Sebagai seorang perempuan, memutuskan pilihan merupakan sebuah tantangan. Kerap kali perempuan ditanya, berkarier atau menjadi ibu rumah tangga? Pilihan tersebut membuat perempuan seolah-olah harus memilih salah satu dan mengorbankan pilihan lainnya. Pilihan perempuan berkarier dianggap menyalahi kodrat, sedangkan pilihan menjadi ibu rumah tangga dianggap menghilangkan bakat dan potensi yang ada. Kebimbangan dan penghakiman ini mungkin tidak pernah dialami oleh laki-laki. Kapan kita pernah mendengar seorang pria ditanya, berkarier atau menjadi seorang kepala rumah tangga yang baik? 

Tiap kali perempuan bimbang dalam memutuskan pilihannya, orang-orang dengan mudah mengatakan, perempuan memang ribet. Perempuan bukan lah makhluk yang ribet dan tidak mau ribet. Cara pandang dunia atas perempuan yang membuat perempuan harus bertimbang lebih banyak saat harus memutuskan pilihan. Ketika perempuan tampak bimbang dan ribet, itu hanyalah akibat, bukan pembawaan perempuan. Satu hal yang perlu ditegaskan bahwa perempuan itu selalu multiperan dan semuanya hadir dengan tuntutan. 

Di era teknologi ini, perempuan bekerja dalam berbagai bentuk dan aktivitas. Itu artinya, jumlah perempuan yang bekerja di negeri ini begitu besar. Namun, dukungan yang diberikan kerap kali tidak sepadan dengan kontribusi yang diberikan. Ketika perempuan memutuskan berkarier di luar rumah, faktor-faktor yang dihadapi akan selalu ada dalam bentuk yang bervariasi seperti, tradisi, norma, stereotip, dan hukum positif. 

Secara global ada sekitar 2,7 miliar perempuan yang secara hukum dilarang memiliki pekerjaan yang sama dengan laki-laki. Kalaupun perempuan bekerja, perempuan dibayar lebih rendah dari laki-laki, yaitu 77% dari yang diperoleh laki-laki. Untuk itu, perempuan perlu lebih mendorong lagi kebijakan yang berpihak kepada perempuan. Bukan hanya sekedar untuk menyesuaikan dengan tuntutan zaman, tetapi untuk mengembangkan potensi setiap orang. Bukan hanya mendukung perekonomian, tetapi menjalankan hak asasi yang melekat pada setiap orang. 

Semua itu bukanlah hal yang mudah. Ada tekanan yang timbul. Bukan hanya dari lingkungan masyarakat sekitar, bahkan dari keluarga, pun dari diri perempuan sendiri yang merasa ragu dan memiliki perasaan bersalah. Seorang perempuan tidak perlu diselimuti kekhawatiran dan rasa bersalah ketika berhasil berkarier, menunjukkan karyanya. 

Ibu yang bekerja, berapa pun waktunya, tetap ibu sepenuh waktu, meskipun memiliki lebih banyak tantangan. Namun, hal itu bukan berarti mereka tidak bisa merasakan bahagia ketika melakukan keduanya. Bahagia dan ibu bekerja adalah kata yang selaras maknanya. Menjadi seorang ibu dan terus berkarya merupakan peran yang dipilih untuk saling melengkapi, bukan saling bernegasi. 

Oleh karena itu, perempuan tidak harus memilih jika mereka bisa menjalankan semuanya. Perempuan bisa mendapatkan semuanya tanpa harus mengorbankan salah satunya. Perempuan layak dan berhak melakukan itu semua tanpa harus diliputi kekhawatiran dan celaan dari lingkungan sekitar. 

Keputusan seorang perempuan biasanya didasari atas pertimbangan yang lebih kompleks. Semakin kompleks kondisinya, semakin tidak merdeka seorang perempuan memutuskan pilihan. Dunia tidak hanya berputar pada lingkungan sekitar kita, ada dunia perempuan lain yang serba tertutup dan serba mengekang. Tugas perempuan yang diberkahi cukup kemerdekaan adalah mendorong perempuan lain untuk berani menunjukkan sikap.

Oleh: Novia Purnama S.

Sumber: https://youtu.be/ctjfkk7DyGA

Foto oleh Tatiana Syrikova dari Pexels

Leave a Comment