Pendidikan merupakan bekal utama dalam sebuah kehidupan manusia. Dengan adanya pendidikan, manusia mampu membedakan mana yang baik maupun buruk, mana yang boleh dilakukan mana maupun tidak boleh dilakukan. Sayangnya, sejak dulu hingga sekarang masih terdapat berbagai masalah di masyarakat, seperti berbagai tindakan yang dapat merugikan orang lain bahkan mempermalukan negaranya sendiri. Masalah seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme masih saja terjadi di tengah tingginya pendidikan di Indonesia. Bahkan sering kali orang-orang melakukan tindakan yang tidak merepresentasikan pendidikan yang dijalani selama ini. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Masih banyak yang beranggapan bahwa menyelesaikan suatu jenjang pendidikan berarti telah mendapatkan banyak pengetahuan, baik dalam bidang ilmu duniawi maupun budi pekerti, seperti memiliki karakter yang baik, rasa tanggung jawab, dan menjadi warga negara yang demokratis sesuai dengan tujuan pendidikan di Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. 

Bersekolah tinggi hingga bergelar doktor bahkan profesor tidak ada jaminan dapat mengubah jalan pikiran dan tindakan seseorang. Memang benar adanya, jika sekolah-sekolah di Indonesia mampu mencetak generasi yang semakin pandai secara pengetahuan, namun belum terdidik secara kepribadian. Bukti nyata yang dapat kita ambil ialah banyaknya orang yang bergelar sarjana bahkan profesor yang mendekam dibalik jeruji penjara dan ketika berada di sel penjara mereka mendapatkan fasilitas bak hotel berbintang lima. Lebih mirisnya lagi, ketika mereka terbukti bersalah dan tertangkap, mereka masih bersikap tenang dan mampu senyum terbaiknya dihadapan media dan masyarakat. Seolah mereka tidak merasa bersalah atas tindakan yang telah mereka buat.

Nampaknya pola pendidikan formal di Indonesia memang hanya berfokus dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat orang semakin pintar, namun minim dari segi budi pekerti. Mungkin di sinilah awal banyak orang pandai yang melakukan tindakan memalukan, seperti korupsi.

Baca juga

Mungkin hanya di Indonesia yang tidak mempermasalahkan seorang mantan narapidana korupsi masih bisa dijadikan pemimpin di sebuah instansi. Fenomena ini adalah hal yang memalukan, padahal masih banyak orang yang harusnya diberikan kesempatan.

Pendidikan di Indonesia lebih memandang hasil dibandingkan dengan proses. Oleh karena itu, banyak orang yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan nilai tinggi dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Tidak peduli cara itu baik atau salah yang penting hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Bagi orang yang terbiasa melihat hasil akhirnya saja bukan tidak mungkin mereka akan bersikap acuh dan tidak peduli dengan proses yang digunakannya untuk mendapatkan hasilnya. Di sinilah letak kesalahan sistem pendidikan di negara ini yang perlu direvisi, di mana segala sesuatunya berorientasi kepada hasil tanpa mempedulikan proses. Padahal cara yang ditempuh seharusnya masuk dalam penilaian, apakah cara yang digunakan benar atau salah. Dengan begitu, memperhatikan proses untuk memeperoleh hasil yang diinginkan.

Dampak dari pendidikan yang mengutamakan karakter dan berbasis proses dapat melahirkan pribadi yang pandai dan terdidik, bukan dari segi akademisnya saja, namun juga unggul dari segi moral dan kepribadiannya. Bukan orang pintar yang sok pintar. Jika Indonesia mampu mengubah sistem pendidikannya menjadi seperti ini, maka masalah-masalah krusial, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme akan terkendali dan hilang dengan sendirinya.

Saatnya semua pihak berjuang dan mewujukan Indonesia yang bersih dari korupsi melalui bidang pendidikan. Menciptakan generasi muda yang terdidik bukan hanya pintar. Kepintaran bagaikan tubuh yang komplit, sedangkan tata krama, moral, dan karakter sebagai mata yang bisa mengarahkan menuju sebuah kebaikan.

Oleh: Luluk Shomitah

Photo by NeONBRAND on Unsplash

Sumber:

kompasiana.com

zahrapedia.id

Leave a Comment