tiga helai

Tiga Helai Rambut dan Dua Bersaudara

Diposting pada 103 views

Terdapat suatu kisah dari golongan pedagang yang kaya raya dan memiliki dua orang anak. Ketika ajal tiba, sang pedagang telah berwasiat kepada kedua anaknya untuk membagi rata harta warisan yang ia tinggalkan beserta dengan tiga helai rambut Rasulullah saw. Kemudian kedua anak membagi rata harta warisan sesuai dengan permintaan ayahnya sebelum meninggal termasuk tiga helai rambut Rasulullah.

Rambut tersebut ada tiga helai, maka untuk mencapai keadilan akan ada pemotongan sehelai rambut menjadi dua. Ketika anak pertama hendak memotong rambut tersebut, sontak anak kedua menolak dan memintanya untuk memberikan rambut itu kepadanya. Kemudian anak yang pertama mengatakan bahwa ia akan memberikan kedua helai rambut tersebut dengan syarat harta bagian anak kedua secara keseluruhan diambil alih olehnya.

Baca juga Habib Novel Alaydrus, Kemuliaan Bulan Rajab

Anak kedua sangat gembira dan bersedia menyerahkan seluruh harta bagiannya kepada sang kakak. Dengan perasaan gembira, anak kedua ini selalu membawa ketiga helai rambut itu di sakunya. Hampir setiap waktu ia mengingat dan mengeluarkannya dari saku senantiasa dengan sholawat kepada Nabi Muhammad saw.

Tak lama dari kejadian tersebut anak kedua ini perasaannya terseliputi tentram bahagia dalam hidupnya. Ia juga mendapat kemudahan dan kelapangan dalam pintu rezeki sehingga ia menjadi orang yang kaya raya dan dermawan. Lain halnya dengan anak pertama, karena sifat tamaknya dan kecintaannya pada dunia, malah justru ia mendapat pintu rezeki yang sempit sehingga harta warisan pemberian ayahnya kian semakin habis.

Kemudian anak nomor dua meninggal dunia dan dikebumikan di dusun tempat ia tinggal. Di dusun tersebut terdapat seorang ulama yang sangat sholih. Ulama tersebut bermimpi bertemu Rasulullah dan mengatakan bahwa jika menginginkan doanya Allah terima, maka hendaklah ia berdoa di dekat makam tempat anak kedua tadi.

Baca Juga:  Apakah Khusyuk Sebagai Barometer Diterimanya Salat?
Baca juga Rindu yang Belum Tersampaikan

Ulama tersebut bertanya mengapa demikian. Kemudian Rasulullah menjawab bahwa anak tersebut selalu bersholawat dan juga menjunjung tinggi Nabi maka Allah menerima amal anak kedua tersebut lantaran ia selalu bersholawat.

Maka pelajaran yang dapat kita petik dari kisah ini adalah apabila Allah telah menerima amal-amal baik seseorang, maka penerimaan tersebut juga akan meluas pada orang-orang di sekitarnya. Hal ini serupa dengan Allah terima ibadahnya seluruh orang yang beribadah dalam sholat jamaah. Dengan berjamaah maka saling menyempurnakan satu sama lain, sehingga apabila ada seorang yang Allah terima ibadahnya, maka seluruh jamaah yang mengikuti turut Allah terima ibadahnya.

Oleh: Khusnul Amalia

Sumber: kitab Irsyadul Ibad

Photo by Nick Fewings on Unsplash