Malam Jumat, setelah dibaan, beberapa santri mukim berkumpul di Musala Barat. Berbekal sajian sederhana, berupa camilan kering khas HS dan es sirup jeruk sisa parcel lebaran, cukup menemani canda tawa malam itu.

Kami memang terlibat dalam diskusi santai tentang rencana dan persiapan pemulangan santri ke pondok. Namun, obrolan ini memang tidak begitu serius, banyak candanya, kadang juga diselingi oleh beberapa santri yang nyambi mbakul.

Dalam kesempatan tersebut, selain menyiapkan hal-hal yang dhohir seperti disinfektan, tempat karantina, thermogun, dan lain sebagainya, kita juga perlu menyiapkan hal-hal batin, dalam hal ini yang saya maksud adalah mental dan hati. Kenapa demikian?

Sebagai informasi, santri mukim yang jumlahnya kurang dari 40 santri ini memilih bertahan hidup di pondok dengan berbagai alasan, ada yang karena rumahnya jauh, ada yang karena takut pulang, dan ada yang karena ngaji

Selama hampir 4 bulan kami survive dengan keadaan. Tidak keluar masuk pondok secara bebas. Biasanya kami memenuhi hajat perut dengan menikmati hidangan sekitar Krapyak yang seabrek tersebut, tapi kali ini kami harus memaksakan diri untuk mengelola berbagai bahan makanan—alias memasak—agar layak masuk ke dalam perut.

Selama kurun waktu tersebut, kegiatan tidak terlalu aktif karena memang jumlah santri yang relatif sedikit. Pengajian yang biasanya sehari bisa berkali-kali—ketika Ramadan—kemarin hanya sekali dalam sehari. Tadarus Al-Qur’an juga hanya dilaksanakan sekali ketika bakda magrib, sisanya santri tadarus karena inisiatif sendiri.

Awalnya kami merasa sepi dan sedih—mungkin. Konon, jika penghuni tinggal sedikit seperti ini, akan muncul suara-suara aneh. Benar saja, awal-awal pondok sepi, kami jadi sering mendengar suara-suara yang aneh, seperti suara tukang bangunan di malam hari, ayam berkokok sebelum jam 12 malam, atau asap yang tiba-tiba datang entah dari mana asalnya. Untungnya suara-suara itu berhenti dengan sendirinya ketika Ramadan datang. Mungkin ngajak kenalan, pikir kami, hahaha.

Rasa sepi dan sedih mulai berkurang. Kami jadi begitu menikmati keterbatasan ini. Dalam kondisi seperti ini kami jadi saling berbagi hasil masakan atau kiriman makanan dari keluarga atau teman. Kami juga jadi saling kenal dengan santri dari berbagai kamar—yang tersisa.

Malam Jumat menjadi malam favorit kami. Meskipun tak banyak yang melantunkan salawat Nabi seperti biasanya, tapi rasanya semakin syahdu. Setiap malam ini, kami tertawa melihat tingkah laku teman-teman yang mencoba kemampuannya dalam bidang perhadrohan, padahal sebelumnya mereka tidak pernah memainkannya. Tabuhan asal dan mengandalkan feeling ini jadi enak didengar meski sesekali berisik juga karena alunan tabuh, lagu, dan nadanya tidak pas, hahaha.

Tahun ini menjadi tahun dengan banyak pengalaman berharga. Kami di sini merasakan bagaimana menyiapkan Musala Barat menjadi tempat salat Id. Kami membersihkannya bersama-sama, menjadikan aula serbaguna ini layak untuk dijadikan tempat menyambut hari kemenangan umat Islam tersebut.

Meskipun demikian, saya salut dengan teman-teman yang masih mau ngurip-nguripi pondok dengan piket kebersihan, salawatan, ngaji, dan salat jama’ah. Tidak ada takziran, hanya sedikit paksaan, tapi saya juga melihat ketulusan di sana.

Beberapa kondisi tadi sudah begitu akrab dengan kami selama kurang lebih 4 bulan ini. Hal ini yang kemudian saya ingatkan kepada teman-teman mukim, bahwa mau tidak mau kondisi ini akan berubah seiring dengan kedatangan teman-teman lain dari rumah.

Tentunya, kami berpotensi mengalami semacam culture shock karena bertemu dengan teman-teman di rumah yang menjalani hari-hari dengan kondisi yang berbeda. Di rumah, tentunya terbiasa dengan kebutuhan yang relatif lebih mudah didapatkan daripada di pesantren. Sementara kami, untuk memenuhi kebutuhan dengan belanja online atau jastip. Ya menggunakan jasa teman yang keluar karena suatu kepentingan mendesak. Untungnya di tengah kondisi seperti ini, kami masih bisa merasakan segarnya jus Nova, lezatnya cilok Azahra, enaknya sempol depan gang, dan jajanan lainnya.

Culture shock itu yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Baik bagi santri yang mukim maupun yang baru datang. Keduanya sama-sama beradaptasi dengan keadaan baru, new normal kehidupan dalam pesantren.

Cepat atau lambat, kita semua akan dihadapkan pada masa ini. Kita tidak hanya beradaptasi secara fisik dengan berbagai rutinitas baru, tapi juga beradaptasi secara rasa (dzauq), rasa bertemu dengan manusia yang awalnya sama tetapi dalam beberapa kurun waktu dibedakan oleh keadaan.

Bagaimanapun nanti, tentunya yang harus kita pegang, bahwa santri dapat survive dalam keadaan apapun, bahkan sejarah sudah membuktikannya. Adu domba, bom, dan tembakan penjajah sudah terbukti dapat dikalahkan, bahkan membuat pesantren semakin kuat dan kompak. Tapi memang yang kita hadapi saat ini bukan senjata yang terlihat mata, melainkan virus yang tidak hanya merobohkan fisik seseorang tapi juga meruntuhkan rasa kemanusiaan karena tingginya ego masing-masing.

Semoga kita semua dapat segera berkumpul untuk belajar dan menjadi lebih baik. Waallau ‘alamu bi showab.

Oleh: Hafidhoh Ma’rufah

Leave a Comment