Hari-hari ini kita berada dalam situasi krisis global. Krisis yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Sementara orang menganggap kita tengah dalam situasi perang. Namun lawan kali ini tidak lazim, ia tak kasat mata, bukan lantaran ia makhluk suprarasional, melainkan saking kecilnya.

Ia juga tak laiknya musuh yang berdiri tegap menenteng senjata atau alat peledak lainnya. Namun biar pun begitu, ia tetap memiliki daya mortalitas yang cukup mengkhawatirkan. Makhluk itu bernama covid 19 (corona virus disease). Sebuah virus yang mudah menular, dan ngerinya, orang yang terpapar tidak kesemuannya mengalami gejala atau mengetahui kalau dirinya telah terpapar dan oleh karenanya ia bisa menjadi carrier atau pembawa virus yang bisa menulari orang di sekelilingnya jika ia tak mengisolir dirinya sendiri.

Demi memutus rantai penularan dan persebarannya, maka muncullah seruan social distancing dan belakangan diubah menjadi physical distancing  yang artinya menjauhi segala bentuk kerumunan dan pertemuan fisik jarak dekat. Seruan ini kemudian lazim menjadi tren tagar #dirumahaja. Hal ini sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dari paparan virus tersebut. Namun himbauan ini bukan tanpa sandungan dan aneka resistensi. Alih-alih ikut mendukung seruan pemerintah yang juga ditunjang oleh medis, masih saja ada pihak-pihak yang antipati atau bahkan menggugat seruan tersebut.

Mengutip pendapat Prof Masdar baru-baru ini di kolom Opini Kompas  (4/4/20), alasan yang menjadi batu sandungan dalam seruan physical distancing adalah: anakronisme sosial-budaya dan anakronisme pemahaman keagamaan yang kontraproduktif dengan situasi. Istilah Pertama maksudnya adalah ketidaktepatan meletakkan sikap kumpul-kumpul, bergerombol dan doyan gotongroyong secara fisik dalam situasi semacam ini. Masih ada banyak pihak yang susah menerima kenyataan yang telah mengakar di alam batin mereka bahwa watak berkumpul dan kongkow adalah budaya yang susah mereka jinakkan meski dalam situasi intaian persebaran virus yang massif semacam ini. Secara gamblang mereka abaikan seruan untuk sejenak mengubah kebiasaan berkumpul untuk sementara waktu demi kemaslahatan publik.

Sedangkan istilah kedua mengacu pada ketidaktepatan pemahaman teologi bahwa pandemi semacam ini ialah suratan Ilahi yang tidak perlu ditakuti berlebihan. Sebab hidup dan mati sudah ditulis secara pasti berikut kapan, di mana dan oleh alasan apa. Maka mereka cenderung apriori terhadap diseminasi virus, oleh karena itu, mereka tidak mengindahkan seruan #dirumahaja. Seakan-akan mereka menganggap bahwa manusia tidak dibekali akal, dan segala sumber daya sama sekali untuk ikut “merundingkan” nasibnya. Kedua alasan inilah –yang menurut Prof Masdar Hilmy- menjadi kendala serius dalam usaha memutus persebaran virus covid 19 di tengah-tengah masyarakat kita.

Padahal jika kita mau membuka mata dan hati secara lebih jernih, betapa momentum #dirumahaja semacam ini sungguh bisa kita temukan keteladanannya dari diri Nabi Muhammad SAW, meskipun harus kita kontekstualisasikan wujudnya. Memang Nabi Muhammad tidak pernah berjumpa dengan Covid 19 yang harus membuatnya #dirumahaja. Namun beliau juga pernah melakukan social distancing bahkan physical distancing  kala ‘uzlah di Gua Hira.

Seperti yang telah diberitakan oleh Assyahid Muhammad Said Ramadhan al-Buty, ulama kenamaan asal Siria. Bahwa jiwa akan terjerembab dalam keburukan hingga ia melaksanakan uzlah dan khalwat atau berjarak dan menyepi dari kerumunan manusia lain. Lalu mengisinya dengan muhasabah (instrospeksi) dan muraqabah (mendekatkan diri kepadaNya), serta berkontemplasi tentang alam raya dan keagungan ciptaanNya.

Lebih lanjut, dalam Fiqh Sirrah Nabawiyyah, Syaikh Buty menjelaskan bahwa sifat sombong, ‘ujub, hasud, riya’, cinta dunia adalah sikap-sikap yang dapat membahayakan manusia. Sedangkan obat dari marabahaya tersebut ialah menyepi seraya bertafakkur dan mengakui betapa lemahnya diri kita di hadapan Sang Khaliq. Tanpa pertolongan, anugerah dan hidayahNya, niscaya kita tak mampu meraih petunjukNya dan aneka kenikmatan lainnya. Momentum menjauhi keramaian juga bisa gunakan untuk bertafakkur atas keagunganNya, atas kondisi di hari akhir kelak, juga bagaimana menyeramkannya hari perhitungan amal yang ujungnya ialah luasnya rahmatNya atau dahsyatnya siksaNya.

Hikmah lain dari kita menjauhi keramaian dan tetap #dirumahaja adalah untuk melatih diri kita untuk mahabbah kepadaNya. Sebab kata Syaikh Buty, kecintaan kepadaNya tidak bisa hanya dengan bekal Iman yang berbasis Akal semata. Wasilah mahabbah kepadaNya setelah Iman adalah dengan memperbanyak perenungan tentang segenap kenikmatan dan merasakan gelegar keagunganNya melalui ayat-ayat kauniyah atau kebesaran ciptaaNya dan dengan memperbanyak zikir baik melalui hati dan lisan. Sudah barang tentu ini semua memerlukan kondisi yang hening dan distancing atau jarak dari segala kebisingan duniawi (Ramadhan Buty: 1991, 93).

Hal ini mustinya menjadikan kita sadar, betapun pandemi ini begitu menyiksa kita semua, namun tetap ada hikmah yang mengiringinya. Seruan physical distancing ini patut kita indahkan, setidaknya sekali sumur hidup saja, kita pernah melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi junjungan kita semua. Meski kita tahu, sudah barang tentu kualitas ‘uzlah atau menyepi yang kita lakukan tidaklah sebanding dengan beliau. Namun demikian, ajakan berdiam diri di rumah ini marilah kita jadikan momentum untuk simulasi ‘uzlah kecil-kecilan ala Nabi, ya.. paling tidak kita sebut ‘uzlah di era 4.0. Sebab, -masih mengutip Syaikh Buty – hakikat dan manfaat dari Khalwat atu menyepi adalah obat untuk memperbaiki diri, itu kata beliau. Agaknya saya perlu menambahinya, betapa saat kita lebih banyak berdiam di rumah seperti saat ini, bukan diri kita saja yang bisa kita perbaiki, namun bumi pun bisa kita perbaiki. Semoga!

Oleh: Muhammad Saiful Umam

Sumber: alif.id

Leave a Comment