https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwiWgtGX-_TdAhVXeysKHS80DbkQjxx6BAgBEAI&url=http%3A%2F%2Fwww.pikiran-rakyat.com%2Ffoto%2F2015%2F10%2F19%2F346559%2Fanak-usia-sekolah-ikut-kerja-jadi-pemulung&psig=AOvVaw0LXUBnMb-nGzLVy4hGoLWW&ust=1539023391653267

            Lingkaran matanya semakin hitam, kulitnya kasar tersapu angin yang pula menyibak rambutnya yang kering dan kasar. Kulit jarinya bergaris dan lapisannya keras, memegang lenganku tak pernah ia lepas. Aku sudah berusaha keras melindunginya yang terus tenang dalam gendongan di punggungku. Kakinya botak tak beralas, begitupun aku. Kami terus berjalan menyusuri lorong kampung, menaiki trotoar para pejalan, menyeberangi sungai sembari bernyanyi diatas jembatan. Di punggungku, ia dan karung tempat penyambung kehidupan kami ku sandarkan bersebelahan.

            Dahulu kami berempat. Bapak, aku, Atok adikku, dan kendaraan sederhana kami, gerobak sampah Bapak.

Bapak mengajak kami berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain. Jika bersama Bapak, begini saja kami sudah bahagia. Bapak mendorong gerobak dan kami duduk di dalamnya. Dalam setiap perjalanan, Bapak terus bercerita dan menjelaskan hal-hal yang kami lihat dalam perjalanan kami. Bapak adalah orang yang paling sabar atas pertanyaan kami, rengekan kami untuk beliau, sebagai pengganti kehadiran ibu. Hingga di suatu malam, dalam tidurnya Bapak pergi untuk selamanya, selepas hujan di bulan September. Kami yang mengantarkan beliau mengakhiri dekapan hangatnya di pagi hari. Terbengong-bengong membangunkan beliau yang tak berkutik sedikitpun. Lelaki kecilnya menangis, tak kuasa menahan luapan butiran yang terus menerus ia keluarkan sepanjang hari. Aku sendiri sedih, tapi apa yang aku rasa? Hatiku terasa kosong, mataku kering. Aku tak bisa peluk Bapak lagi? Bapak? Bapak? Bapak?

Setahun berlalu dalam perjalanan kami dan aku-lah Bapak sekaligus Ibu untuk Atok, adikku. Ia sering merengek meminta ini dan itu, terkadang terpaksa aku membentaknya agar ia diam. Aku berusaha memahami bagaimana menjadi yang terbaik bagi Atok, tapi sikapnya berubah sejak Bapak pergi. Ia lebih sering menangis dan meminta sesuatu untuk segera dituruti. Tapi mau pakai apa menuruti keinginannya. Tidak ada orang yang mau mempercayakan sebuah pekerjaan kepada anak seusia SD sepertiku. Dengan keadaan seperti ini, terpaksa kami menggendong karung di punggung kemudian mengambil satu persatu barang bekas atau sampah yang masih dapat terjual untuk menyambung hidup.

Terkadang Atok merengek ingin dibelikan susu ketika melihat anak seumurannya sedang meminum susu pemberian ibunya, tapi daripada itu lebih baik aku belikan nasi untuk keperluan tubuh yang lebih mendesak. Jika ada uang lebih, suatu saat akan kubelikan ia susu. Ada rasa lelah terselip ketika permintaannya bertubi-tubi keluar dari mulut mungilnya. Sedih karena tak sanggup memenuhinya. Ada rasa bersalah yang terus muncul, terlebih ketika ia menangis.

Malam ini hujan turun cukup deras. Kami duduk di pinggiran minimarket, memeluk satu sama lain untuk saling mengahangatkan. Hawa dingin dan percikan tetes air hujan menemani kami sepanjang malam. Sesekali orang-orang yang hendak membeli di mini market ini melihat kami. Sudah tengah malam, pelukan Atok semakin erat. Mungkin dia sangat kedinginan, lebih daripada yang aku rasakan.

“Alhamdulillah, Ayah pulang dari surga.”

Aku terheran-heran melihatnya mengatakan itu. Tiba-tiba seorang pemuda memanggilku dan mengayunkan tangannya memintaku untuk mendekat. Segera kuhampiri dia yang kemudian menyodorkan dua botol susu coklat yang dibawanya dan mengatakan bahwa susu itu untuk kami. Aku senang bukan kepalang. Akhirnya meskipun bukan dari hasil jerih payah kami, Atok dapat minum susu keinginannya sejak lama. Alhamdulillah.

“Terima kasih, Kakak…”

Segera aku berlari menghampiri Atok yang masih tertidur. Aku tak sabar membangunkan dia untuk segera menikmati susu ini. Kugoncangkan tubuh kecilnya berkali-kali. Namun ada yang berbeda sebelum ia kutinggalkan menghampiri pemuda tadi. Kulihat bibirnya begitu pucat, tubuhnya pun dingin sekali. Aku berusaha mengingkari perasaan yang memaksa untuk muncul hingga mendorong keras air di mataku. Detak jantungku seperti berdebar sangat kencang. Perasaan takut seketika menyelimuti tubuhku. Sedetik kemudian, aku paham apa yang sedang terjadi. Tuhan memeluk Atok, bersama dengan Bapak.

Oleh : Luai Lazuardi dan inspirasi dari dua pemulung kecil di manapun berada

Leave a Comment