Siang itu cuaca panas di tengah musim UAS, Silla baru pulang dengan wajah sumringah. “Silla, beli baju lagi?” Tanya Dea menyelidik teman kamarnya.

“Hehehe… Iya, mumpung diskon 45% lho, ‘kan lumayan,” jawab Silla santai.

“Lemarimu, lho, udah nggak muat, malah kamu nitip ke lemari Mbak Ashil, hmm..” Kata Dea agak sebal.

“Mbak Ashilnya aja mau, kenapa kamu yang protes?” Jawabnya yang langsung mainan HP.

“Ya mbok kasihan ayah ibumu yang ngirim setiap bulan buat keperluan mondok, bukan malah dihabisin buat keperluan yang nggak penting kayak gitu. Nggih monggo kerso, mpun.” Tampak wajah Dea kecewa.

“Hmm..” Jawab Silla acuh.

Setelah pengaosan kitab Tanwirul Qulub bersama Ustadz Saiful, Dea mengerjakan laporan praktikum dengan teman-teman kamar yang lagi fokus belajar buat ujian besok pagi. Namun, Dea merasa tidak tenang karena melihat Silla yang lagi ditelpon dengan marah- marah, entah suara siapa yang ada di seberang sana. Dea agak mendengar suara Silla yang terlihat marah.

Nggak mau, pokoknya besok. Kalau dua minggu lagi kelamaan. Masa Ayah nggak kasihan sama aku,” kata Silla sambil memelas dengan nada keras. Di sini, Dea baru tahu kalau yang menelpon adalah ayah Silla.

“Ya, ‘kan udah kewajiban Ayah buat memenuhi kebutuhanku di sini. Pokoknya besok, soalnya ada yang harus aku beli, Yah,” lanjut Silla sambil menghentakkan kaki menandakan ia agak jengkel.

“Hore…. Ayah emang baik. Udah ya, Yah, aku tunggu. Assalaamu’alaikum,” tanda telpon telah diputus. Silla baru sadar bahwa dari tadi dia diperhatikan sama Dea. Silla hanya diam ketika masuk kamar dan mengambil buku.

Dea kemudian menghampiri Silla yang duduk di pojok kamar samping lemari bawah jendela.

“Kamu pasti minta kiriman lagi, ya?” Tanya Dea. “Hmm… ya gimana lagi, udah abis.” Jawab Silla santai.

“Lha kamu shopping terus. Padahal, ini masih tanggal 14, tapi udah abis. Hmm…”

“Ayahku aja mau, kenapa kamu ngurus kehidupanku, sih?????” Silla tampak sangat terganggu dengan keberadaan Dea.

“Ya kamu itu jangan hedonisme gitu lah, kita ini di pondok agar belajar hidup sederhana dan apa adanya, bukan malah malakin orang tua. Apa coba yang kamu dapat dari mondok bertahun-tahun tapi kelakuanmu tetap kayak gini. Sekali-kali, pikirkan gimana ayahmu nyari uang buat memenuhin kebutuhanmu itu.” Jelas Dea yang tampaknya tidak didengarkan Silla.

“Udahlah, aku bisa ngatur hidupku sendiri. Atur saja hidupmu jangan ikut urusan orang lain.” Silla semakin melonjak.

“Aku itu temanmu, Sil, bukan orang lain. Kita tiga tahun bersama dan sekamar pula, aku tahu kamu. Aku ingin kamu lebih baik. Ayolah kita belajar hidup bareng-bareng. Aku nggak mau kamu nyesel nanti.” Dea hampir meneteskan air matanya.

“Terserah.” Lalu Silla keluar kamar.

Blaaak…..

“Aaaaw..…Suara teriakan yang nyaring membuat semua penghuni kamar keluar berkerumun.

“Sillaaa, ada apa? Kenapa?”

“Silla….bangun. ”

“Silla…”

Banyak suara yang bersautan dari sana-sini melihat Silla yang tak sadarkan diri. Tak disangka, dia menginjak cairan detergen di depan tempat cuci hingga akhirnya dia terjatuh dan kepalanya terbentur tiang besi di sampingnya, darah mengalir. Serentak, teman-temannya

menggotong ke kamar. Dea berlari mencari kang-kang ndalem untuk mengantar ke rumah sakit terdekat dengan mobil ndalem.

Nduk… bangun.. yuk makan.” Terdengar suara ayahnya yang membuatnya bangun.

“Ayah…” Suara tangis Silla meledak melihat sang ayah di sampingnya seorang diri yang masih memakai baju karyawan pabrik. Memang, Silla adalah putri semata wayang yang tidak memiliki seorang ibu. Ibunya meninggal karena kecelakaan ketika menjemputnya sekolah TK dulu.

“Iya, Nak… Kamu sudah dua hari nggak bangun. Gimana? Sudah baikan belum? Ayah kemarin ditelpon temanmu, Dea. Karena Ayah masih di pabrik jadi Ayah langsung izin ke atasan kalau putri Ayah masuk rumah sakit.” Tatap sang ayah dengan wajah cemas.

“Maaf, Yah.. kayaknya ini balasan buat Silla karena selalu menyusahkan Ayah. Silla sudah menyalahgunakan kepercayaan Ayah. Ayah ingin Silla menjadi anak baik di pondok, tapi nyatanya…” Suara Silla parau sesenggukan.

“Alhamdulillah, kamu masih diberi kesempatan hidup sama Allah, kamu bisa memperbaikinya. Manusia memang tempatnya salah dan dosa,” jawab sang Ayah sambil mengelus kepalanya.

“Iya, Yah..” Silla mengangguk. Dia mulai sadar bahwa dia memang durhaka selama ini. Durhaka telah melupakan usaha sang ayah yang dari pagi sampai tengah malam bekerja demi kebutuhan kuliah dan pondoknya. Durhaka telah memaksa ayahnya menuruti semua permintaannya. Yang sangat disesali adalah, dia tidak merasa bersalah apalagi durhaka karena menyalahgunakan kepercayaan sang ayah. Sang ayah percaya bahwa dia selama ini menjadi anak yang baik di pondok maupun di kampus, tapi nyatanya…..

Tirakatmu menentukan masa depanmu…

Oleh: Badi’atus Solichah

Photo by lauren lulu taylor on Unsplash

Leave a Comment