Lantunan takbir telah berkumandang sejak semalam, “mengapa Ramadan secepat ini pergi dan hanya sebulan menemani umat manusia?”. “Ooo tentu saja karena Ramadan ingin meninggalkan pelajaran bagi kita agar tidak menyiakan waktu dalam bermesraan dengan Tuhan dan tidak menyepelekan bulan yang keramat ini dengan keberkahan Alquran di dalamnya.”

Tidak terasa kini kita telah tiba di Bulan Syawal dan Ramadan telah berkemas pergi kemarin. Pertanyaan demi pertanyaan muncul ke dalam diri sendiri. Sudahkah kita mendapat oleh-oleh sebelum kepergiannya? Atau hanya rasa kebahagiaan yang muncul karena Ramadan segera berlalu dan Idul Fitri segera menyambut dengan kue serta baju yang baru?.

Idul Fitri kali ini sungguh sangat berbeda wajahnya, selain karena masa pandemi, kami juga memilih untuk tetap tinggal di pesantren. Jika pada tahun-tahun lalu kami selalu berkumpul bersama keluarga, maka hari ini berbeda ceritanya. Kami sedang menikmatinya pada semesta yang lain dan tentu saja bersama kawan-kawan. Banyak sekali cerita semenjak awal Ramadan berkunjung hingga Idul Fitri mengetuk pintu. Kegiatan Ramadan yang padat selalu merekatkan santri pada tiap episodenya. Ini jadi cerita tersendiri bagi kami. 70 orang yang awalnya tak saling mengenal satu sama lain, kini bisa bercanda karena sering berjumpa. Secara tak sengaja, aku mampu melihat semburat rindu pada wajah kawan-kawanku di sini. Wajahnya berkata ingin pulang ke rumah, namun hatinya menguatkan bahwa di sini akan baik-baik saja.

Pagi pertama di bulan Syawal kami melaksanakan sholat id di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Berjalan kaki menuju masjid cukup efektif mengobati kangen kami pada dunia luar. Faktor pandemi menjadi alasan untuk kami tetap saling menjaga satu sama lain dengan tidak pergi kemanapun dan tetap melakukan segala kegiatan di dalam pesantren. Tentu semua peribadatan sesuai dengan protokol kesehatan, tempat sholat dibuat sedemikian rupa agar semua orang dapat mengikuti sholat id di masjid dan tetap terjaga. Kami bertemu dengan banyak orang dan juga santri lain dari beberapa komplek. Ya, tentu saja ini menjadi obat bagi kami. Kami merasa senasib sepenanggungan.

Selepas usai, kami pulang kembali ke pesantren masing-masing. Kami pulang dengan langkah yang lambat. Kami pikir ini ide yang bagus untuk menikmati pemandangan kiri kanan sepanjang jalanan Krapyak yang lenggang. Jalanan Krapyak serupa milik kita sendiri karena begitu sepi oleh pengendara.

Terimakasih teman-teman yang sudah membersamai di pesantren selama Ramadan hingga Idul Fitri dan nanti. Semoga selalu bahagia selepas Idul Fitri. Minal ‘aidin wal faiziin, Selamat Idul Fitri 1442 H.

Oleh: Alaina Fatha Nabila

Leave a Comment