Sebut saja dia Rini, dia adalah seorang santri sekaligus mahasiswa tingat akhir di sebuah universitas ternama di Kota Yogyakarta. Hari-hari yang ia jalani harus ia atur waktunya sebaik mungkin, antara waktu untuk di kampus dan di pondok. Pernah suatu ketika  teman-teman kampus mengajak hang out setelah kelas selesai, tapi dia harus mengalahkan egonya karena di saat bersamaan, di pondok ada acara yang harus diikuti oleh semua santri.

Rini biasa mengerjakan skripsinya di perpustakaan kampus karena lebih nyaman dan tenang, selain itu jika dia butuh referensi dia bisa langsung mencarinya. Di saat Rini sedang serius mengetik tiba-tiba ada seseorang yang dengan sengaja menutup laptopnya, dan setelah Rini mendongak ternyata itu adalah sahabatnya, Safa.

“Ihhh rese banget sih kamu saf, orang lagi ngejar deadline nih.” ujar Rini

“Yaelahhh serius amat Bu, aku bete nih habis bimbingan disuruh revisi mulu” kata Safa

“Makanya kamu ngerjainnya yang teliti dong, biar ga revisi mulu, biar nanti kita lulusnya barengan.” kata Rini memberikan sedikit nasehat kepada sahabatnya.

“Iya iya. Eh nanti setelah kamu beres ngetik, anterin aku ke Gremadia yuk ada novel yang mau aku beli nih.”

“Okee siap bos, tapi sebelum itu kita sholat dulu di Maskam yaa”

“Siiiipppp!”

            Kumandang adzan Ashar terdengar, Rini dan Safa bergegas ke masjid untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Setelah salat Rini terkagum-kagum dengan seseorang yang sedang tilawah membaca surah al-Rahman di lantai satu masjid kampus, suaranya sangat menyejukkan dan menenangkan, lantas Rini pun mengintip dari lantai dua.

“Duhhh suaranya adem banget kaya ubin masjid, pengen deh punya suami kaya gitu, bisa dengerin suaranya tiap hari.” ucap Rini dalam hati.

Saat Rini sedang hikmat mendengarkan suaranya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Safa.

“Liat apa sih Rin sampe segitunya?” kata Safa

“Oh gak ada apa-apa kok.” sahut Rini

“ Iya udah yuk kita cus ke Gramedia , keburu hujan nih!”

“Oke Oke”

            Hari-hari Rini semakin padat karena semakin dekat dengan sidang skripsinya. Saat dia hendak menuju kampus guna menyelesaikan administrasi sidangnya, dia merasakan bahwa ban motor yang sedang ia kendarai tidaklah seperti biasanya. Apa jangan-jangan kempes ya? eh, perasaan kemarin udah di pompa. Apa bocor ya? batin Rini dalam hatinya. Karena semakin oleng, Rini pun menepikan motornya. Ternyata memang benar ban motornya kempes. Ah, ini sudah bukan lagi kempes tapi ini memanglah bocor. Dan naasnya ia sekarang berada di jalanan sepi tengah sawah, jauh dari rumah warga dan bahkan tukang tambal ban. Apa boleh buat, ia hanya dapat menghela napas dan mulai menuntun motornya itu.

            Lima menit sudah Rini menuntun motornya dengan perlahan, piluh juga mulai keluar dari pelipisnya yang tertutupi kerudung. Tapi dari belakang ia tahu bahwa ada seseorang yang mengikutinya secara perlahan. Siapa? Batinnya. Ia menoleh ke belakang dan rupanya ada seorang laki-laki yang tengah memakirkan motornya dan berjalan ke arahnya.

“Motornya bocor ya mbk?” ucap laki-laki itu.

perawakannya tinggi dan dia memakai baju yang ada logo universitas sama dengannya. Berati laki-laki itu sekampus dengannya.

“Iya.” ucap Rini disertai anggukan.

“Motornya diparkirin dulu aja. Mbak rumahnya mana?”

‘Saya tinggal di pondok.  Saya juga kuliah di universitas yang logonya ada dibaju masnya itu.”

“Walhamulilah kita sekampus ternyata. Sebentar saya telpon teman saya dulu.”

“Hah? memangnya kenapa ya?’’

“Biar nanti motor mbak saya dan teman saya yang bawa ke bengkel. Terus mbak pakai motor teman saya.”

“Oh terimakasih banyak. Tapi apakah tidak merepotkan kalian berdua?”

“Ah gak papa mbak. Kebetulan rumah teman saya deket sini.” jawab laki laki itu dengan santainya.

Tidak ada 10 menit akhirnya temannya datang. Rini pun memakai motor teman laki laki tersebut. Dan motor miliknya ditangani oleh kedua lelaki itu.

“Sekali lagi terimakasih banyak untuk bantuannya. Nanti kalau sudah tolong hubungi saya ya nanti kita bisa ketemuan. Maaf sudah merepotkan.”

Rini sampai di kampusnya dengan mengendarai motor milik laki-laki tersebut. Rasa kagum padaa laki-laki itu belum juga hilang dari pikirannya. Yudha namanya. Perkenalan singkat mereka berdua sangat mengesankan bagi Rini. Di kampus ia bertemu dengan Safa dan mulai menceritakan kejadian yang ia alami kemarin.

“Eh Rin aku lihat di parkiran, motor yang kamu bawa punya siapa tadi? Emng motor kamu kemana?” Dan dengan antusias Rini menceritkan semua kejadian tadi.

“Wah baiknya mereka berdua, jadi salut deh. O iya kamu udah tau namanya belum?

“ Yudha namanya dan kalo temannya itu aku gak tau,  gak sempat tanya juga. Buru-buru sih.”

“Yudha?” gumam Safa.

“Iya. Aku tau dari baju yang ia pakai, dia anak Fakultas Dakwah sepertinya Saf. Seangkatan sama kita.”

Dengan takjubnya Safa berkata, “Yudha? Fakultas Dakwah? Seangkatan? Emang gk diraguin lagi. Dia emang baik akhlaknya ke semua orang. Dia itu dulu temen SD aku. Kita akrab sampai sekarang juga. Dari dulu aku kagum banget sama Dia. Pintar baik, dan … 

Safapun terus bercerita tentang Yudha pada Rini. Dan Rini pun mulai dapat menyimpulkan bahwa ternyata Safa juga memiliki rasa kagum pada Yudha bahkan rasa itu sepertinya lebih besar dari perasaanya. Rasa kecewa menghampiri Rini. Ternyata mereka berdua memliki rasa yang sama pada laki laki yang sama. Rini mulai mengurangi rasa kagumnya menjadi rasa kagum biasa bukan perasaaan istimewa seperti Safa. Menurutnya ikatan sahabat persaudaraan itu jauh lebih penting dari sekedar perasaan cinta pada lawan jenis semata. Dan urusan hati itu sudah ada garisnya bukan? Hanya kita mencoba berusaha dan menunggu saja, toh hati juga sering berganti-ganti pasangannya.

Oleh: Kamar 6E

Foto oleh freestocks.org dari Pexels

Leave a Comment