Corona, enam huruf yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan. Tidak hanya di negara Indonesia, tapi juga Mancanegara. Tidak hanya di kota-kota besar, tapi juga pelosok-pelosok desa. Tidak terkecuali di desa saya sendiri. Seluruh perbincangan dan pembicaraan tentang corona, selalu bernuansa sedih dan negatif. Meski tidak jarang nuansa itu akhirnya menimbulkan kreatifitas masyarakat. Berbagai meme dan kata-kata lucu bertebaran untuk menjadi hiburan dan pengalihan. Namun, realita bahwa enam huruf ini dalam sekejap mampu memporak-porandakan kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan beragama, tidak bisa kita abaikan dengan mudah. Lihat saja negara kita, sendi kehidupan yang telah dibangun atas nama kehidupan dan keberagamaan terusik dan terancam jatuh tanpa daya.

Belum lagi, tangisan dari para keluarga yang ditinggalkan oleh orang tercintanya karena terinfeksi virus ini. Rakyat kecil juga menderita, terkungkung oleh dilema kebijakan-kebijakan dan tuntutan kehidupan. Di tengah-tengah kesedihan dan keresahan yang kita rasakan, kita masih harus dibebankan dengan sebagian manusia yang kehilangan jiwa kemanusiaannya. Bukannya saling membantu, malah justru mengambil keuntungan untuk memperkaya dan melindungi diri sendiri.

Melihat apa yang sedang terjadi, dan reaksi kesal dan marah tentu menjadi hal yang maklum dan lumrah. Reaksi dan rasa itu pula yang ditunjukkan oleh sebagian masyarakat desa saya. Desa kecil di kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan—dihuni oleh kurang lebih 175 kepala keluarga, dengan seluruh masyarakat yang mencari kehidupan dan bekerja di perkebunan sawit milik negara asing. Ironis, bekerja di negara sendiri tetapi menjadi pesuruh dan pekerja dari negara lain. Sebuah problem lama yang kini tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi sebuah keterbiasaan sehingga bukan lagi menjadi persoalan.

Rasa marah yang kerap hadir dalam diri masyarakat terkadang justru menjadi kekuatan untuk melawan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Khususnya pada kasus Corona. Kemarahan masyarakat desaku justru menjadi senjata yang mampu mempersatukan dan menumbuhkan kepedulian masyakarat. Mereka yang biasanya hanya disibukkan dengan urusan pekerjaan, kini lebih peduli kepada lingkungan sekitar. Area umum yang tidak pernah terjamah, sekarang bersih dari debu dan sampah-sampah. Segala jenis anjuran untuk menjaga kebersihan mulai diindahkan dan dilaksanakan setelah sekian lama hanya menjadi himbauan dan tulisan yang dipajang.

Tanpa mengatakan “Annadhafatu Minal Iman” (kebersihan sebagian dari iman), masyarakat dengan sukarela akan selalu menjaga kebersihan. Bahkan membuang sampah sembarangan, meludah di jalan, dan makan tanpa mencuci tangan kini menjadi hal yang tabu jika dilakukan. Satu hal lagi yang sangat mengejutkan, saat buang gas di tempat umum ternyata lebih diterima daripada bersin dan batuk. Analogi yang sedikit konyol, namun begitulah realita yang saat ini sedang terjadi. Saya juga terkejut saat tidak lagi mendengar orangtua mengeluhkan anak -anak remajanya yang suka keluar malam tanpa bisa dicegah. Tidak juga terdengar takmir masjid yang kerap mengeluh karena sering menemukan botol-botol minuman haram di tanah lapang dekat masjid. Problem lama yang sangat susah diselesaikan perlahan mulai berkurang. Hingga meskipun cemas, ucapan syukur juga terucap dari masyarakat. Menurutmu, apa yang mampu merubah kebiasaan masyarakat kita dalam waktu sekejap? Akan saya jawab, Allah SWT melalui musibah yang ia berikan bernama Corona. Bukankah dalam setiap musibah selalu ada hikmah yang ingin Allah tunjukkan. Segala yang terjadi di muka bumi ini telah ditakdirkan oleh-Nya?
Seperti firman Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 22

(مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِیبَةࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِیۤ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِی كِتَـٰبࣲ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَاۤۚ إِنَّ ذَ ٰ⁠لِكَ عَلَى ٱللَّهِ یَسِیرࣱ)

Maka ketika Allah sudah menggariskan takdir-Nya, kita hanya patut berusaha dan berserah kepada-Nya.

QS. At-Taubah ayat 51

(قُل لَّن یُصِیبَنَاۤ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ)

Barangkali dengan adanya musibah ini, jiwa kemanusiaan yang banyak hilang perlahan akan kembali. Kepedulian sosial yang semakin terabaikan pelan-pelan bisa kita perbaiki. Oleh karena itu, izinkan saya mengucapkan terimakasih Corona, makhluk Allah yang diciptakan dengan sebab dan tujuan. Akhir dari tulisan ini, seorang ibu dalam novel “Selena” karya Tere Liye mengatakan “Hidup ini hanya soal sudut pandang. Digeser sedikit saja cara kita memandangnya, kita bisa mengubah sesuatu yang menyebalkan menjadi hal yang berbeda”.

Oleh: Listriyah

Foto: CDC on Unsplash

Leave a Comment