Mimpi Sang Pejuang

Posted on 36 views

Malam menjelang, ketika seorang gadis desa pelosok yang periang, biasa dipanggil dengan sebutan Ara, sedang menyiapkan air panas untuk menyeduh kopi yang akan diberikan kepada bapaknya. Ara ialah seorang gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah kecil berdindingkan bethek.

Ara merupakan seorang gadis yang tumbuh dari keluarga serba kekurangan namun penuh dengan kehangatan. Walaupun dengan keadaan seadanya namun tetap harmonis. Di sisi lain, Ara mempunyai sebuah mimpi yang belum pernah diungkapkan kepada kedua orang tuanya.

Hingga suatu ketika ibu Ara membaca buku yang berisikan “one thousand of my dream” milik Ara. Kedua orang tua Ara sebenarnya adalah orang tua yang terbuka.

Setelah menemukan buku tersebut, ibu Ara menghampiri Ara dan bapak Ara yang sedang duduk bersantai di teras sambil menikmati suasana malam. Lalu, ibu Ara menanyakan tentang mimpi Ara untuk dapat berkuliah di kampus impiannya yang notabenenya berada di kota.

Namun Ara hanya terdiam. Karena memang Ara menyembunyikannya dari orang tuanya. Sebab Ara takut akan memberatkan orang tuanya dengan mimpinya yang membutuhkan biaya beast dengan keadaan kurang mampu.

Bapak Ara kecewa dengan ketidakterbukaan Ara ke orang tuanya. Lalu, bapak Ara menasehatinya,  “Nduk, kamu itu tidak boleh membatasi diri kamu. Ingat! banyak jalan menuju Roma, dalam artian dalam hal-hal baik kamu harus tetap semangat berjuang sebisa mungkin dan semampu kamu. Begitupun dengan bapak dan ibu akan terus berusaha dan selalu mendoakan untuk kesuksesanmu nak”.

Dari situ, Ara merasa me yes a lot sudah tidak terbuka dalam hal ini dengan orang tuanya. Kini semangat Ara membara. Terpacu setelah mendapatkan nasehat dari bapaknya, dia belajar dengan giat, cari cari informasi tentang kampus impiannya, dan berusaha mencari beasiswa, sampai dia diterima dan belajar dengan sungguh sungguh.

Kini Ara telah lulus dengan nilai cumlaude dengan dihadiri oleh kedua orang tuanya dan untuk kenang-kenangan mereka melakukan pemotretan bersama dengan Ara memakai toga. Betapa bangganya kedua orang tua Ara jika mengingat Ara sempat ingin memendam mimpinya ini dan Alhamdulillah sekarang sudah terwujud. 

Oleh: Hesti Ludla’in Nafwa

Photo by Cristian Escobar on Unsplash