Hakikat Nikmat Tertinggi: Keridaan Allah Swt

Posted on 9 views

Maqalah ke-19, Kitab Nasaihul Ibad.

Dari Nabi saw. bersabda:

أربعة في الجنة خير من الجنة

Ada empat hal dari surga yang lebih baik dari surga itu sendiri. Pertama, keabadian di surga lebih baik dari surga itu sendiri. Artinya, panjangnya durasi seseorang tinggal di surga lebih nikmat baginya daripada wujud surga itu sendiri. Jadi, andaikan seseorang hanya satu hari berada di surga pasti tersiksa. Maka, yang membuat seseorang senang yang pertama surga dan yang kedua adalah status abadi. Apalah artinya masuk surga, jika hanya tinggal selama sehari?

Kedua, pelayanan malaikat terhadap penghuni surga. Pelayanan malaikat (terhadap penghuni surga) itu menunjukkan seberapa tinggi derajat dia di surga. Ketiga, bersanding dengan para nabi. Bersanding dengan para nabi di Surga bagi para penduduk Surga itu lebih baik daripada surga itu sendiri. Ketika kita bersanding dengan para nabi, berarti kita berada di kampung para nabi yang artinya merupakan kampungnya orang-orang yang diridai Allah. Berarti, kita termasuk kelompok orang yang diridai Allah, وحسن أولئك رفيقا “dan mereka (para nabi) adalah sebaik-baik teman”. Terakhir, yang paling penting adalah rida Allah. Hal yang paling menyenangkan lagi di surga dibanding surga itu sendiri adalah status kita diridai Allah Swt.

Apa artinya kita di surga tapi durasinya terbatas? Apalagi jika itu hanyalah istidraj. Maka yang paling penting adalah status keabadian di surga. Kita dilayani malaikat, itu bukti bahwa kita orang terhormat. Berteman dengan para nabi, berarti termasuk golongan orang terhormat. Diridai Allah Swt. artinya kita mendapatkan nikmat itu bukan sekadar karena dielukan, tapi merupakan hakikat, yakni ekspresi dari keridaan Allah.

ورضا الله تعالى في الجنة خير من الجنة. و رضوان من الله أكبر

Semua yang ada di dunia dan akhirat yang paling besar ialah rida Allah Swt. “Karena rida Allah ta’ala itu lebih besar dari segala nikmat yang ada. “

Rida Allah bisa kamu gapai jika kamu rida terhadap Allah. Seseorang yang sering cemberut kemungkinannya menjadi seorang wali itu kecil. Bagaimanapun, ia terkesan tadlajjur dan ta’addzi yaitu merasa tidak enak, merasa tidak nyaman terhadap Allah. Gus Baha bercerita, ketika beliau sedang sendiri di dalam kamar dan merasa gatal, kemudian beliau garuk tetapi dengan ekspresi cemberut maka beliau langsung istighfar. Karena beliau khawatir tidak rida terhadap Allah. Makanya, beliau sering menegur kalau ada santri, kiai, teman ataupun alumni yang sowan kepada beliau sambil mengeluh. Beliau mengatakan bahwa bukan kita ini anti kemiskinan, melainkan kita pertama dididik sebagai manusia dan menjadi mukmin yakni wajib rida terhadap baik dan buruknya qada-qadar. Soal nanti kita cemberut itu memang karena watak kita yang suka cemberut. Sedikit-sedikit menggerutu terhadap sesuatu, hal ini harus dilawan dan dilatih oleh diri sendiri agar tidak suka menggerutu. Sebagaimana yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwa rida Allah bisa kita gapai jika kita rida terhadap Allah.

Dalam ceramahnya, Gus Baha bercerita bahwa beliau pernah protes kepada bapaknya satu kali, bukan karena benci tetapi karena merasa janggal dengan bapaknya yang lebih suka berteman dengan orang sombong daripada dengan orang yang sopan tapi suka mengeluh. Setelah semakin lama beliau menjadi seorang kiai, beliau mengatakan bahwa memang berteman dengan orang yang suka mengeluh itu lebih menyiksa dibanding dengan orang sombong. Orang sombong itu enak, misal ketika dia tidak punya uang dan ditanya apakah dia mempunyai uang, ia tetap menjawab ya tentu punya masa tidak punya. Kemudian ketika sakit, sebenarnya dia kesakitan tetapi saat ditanya, ia menjawab bahwa ia masih kuat, ini sombongnya bukan main. Ternyata hal inilah yang membuat bapaknya lebih suka berteman dengan orang yang spmbong, karena orang sombong lebih mudah menerima kehendak Allah dibanding orang suka mengeluh. Bapak Gus Baha dan Mbah Moen banyak berteman dengan orang sombong karena mereka lebih gampang mengekspresikan keridaan terhadap kehendak Allah Swt.

Untuk melawan nafsu kita yang suka menggerutu, Sayyidina Umar memberikan nasihat, yaitu:

إياك والقلق والضجر والتأذي بالناس

“Kamu harus menghindari menggerutu, pahpoh (melongo) dan merasa sakit ketika bertemu manusia”.

Karena kamu merasa sakit itu sebab keangkuhan. Jadi, penting untuk diingat bahwa ridla Allah itu didapatkan dengan kita ridla terhadap Allah. Gus Baha juga mengingatkan untuk jangan pernah menuruti susah, soal terpaksa susah itu karena watak kita sebagai manusia. Tapi, anggap itu sebagai suatu keterpaksaan. Komitmen kita tetap menyukai bumi dan kerajaan Allah, agar Allah berbalik menyukai kita. Jadi, jika kamu mengingat anugerah dan rahmat Allah, berbahagialah. Kebahagiaanmu lebih baik dibanding apa yang didapat orang-orang kafir seluruh dunia.

Sumber            : https://youtu.be/8YDkPFmgnUs

Oleh                : Eka Novitha

Photo by Oleg Magni from Pexels