Seburuk Apapun Diri Kita, Tetaplah Mengharap Syafaat Rasulullah

Diposting pada 28 views

Syafaat dalam Islam merupakan nikmat besar atau anugerah dari Allah untuk umat manusia. Bagi mereka yang tidak merusak penghambaannya dengan syirik dan kekafiran, syafaat dari orang-orang saleh akan bermanfaat bagi mereka. Mengubah keputusasaan menjadi harapan dan menumbuhkan kerinduan akan rahmat Allah SWT di hati kita.

Menurut bahasa syafaat artinya perantara, permohonan, atau pertolongan. Sedangkan menurut istilah syafaat berarti usaha perantaraan untuk memberikan suatu manfaat atau pertolongan bagi orang lain atau menghilangkan sesuatu yang madharat bagi orang lain. Dalam hal ini adalah pertolongan Allah kepada umat Islam di hari kiamat setelah adanya permohonan bantuan oleh Rasulullah SAW, pemegang syafa’at al-‘uzma (syafaat yang agung).

Besarnya perhatian Rasulullah SAW kepada umatnya benar-benar tiada tara dan tak terkira. Sampai-sampai beliau menangguhkan sebagian doanya hingga hari kiamat demi membela dan menyelamatkan kita umatnya, sebagaimana sabda beliau, “Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaa Allah, doa itu akan terwujud,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Seburuk apapun diri kita, sebusuk apapun pribadi kita, asalkan mau mendekat dan mencintai Rasulullah SAW, kita harus tetap berharap mendapat syafaat beliau. Dan syafaat Rasulullah SAW bisa kita dapatkan asalkan kita mau membuktikan cinta kita tersebut.

Baca Juga:  Bagaimana Kita Mencintai Rasulullah?

Mengutip perkataan Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, orang yang mencintai akan manut pada yang dicintainya. Cenderung meniru dan ingin seperti sosok yang ia gandrungi serta rela mengorbankan apa saja demi orang yang ia cintai. Karena itulah dengan cinta pada Rasulullah, lantas orang meneladani perilaku dan akhlak beliau. Jika umat Muhammad meniru Rasulnya, sudah barang tentu akan mendapat syafaatnya di hari kiamat kelak.

“Di akhirat nanti kita akan dikumpulkan dengan siapa yang kita cintai. Maka, sama-sama mencintai, mari kita cintai Rasulullah,” wasiatnya.

Cinta atau mahabbah adalah level keimanan tertinggi di bawah ridho. Artinya, orang yang memiliki cinta pada Nabinya, akan otomatis mencintai tuhannya. Selanjutnya dia bisa meraih ridho dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena bobot keimanan seseorang bisa diukur dari kadar kecintaannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Oleh: Zahrotul Wakhidah

Sumber:

islam.nu.or.id

nu.or.id

Photo by Arun Anoop on Unsplash