Tidak semua rasa lelah harus disimpan, dan tidak semua kemenangan harus menjadi keangkuhan. Saat ini adalah menjadikan semuanya pelajaran sebagai bekal menjalani kehidupan.

Capaian hebat para pendahulu pernah menjadikan diri semakin terpacu. Meyakinkan diri bahwa tidak ada pilihan lain kecuali melangkah maju.

Mencoba belajar bahwa hidup tidak hanya soal mengejar ambisi, sebab kehidupan selalu memiliki banyak ruang dan sisi.

Tentu saja bukan semata-mata ingin membuat pembuktian. Bagaimanapun, mendapat pengakuan bukan hal utama yang ingin dikedepankan. Lebih dari itu, kepuasan atas perjuangan justru yang paling diinginkan.

Tidak punya kekuatan berarti tamparan, yang justru membuat sadar lalu bangun untuk segera melakukan perbaikan.

Dan ketika kekuatan itu muncul dari dalam diri, bukan hal yang mustahil untuk menggapai apa yang paling diingini.

Maka, terimakasih untuk siapa saja yang pernah menguatkan sesama. Karena hari ini dan seterusnya, kita telah seiya sekata untuk menjadi orang yang luar biasa.

–Qinain Urrofi

Aku memandang keluar jendela kereta, tersenyum dan seraya menutup ponselku. Kini aku lega luar biasa, dalam hati kecil aku merasa ada seseorang yang dapat mengajakku berdiri bahkan mungkin berlari bersamanya. Ternyata gagal bukan akhir segalanya, mungkin saja ini menjadi momen titik balik aku menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Angin menyentuh lembut pipiku, mengibarkan pelan kerudungku. Di depan kursiku, sepasang kakek nenek bercanda tentang apa yang dilihatnya di luar jendela. Hal sederhana dalam perjalanan membuat mereka bersenda gurau berdua. Sesekali mereka tersenyum padaku dan mengajak ngobrol, bersamaan dengan itu ribuan kali aku menyebut namanya bersama Al-Fatihah dalam doaku sepanjang perjalanan kembaliku.

Oleh: Luai Ihsani Fahmi

Photo by ehsan ahmadnejad from Pexels

Leave a Comment