Rindu ini terlalu membelenggu Saat ku rasa  hari-hariku mulai sendu Sepasang bola mataku nampak sayu Hatiku  terasa begitu pilu Hingga kutertegun dalam lamunan palsu Rindu ini memang candu Bahkan tak pernah memandang waktu Ketika terlintas dalam benakku pikiran halu Tentang putar balik masa laluku saat perjumpaan denganmu, Sungguh aku merasa

Jejak punggung ringkih itu kembali datang. Merapal mimpi aksara terhajar hilang dan malang. Tak ada yang lebih tandus, selain setelah ia pulang. Di koyak sunyi kalut bukan kepalang. Terbungkuk nya mencari alang-alang. Dua kambing piaraanya harus makan. Urat menyerit di balut legamnya kulit. Tak ada yang lebih sulit, selain setelah

Bagaimana jika ternyata, apa yang kukira bincang hanyalah racau yang tertahan, sebatas lisan يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون Memaksa menyelam lebih dalam namun tetap tertahan diantara ruas kerongkongan وقال الرسول يارب إن قومي اتخذوا هذا القرآن مَهْجُورًا Menyisakan mantra tercekat, mengayun anggar pada isyarat, terancam