Setiap Jum’at Pon, musala barat PP Al-Munawwir Komplek Q dipenuhi oleh ibu-ibu jamaah pengajian. Di luar musala, beberapa santri berbaris menyambut jamaah yang baru datang. Hari ini, warga, pengasuh, santri, ustadz dan ustadzah berkumpul menjadi satu untuk saling berbagi ilmu di satu majelis yang biasa disebut dengan ‘Pengajian Jumat Pon’.             Sesuai namanya, pengajian ini diadakan

            Tidak dipungkiri lagi bahwa menghafal Al-Quran adalah hal yang luar biasa. Kita dapat menemukan ribuan atau bahkan jutaan umat islam yang hafal Al-Quran. Padahal, kitab ini tergolong besar dan surat-suratnya panjang. Kitab yang tersusun dalam 6.666 ayat, 114 surat, dan 30 juz menurut sebagian ulama ini sangatlah istimewa. Belum ada sebuah kitab,  baik kitab samawi maupun

Kamus al-Munawwir. Siapa yang tak mengenalnya? Kamus legendaris Arab-Indonesia setebal 1591 halaman tersebut menjadi rujukan hampir seluruh santri di Indonesia. Kamus ini bisa dianggap sebagai kamus Arab-Indonesia terlengkap. Sejak diterbitkan tahun 1997, kamus tersebut sudah dicetak sebanyak 22 kali dengan tingkat penjualan dalam setahun mencapai 20.000 eksemplar. Dengan tingkat penjualan sebanyak itu, bisa dikatakan bahwa kamus yang

Gus Hilmi Muhammad berkesempatan mengisi mauidzo hasanah dalam peringatan Haul Almagfurlah K.H. A. Warson Munawwir yang Ke-6. Kepala Madrasah MA Ali Maksum tersebut menyampaikan beberapa cerita mengenai almarhum, dari cara berpakainnya, organisasi, hingga cerita mengenai perjalanan sebuah maha karya, Kamus Al Munawwir yang mendunia. Rabu, 12 Februari 2019 sore sekitar pukul 16.00 mendung mewarnai langit Krapyak. Tepat

Muslih Ilyas atau yang lebih dikenal dengan sapaan Pak Muslih. Beliau merupakan salah satu santri Mbah Warson dan salah satu ustaz yang mengajar di Komplek Q. Beliau mengajar di Komplek Q sejak beberapa tahun setelah Komlek Q berdiri, atas dawuh langsung dari Bapak beliau mengajar di Komplek Q. “Slih, kowe mulang tafsir Jalalain (Sli, kamu mengajar tafsir

“Warson gawe apa Cung? Kowe gawe kamus sing tenanan yo. Ora kena gawe kamus mung elek-elekan. Mbok cetak terus kok dol. Kudu sing apik tenan. Mengko nak ana sing ra ngerti takono aku.” (K.H Ali Maksum) Lahirnya kamus Al-Munawwir merupakan salah satu bukti kemampuan bahasa Arab Kyai Warson yang mumpuni. Hal ini tentu tak lepas dari gemblengan

Beberapa hari sebelum menulis kisah ini, saya dapat pesan lewat Whatsapp dari salah satu warga Halqimuna panitia untuk membuat tulisan bebas tentang Komplek Q, tentu saja dengan seribu satu cerita indah yang menyertainya. Masih kata sang pengirim pesan, hal ini dalam rangka memeriahkan harlah Komplek Q. Dengan modal nekat karena tidak punya pengalaman menulis sedikitpun, saya mengiyakan.

Mendengar wejangan dari ibuk[1] merupakan sebuah moment yang sangat ditunggu – ditunggu. Setelah terpilihnya anggota pengurus yang terbagidalam beberapa divisi melaksanakan tugas wajib yaitu yaitu sowan kepada kepada pengasuh ibu Nyai Hj. Khusnul Khotimah untuk meminta restu dan doa supaya dalam melaksanakan tugas sebagai pengurus dapat amanah dalam berkhidmah. Adapun wejangan dari ibuk untuk segenap pengurus yaitu

Berdirinya PP Al Munawwir Komplek Q pada tahun 1989 tidak bisa lepas dari peran para santri putra yang mengaji langsung kepada K.H. A. Warson. Satu di antara santri tersebut adalah Ustaz Suhadi Chozin. Pada tahun 1983, lelaki asal Blitar tersebut hijrah ke Krapyak, tepatnya di Komplek L. Sebelum Komplek Q berdiri, Bapak—sapaan akrab para santri kepada K.H.

  • 1
  • 2