Sabtu, 13 Oktober 2018 KODAMA (Korp Dakwah Mahasiswa) Krapyak kembali menyelenggarakan LKD (Latihan Kader Dakwah) yang sempat vakum selama beberapa tahun terakhir. LKD kali ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Kali Opak, Piyungan, Bantul dan diikuti oleh hampir 50 peserta. Mayoritas peserta adalah santri Krapyak sendiri, beberapa diantaranya adalah santri putri Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q sebanyak 8 orang. Kedelapan orang tersebut adalah Dewi Habibah, Rokhilatur Rosyidah, Tri Ainun, Ayun, Hana, Nailal, Lia ‘Ala dan Khusnul. Kegiatan ini berada dibawah pengawasan Ustadz Suhadi Chozin yang merupakan salah satu ustadz yang mengajar di Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q.

Kegiatan LKD yang bertema “Intergrasi Pemuda Islam Berbasis Intelektual yang Berakhlakul Karimah” ini berlangsung selama dua hari satu malam. Hari pertama diisi dengan beberapa materi seputar kekodamaan, aswaja, integritas pemuda Indonesia, serta akulturasi budaya dengan agama di Indonesia. Semua materi itu disampaikan oleh pemateri-pemateri pilihan yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaian serta sanad keilmuannya. Pemateri-pemateri tersebut merupakan senior-senior KODAMA yang sekarang sudah sukses. Salah satunya adalah pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak, K.H. Jadul Maula. Kemudian ada Dr. K.H Ahmad Zuhdi Mudhor, Gugun El Guyanie, S.H, dan Bapak Beny Susanto yang saat ini sudah memiliki pondok pesantren dengan jumlah santri ratusan. Pemberian materi ini berlangsung hingga malam hari.

Hari kedua, acara LKD dimeriahkan dengan kegiatan outbond di sebuah lapangan dekat sungai Desa Kali Opak. Para peserta dibentuk menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari putra dan putri. Mereka diharuskan berjalan beberapa kilometer untuk sampai pada lapangan tersebut. Panitia sengaja membuat rute yang melewati kawasan padat penduduk dengan maksud agar para peserta bisa saling bertegur sapa dengan masyarakat sekitar. Setelah itu para peserta diberi game yang harus mereka selesaikan bersama kelompoknya. Kegiatan ini dilakukan guna menambah keakraban antar anggota kelompok.

Usai outbond peserta membersihkan diri kemudian melanjutkan materi lagi hingga sore hari. Materi terakhir adalah tentang metode bedakwah yang disampaikan oleh K.H Henri Soetopo, penulis buku “Catatan Seorang Santri” yang sudah menjalani seperempat abad kehidupannya bersama K.H. Ali Maksum. Bapak Henri Soetopo membagikan beberapa pengalaman tentang dakwah serta tips-tips untuk mengatasi grogi.

 “Demam panggung itu hal yang biasa dan pasti ada, dan itu tidak bisa dihilangkan, tapi bisa diminimalisir. Cara meminimalisirnya ya dengan berlatih. Misal pertemuan pertama, saking grogine, isomu mung ngomong Assalamualaikum…terus kok tutup wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh yo gak opo-opo. Ning kowe ojo mandek belajar, ojo mandek latihan. Wes mesti ngko dituntun karo Gusti Allah .” Begitulah salah satu pesan beliau kepada para peserta LKD 2018.

Di akhir perjumpaan K.H Henri Soetopo memberikan kenang-kenangan buku “ Catatatn Seorang Santri ”  kepada seluruh peserta LKD 2018. Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk apresiasi beliau terhadap seluruh peserta LKD. Beliau memberikan buku tersebut dengan harga semampu para peserta. Seluruh peserta terhihat begitu antusias mendapatkan buku tersebut.

Acara LKD KODAMA 2018 berjalan dengan lancar. Santri komplek Q yang mengikuti kegiatan itu pun bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Acara tersebut kemudian ditutup oleh K.H Suhadi Chozin pada hari Ahad, 14 Oktober 2018 pukul 19.00. Setelah LDK berahir, para peserta akan melakukan Job Training dan ditempatkan di beberapa daerah tertentu untuk melatih keterampilan dakwahnya. (Dehab)

Leave a Comment