Tanganku gemetar, smartphoneku terjatuh dan hancur berkeping. Air mata deras mengalir setelah menerima telepon dari ayah di rumah. Bagaimana tidak? Malaikat yang Tuhan kirimkan untukku, malaikat tanpa sayapku, pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Hari yang ku bayangkan akan menjadi hari terindah di penghujung tahun ini pupuslah sudah. Tak ada lagi dekapan ibu dan kecupannya setelah lilin ulang tahun ku tiup. Tak ada lagi sosok cantik nan anggun penerima potongan kue pertama.

Malam itu, setelah Bima menjemputku di kost yang berjarak tak lebih 3km dari kontrakannya, yang terletak tak jauh dari stasiun Pasar Senen Kota Jakarta Timur, kita bergegas pulang ke rumah di Bogor dengan sepeda motor milik Bima. Air mataku tak kunjung reda, bahkan semakin menjadi di sepanjang jalan. Bima pun tak pernah berhenti menasehatiku untuk bersabar dan ikhlas. Untuk tetap tegar meskipun takdir sungguh menyakitkan.

Bima adalah saudara kembarku. Namun, dalam hal kedewasaan ia selalu menang dariku. Meski ku tahu hatinya hancur berkeping, Bima tak meneteskan air mata sedikitpun atas kepergian ibu. Sosok laki-laki paling tegar yang pernah ku jumpai. Dan ku yakin ini adalah titisan sifat tegar dari almarhumah ibu.

Kepergian ibu yang tiba-tiba sungguh membuatku tak kunjung ikhlas. Aku selalu saja menyalahkan kuasa Tuhan. Mengapa harus ada undangan pernikahan malam hari itu? Mengapa tidak siang saja? Karena undangan itu ibu mengalami kecelakaan tunggal di kubangan yang menyebabkan kematian.

Empat jam perjalanan Jakarta-Bogor tak ku rasakan lelah dan letihnya. Aku segera berlari ke ruang keluarga, tempat dimana canda dan tawa selalu beradu bersama ibu dipenghujung minggu. Kini ia terbaring kaku tanpa nyawa, wajah cantik yang dulu selalu dipuji kini hancur penuh lebam dan luka bekas kecelakaan dahsyat kemarin. Aku tak kuasa menahan tangis saat memandangnya, tangisku kian menjadi dan nafasku semakin sulit.

“Mi, tenangkan dirimu, minumlah dulu,” ucap Bima sembari menopang tubuhku dan memberi minum untukku.

“I..yaa Ma, makasih,” dengan nafas terbata dan ku teguk teh hangat dari Bima.

“Sudah Mi, hapus air matamu, biarkan ibu tenang dikehidupan barunya di sana,” tutur Bima.

“Iya Mi, semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Dia menciptakan skenario yang paling indah. Semangat Nak, jangan larut dalam sedihmu, jangan buat beban untuk ibu.” Tambah ayah

“Tapi kenapa harus secepat ini? Dua hari lagi aku ulang tahun dan Ibu malah pergi meninggalkanku, Tuhan sungguh tak adil Yaahhh.” Teriakku menahan tangis

“Istighfar nak, jika kau terus seperti itu kasihan ibumu, pasti dia sungguh sedih melihatmu seperti ini, apa ibu pernah mengajarkan untuk melawan takdir Tuhan? Menyalahkan kuasa Tuhan? Tidak kan. Ikhlaskan, semua sudah takdir.” sahut ayah.

“Aastaghfirullohal’adzim, iyaa yaah, maafkan Ami, maafkan Ami buu, Ami akan mencoba ikhlas atas kepergian ibu.” ucapku terbata.

Leave a Comment