Sudah sekian purnama sejak munculnya kasus Covid-19 yang menyerang Indonesia, pun sudah sekian purnama pula sejak kita kembali ke rumah masing-masing. Perasaan takut, cemas, khawatir, capek, bosan, dan perasaan-perasaan lain masih hinggap di kepala.

Bagi saya, pandemi ini sangat mengubah seluruh tatanan hidup. Mulai dari bangun tidur, beraktivitas atau hanya rebahan sepanjang hari, sampai tidur lagi—semuanya berubah. Pun dengan kegiatan-kegiatan yang seharusnya berlangsung. Kuliah, KKN, bahkan juga mengaji semuanya menjadi serba daring. Pembiasaan-pembiasaan baru tersebut, tentu tidak mudah. Namun, kegiatan-kegiatan yang dirumahkan ini menyisakan kangen-kangen yang geli, lucu dan ya boleh jadi biasa saja.

Sejatinya, kehidupan normal di pesantren dan di rumah sangat jauh berbeda. Apalagi sekarang terdapat istilah new normal. Apa sih??

Oh, mungkin kalau di rumah new normal adalah normal baru sebagai seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga tanpa suami—ini saya sih, kalau kalian sudah bersuami tentu menjadi tidak lucu lagi istilahnya. Kalau di pesantren bagaimana ya? Untuk informasi lebih lanjut silahkan segera kembali ke pondok, xixixi..

Tapi, selain kuliah, ternyata ngaji online juga dipilih sebagai alternatif belajar di masa pandemi. Ya masa enggak? Kata Pak Jokowi aja, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan (padahal udah berbulan-bulan sampai capek). Ini damai gimana sih? Covid-19 aja gak tau diri sama kita, kok kita malah suruh berdamai. Dilansir dari tirto.id, maksud pernyataan Jokowi adalah bahwa kita harus menyesuaikan dengan kehidupan atau bahasa kerennya the new normal itu tadi.

Berhubung sekarang semuanya serba daring, terdapat beberapa hal yang musti tidak kita lakukan seperti biasanya. Contoh kecil adalah riwehnya berangkat diniyah. Sejak di rumah, tidak ada lagi istilah terburu-buru karena ustaznya sudah rawuh tapi malah kita masih makan. Pun dengan bingungnya mencari seragam. Entah jasnya yang ketingslep, entah rok putihnya hilang, atau malah salah seragam. Kalian pernah nggak?

Saya jadi ingat kalau tiba waktunya memakai seragam batik, pasti bawahnya sarung! Dan lucunya, kadang batik yang dipakai tidak serasi dengan sarung yang dikenakan. Kadang seperti pasar, kadang juga seperti jemuran. Hehe, bercanda.

Pernah nggak kalian berpikir, kok kalau kita berangkat madin bisa bodoamat sama penampilan ya? Entah bajunya yang balapan—sebab hanya didobel seragam—atau jilbab yang letoy, atau rok putih yang sudah tidak lagi putih, atau seragam yang salah, atau ditegur mbak-mbak madin karena baju tidak dikancing, atau tidak memakai jas karena warna kemeja sendiri sama dengan warna jas pondok, atau yang lainnya lagi. Disadari atau tidak, kita tentu seringkali melewatkan hal-hal semacam berpenampilan rapi untuk berangkat diniyah. Padahal kan kasian juga ya ustaz-ustaz yang ngajar kita, masa lihat penampilan kita kucel sekali..

Akan tetapi, meskipun begitu saya yakin,  niatnya tetap menuntut ilmu. Berangkat diniyah dengan kesungguhan—ya walau sering berharap libur—untuk mendapat pengetahuan baru, belajar dan belajar lagi. Diniyah online memang menjadi sesuatu yang baru dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tapi kita pasti bisa melewati semua ini sampai tiba masanya kita berkumpul lagi. Semangat ya, di manapun kalian berada semoga selalu diberi sehat dan hati yang bahagia.

Jangan lupa pakai masker dan tetap patuhi protokol kesehatan ya!

Oleh: Anu’ma Syifaus S.

Foto: Dokumentasi Pribadi Komplek Q

Leave a Comment