Dua tahun yang lalu, saya resmi menjadi bagian dalam Organisasi Internasional ini, ya PBB. Entah bagaimana proses detailnya saya juga kurang mengerti. Saat itu, saya hanya mengisi sebuah formulir di internet tentang penasehat Sekretaris Jenderal PBB. Saya tertarik dan saya mengikutinya. Selang beberapa hari, saya mendapat sebuah email dari situs resmi PBB. Tertulis bahwa saya, Anisa lolos tahap pertama seleksi menjadi penasehat Sekretaris Jenderal PBB. Begitu gembira saya membaca pesan ini. Sepercik harapan kemudian muncul diiringi semangat yang membara. “Oke, tinggal tunggu tahap kedua dan ketiga nis!” kata saya dengan optimis.

Selang beberapa minggu, tahap kedua dilaksanakan. Tahap ini lebih terpusat pada pengujian pengetahuan. Ya, ujian tes. Tes ini dilaksanakan secara online berhubungan dengan calon-calonnya dari berbagai penjuru dunia. Aman, saya lolos dari tes ini.

Dua bulan berikutnya, tahap ketiga dilaksanakan. Dalam tahap ini terdapat satu perbedaan dan persamaan dari tahap sebelumnya. Perbedaannnya adalah tahap ini lebih terpusat pada pembawaan lisan kami. Ya, ini adalah tes wawancara. Sedangkan persamaannya adalah tes ini dilaksanakan secara online, lewat videocam. Nyaris saja, saya hampir tidak lolos dalam tahap ini. Meskipun saya telah persiapkan kemungkinan materinya dengan detail dan rajin berlatih lisan, sama saja. Saya tidak bisa melenyapkan kelemahan saya. Setiap manusia pasti punya kelemahan. Dan kelemahan saya adalah perasaan gelisah saya yang susah dikontrol setiap berbicara. Karena itu, saya sangat percaya diri jika itu adalah ujian tertulis atau lainnya. Tetapi jika ujian lisan, saya bukan kurang percaya diri, tetapi sangat tidak percaya diri. Beruntung saat wawancara itu, saya meminta mama saya untuk duduk di belakang saya. Ia akan menepuk pundak saya saat gelisah saya memuncak. Karena itu, saya berhasil lolos dalam tahap ini. Saya sangat gembira.

Berhari-hari saya seperti berada dalam dunia khayalan saya, bagaimana mungkin orang biasa seperti saya bisa menjadi (calon) orang luar biasa? Saya tidak percaya ini terjadi. Tetapi saat teman saya mengetahuinya, ia terus membanjiri saya dengan pujian. Katanya, “Aku percaya kamu jadi penasehat SekJen PBB. Hal itu setimpal dengan semua prestasimu di bidang sosial dan politik. Bahkan kamu juga pernah jadi diplomat. Tentu itu bukan mustahil!”. Jujur, di belakang mama saya selalu terlibat disetiap prestasi yang kuperoleh itu.

Informasi baru, minggu ini saya akan lepas landas. Keberangkatan ini tidak merepotkan saya sedikitpun karena semua biaya dan tiket pesawat telah disiapkan. Hanya masalah kecil dalam urusan baju. Oke, saya siap pergi ke New York.

Awal karir saya di organisasi ini berjalan baik. Bersyukur, tugas yang saya pegang tidak serumit yang saya bayangkan. Tugas saya hanya mendengar pemikiran Sekretaris Jenderal saya dan kemudian saya angkat bicara untuk memberikan opini saya. Lebih tepatnya memberi masukan yang sesuai agar tidak lahir sebuah bencana. Memang, terkadang saya mengalami gelisah akut. Tetapi Sekretaris Jenderal sedikit berbaik hati. Karena itu saya sedikit percaya diri.

Karena sikap Sekretaris Jenderal itu, perlahan saya mulai melupakan kelemahan saya. Tidak, ini bukan perkembangan baik dalam hidup saya. Akibatnya saya over percaya bahwa Sekretaris Jenderal tidak akan memecat saya karena kelemahan saya. Karena itu saya mulai menyepelekan dan sangat santai disetiap konferensi saya dengannya. Sikap ini terus tumbuh hingga mencapai puncaknya, yaitu memberi efek buruk pada jabatan saya. Ya, kehidupan ini adalah sebab-akibat. Begitu kata pepatah dan memang ada benarnya. Sekitar delapan bulan setelah awal karir saya, goncangan dahsyat terjadi. Mungkin itu adalah akibat dari sebab yang saya buat.

Awal goncangan ini adalah sebuah kabar gembira dari Sekretaris Jenderal saya. Ia mempercayai saya untuk  memegang tanggung jawab dalam perekrutan staf baru. Saat itu, saya benar benar gembira karena ini berarti sebuah kemajuan besar dalam kehidupan saya. Ditemani ambisi kuat dan perkembangan buruk saya itu, saya menjalankan tugas ini.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, bersama dengan Sekretaris Jenderal, saya akan merekrut beberapa staf baru. Staf baru ini sebelumnya telah disaring oleh sekretariat PBB. Karena calon staf yang masih terbilang banyak, pembagian kerjapun terjadi. Saya mendapat bagian untuk merekrut lima staf baru yang menurut saya berkompetensi. Sekretaris Jenderal mendapat bagian yang paling banyak karena dia telah berpengalaman. Ya, pengalamannya jauh lebih banyak dari saya.

Seperti ‘biasa’, tugas ini berjalan baik. Karena terlalu ‘biasa’nya tugas ini, saya tidak menyadari bahwa goncangan telah aktif. Selama perekrutan, saya juga memberikan tes yang sama seperti yang SekJen berikan kepada calonnya. Hampir semua dan prosedurnya sama. Dan saya masih tidak menyadari bahwa goncangan telah aktif.

Siang nanti, akan ada pertemuan biasa. Mungkin akan membahas tentang perekrutan staf baru kemarin. Ya, semua hasil keputusan saya telah diserahkan pada SekJen. Setibanya di kantornya, ternyata saya diharuskan memberi pidato pembukaan. Jelas, gelisah akut saya kambuh. Pidato ini gagal total. Semua ucapan saya terputus-putus. Dan boom! goncangan terjadi. SekJen memberi kartu kuning kepada saya, yang artinya waspada.

Sejak mendapat kartu kuning itu, saya mulai mengikuti bimbingan psikologi untuk menghilangkan, ya paling tidak mengurangi kegelisahan saya. Bersyukur saya berkembang baik sedikit demi sedikit. Cukup kartu kuning, saya tidak ingin mendapat kartu merah.

Oleh: Tnn Rayon Q9

Foto: dribbble.com

Leave a Comment