Buya Syafi'i

Pandangan Buya Syafi’i terhadap Kesetaraan Gender

Diposting pada 204 views

Ahmad Syafi’i Maarif atau yang biasa disapa Buya Syafi’i adalah seorang ulama dan cendekiawan Indonesia yang lahir di Negeri Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada tanggal 31 Mei 1935. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute.

Pemikiran-pemikiran beliau sangat dahsyat dan dikenal berani menerobos kejumudan banyak aspek seperti sosial, politik, agama, hingga budaya yang berorientasi sempit, fanatisme buta, serta memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Itulah megapa banyak kalangan yang menyandingkan pikiran-pikiran kebangsaan Buya Syafi’i seperti Gus Dur, yakni toleran, pluralis, hingga anti politik identitas akibat kurang lenturnya memahami akar persoalan.

Karakter Buya yang demikian tentu karena jiwa raganya semata-mata mengutamakan keutuhan bangsa. Buya adalah tokoh kelahiran Sumatera Barat yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah yang memiliki corak khusus dalam memberikan kontribusi keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Karena itu, Maarif Institute yang didirikannya adalah pengejawantahan bagaimana sejatinya Buya berperan serta dalam ikut memajukan dan mencerdaskan bangsa.

Dalam konteks politik, Buya secara nyata menghadirkan politik akal sehat, yakni politik yang mesti hadir sesuai falsafah tujuannya yakni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam bidang sosial, agama, dan kebudayaan, Buya sangat tegas berprinsip memadukan ajaran-ajaran Islam yang penuh cinta kasih, melestarikan khazanah budaya nusantara, serta ikut merawat nilai-nilai sosial yang telah lama berkembang dan menjadi identitas kebangsaan dan keindonesiaan kita.

Lantas, bagaimana pandangan Buya untuk urusan kesetaraan gender?

Baca Juga:  Alasan Gus Dur Wajib Menjadi Inspirasi Santri Milenial

Keberpihakan Buya terhadap kesetaraan dan keadilan gender, tidak perlu diragukan lagi. Buku-buku karya beliau menegaskan hal itu. Misalnya, bukunya yang berjudul Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan menegaskan pikiran beliau tentang esensi kesetaraan kedudukan dan hak-hak perempuan dalam Islam. Semua orang mengenal Buya sebagai tokoh nasional yang mengedepankan humanisme dan nasionalisme. Dalam konteks humanisme, pemikiran dan kepedulian Buya terhadap keadilan gender tidak terbantahkan. Bahkan, Buya menggarisbawahi bahwa faktor keluarga dan pendidikan adalah dua hal yang sangat esensial dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Pemikiran Buya mengenai perempuan di dunia politik juga tidak ada yang samar-samar.

Bagi Buya, perempuan memiliki hak yang sama menjadi pemimpin politik, sepanjang kemampuannya prima, bermoral, dan mendapat izin suami. Ini tentu menggembirakan para aktivis perempuan, sebab keberpihakan beliau konsisten dalam mendorong cita-cita luhur bangsa sesuai rel konstitusi. Pikira-pikiran Buya ini terlihat jika menelusuri buku beliau tersebut, serta sebuah otobiografinya berjudul Titik-Titik Kisar di Perjalananku: Autobiografi Ahmad Syafii Maarif. Pikiran dan tulisan-tulisannya memang tidak mengarah pada isu-isu gender secara spesifik, namun secara jelas tersirat bahwa sikapnya yang mendukung perempuan di dunia politik, anti kekerasan terhadap perempuan, juga tidak poligami, menjadi bukti nyata bagaimana memahami sikap Buya secara utuh mengenai gender.

Oleh: Ulfatus Syafa’ah

Sumber: NU Online

Photo by Muhammadiyah.or.id