Malam yang sunyi, jalanan kota yang terlihat sepi, lampu-lampu rumah sudah mulai dimatikan hanya demi mendapat kenyamanan saat tidur. Di sana hanya tersisa satu rumah yang lampunya belum dimatikan, di sana ada seorang remaja sedang berkaca di depan cerminnya, baju seksi yang ia kenakan, riasan yang ia poleskan di wajahnya. Yap! Bekerja di tempat hiburan malamlah pekerjaannya.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan rumahnya, remaja yang bernama Christine itu segera keluar rumah. Seorang pria bernma Jhon yang duduk di balik kemudi membuka kaca dan menyapa Christine mengajaknya masuk ke dalam mobil. Mobil kemudian melaju dengan cepat melewati jalanan yang sepi hingga akhirnya berhenti di depan tempat hiburan malam. Lampu diskonya yang gemerlap dan suara dentuman musik yang menggetarkan jantung. Mereka berdua beranjak keluar dari mobil. Christine yang sudah merasa bosan bekerja seperti ini berhenti di depan pintu masuk. Jhon pun bertanya,

“Christine, why?”

Christine hanya bergeleng dan kemudian masuk dan mulai untuk bekerja. Saat mereka bekerja, tiba-tiba terdengar suara mobil Satpol PP. Petugas Satpol PP pun masuk ke tempat hiburan dan beberapa pekerja berhasil kabur dan yang lainnya tertahan termasuk Christine. Mereka yang berhasil ditangkap akhirnya dibawa ke kantor untuk dimintai keterangan. Dalam posisi tersebut, Christine merasa tidak bersalah dan terus memberontak tetapi petugas tidak menggubrisnya.

Bermalam di dalam jeruji besi membuat Christine sulit tidur karena tidak terbiasa dengan kondisi alas tidur yang keras. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 4 pagi, para petugas mulai membangunkan para tahanan karena sudah masuk waktu sholat subuh. Dan baru kali ini, Christine mendengar suara yang dapat menenangkan hati. Ia pun bertanya pada temannya,

“Itu suara apa?”

“Itu suara adzan,” jawab seorang temannya.

Karena Christine bukan seorang muslim, ia pun bertanya pada temannya apa itu adzan, temannya pun menjelaskan kepada Christine apa itu adzan. Setelah dijelaskan oleh temannya, rasa penasarannya pun semakin besar.

Singkat cerita, 2 bulan kemudian. Christine dan teman-temannya sudah dibebaskan dan memulai kembali kehidupan mereka dengan bebas. Selama tinggal di dalam sel, Christine merasa sangat kagum dan bertanya-tanya tentang agama yang dianut oleh teman-temannya di mana adanya sholat, wudhu, adzan dan lain-lain. Setelah kebebasannya ini Christine berniat untuk mencari tahu lebih dalam tentang agama Islam. ia pun diberi saran oleh teman-temannya untuk mencari seorang ulama atau guru yang dapat membimbingnya dalam mempelajari Islam. Christine pun mengiyakan saran dari temannya untuk pergi ke desa dan mencari guru agama.

Hingga akhirnya ia nekat untuk datang sendiri ke sebuah desa yang masih dekat dengan perkotaan. Sesampainya di sana ia kebinguangan tidak tau harus kemana dan menemui siapa untuk belajar agama Islam. Sambil mencari jalan keluar dan beristirahat, Christine duduk di pinggir jalan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampirinya dan berniat untuk memberkan bantuan. Christine menceritakan tujuan ia datang ke desa.

Akhirnya, laki-laki tadi yang bernama Ahmad bersedia membantunya dan mengajak Christine ke rumahnya. Sesampainya di rumah Ahmad, Christine dikenalkan dengan Abi dan Umi Ahmad. Christine menceritakan kepada orang tua Ahmad tujuannya datang ke desa dan keinginannya untuk belajar agama Islam.

Abi dan Umi Ahmad yang ternyata adalah seorang pemuka agama di desa itu dengan senang hati membantu Christine. Beberapa bulan Christine belajar segala tentang Islam secara lebih dalam membuatnya semakin mantap untuk menjadi seorang mualaf. Pada akhirnya Christine bersedia untuk mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh warga di desa tersebut. Namanya pun berubah menjadi Aisyah dan ia berjanji tidak akan mengulangi pekerjaan buruknya dahulu.

Leave a Comment